Komunitas Ini Jagoan Baca Prasasti Lho!

foto
Komunitas Kalyana Mitra di Malang belajar membaca prasasti. Foto: Cendananews.com.

Buat yang tertarik dengan candi-candi dan misteri di balik prasasti, bergabung dengan komunitas yang satu itu bisa jadi pilihan menarik. Komunitas Kalyana Mitra disebut bisa membuat anggota komunitasnya bisa membaca prasasti.

Faizatun Nisa, mahasiswa semester empat Prodi Sejarah Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Malang (UM) termasuk anggota baru di komunitas Kalyana Mitra. Ia bergabung karena tertarik pada sejarah Jawa kuno. Komunitas ini secara formal berada di bawah FIS UM.

“Alasan khususnya ikut bergabung karena minat ke sejarah kuno, khususnya Jawa Kuno yang dianggap aneh. Tapi saya merasa itu ingin tahu lebih banyak,” jelas mahasiswa asal Bojonegoro seperti dikutip SuryaMalang, Minggu (5/3).

Menurut dia, dari hasil bergabung, ia sedikit bisa membaca prasasti dengan aksara Jawa kuno ketika berada di patirtan Jolotundo di Kabupaten Pasuruan, yang membicarakan soal Udayana, Raja Bali. “Senangnya disitu bisa membaca prasasti,” kata Nisa.

Kalyana Mitra atau teman baik adalah sebuah kelompok belajar bersama dan diskusi tentang sejarah Jawa kuno. Sebagai penanggungjawabnya adalah Kepala Lab Sejarah UM, Denny Uudo Wahyudi.

Menurut Rendy Aditya PE, anggota lain, kegiatan berkumpulnya setiap Kamis pukul 15.00 WIB. Selain diskusi, biasanya juga ada field trip. “Anggotanya masih mahasiswa sejarah UM. Monggo kalau yang lain berminat,” kata Rendy, mahasiswa semester delapan ini.

Selain itu, komunitas juga sosialisasi ke sekolah-sekolah hingga memandu kegiatan ke candi-candi. Seperti ke Candi Jawi, Candi Kidal, Singosari, Badut dan Sumberawan serta museum Empu Purwa. “Ini bentuk pengabdian dan tidak ada tarifnya,” kata dia ketika ditanya soal honor misalkan jadi guide. Jumlah anggota komunitas ini sekitar 39 orang.

Berdirinya dimulai pada pada 2015. Menurut dia, ia khawatir dengan generasi sekarang. “Terutama ketertarikan pada Jawa kuno. Bukan sekedar aksara tapi juga budaya, tradisi khususnya sejarahnya,” katanya.

Karena itu diperlukan kegiatan yang bersifat edukasi agar anak muda tertarik dengan sejarah Jawa kuno. Untuk menjadi anggotanya, biasanya ada proses rekrutmen. “Yang baru biasanya diberi materi sendiri dari nol,” paparnya.

Ketika ditanya suka dukanya menjadi guide saat field trip, ia merasakan banyak sukanya. “Biasanya kalau bawa anak-anak SD terlihat antusiame mereka. Misalkan ada 40 anak, separuhnya biasanya antusias,” kata dia.

Namun dukanya juga ada. Ini terjadi ketika dalam sehari, banyak situs yang harus dikunjungi. Hasilnya, siswa pada siang hari sudah lelah. Ketika dijelaskan juga sudah nggak mudheng (gak ngerti),” ceritanya.

Menurut Rendy, peninggalan sejarah berupa candi di Malang sekitarnya menarik untuk didatangi. Sehingga akan bermanfaat menambah pengetahuan. Masing-masing memiliki kekhasan. (sak)

Add Comment