Sucipto: Penjaga Tradisi Barong Suku Using

foto
Sucipto, generasi keenam penjaga tradisi Barong Suku Using. Foto: Merdeka.com.

Dibawah kepemimpinannya Barong Kemiren mulai dikenal dunia internasional. Apalagi Pemkab Banyuwangi getol mempromosikan pariwisata. Barong Kemiren pernah pentas di di Frankrut Jerman pada 2015 dan Belanda pada 2012. Bahkan rumah Sucipto, juga sempat menjadi tempat pembuatan video clip penyanyi jazz, Syahrani.

Mayoritas semua orang kenal Sucipto. Bahkan rumah Sucipto di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah ini telah biasa didatangi tamu-tamu penting Banyuwangi, termasuk Duta Besar AS untuk Indonesia. Rumah Sucipto bergaya khas rumah Osing. Pelatarannya luas, dengan kayu sebagai bahan dasar rumahnya. Rumah itu bisa dipindahkan layaknya rumah Osing pada umumnya.

Rumah ini selalu menjadi jujukan apabila ada tamu Banyuwangi yang ingin mengetahui atau mempelajari kebudayaan kbupaten berjuluk Sunrise of Java tersebut. “Saya lahir di rumah ini,” kata Sucipto kepada TribuneNews.com.

Siapa sebenarnya Sucipto? Mengapa sosoknya begitu penting di kebudayaan Kemiren dan Banyuwangi? Melihat bapak dua anak itu, tidak menyangka apabila dia adalah orang penting. Sucipto terlihat biasa saja. Bahkan banyak orang yang datang ke rumahnya untuk pijat.

Saat bertandang ke rumah Sucipto, dia mengenakan pakaian biasa saja. Mengenakan kemeja, dan celana hitam yang penuh kantung. Apabila ada tamu, biasanya ditempatkan di pelataran samping rumahnya. Kopi dan pecel ayam menjadi suguhannya. Apabila lagi musim, durian juga disuguhkan. Kemiren itu sendiri konon berasal dari kata ‘kemiri’ dan ‘duren’.

Menjadi juru kunci Barong, tidaklah sembarang orang. Tidak ada pungutan suara, bukan pula melalui voting. Melainkan dari wangsit yang muncul secara tiba-tiba. Setiap juru kunci merasakan hal itu. Mereka adalah orang pilihan yang dipilih secara spesial kadang tak masuk akal.

Sucipto mulai belajar Barong sejak bocah. Ketika usianya 9 tahun, dirinya mengaku dilarang ibunya belajar barong: “Cip, jangan main barong, tidak bagus,” begitu kata ibunya suatu hari.

Malam berselang dan ibunya sakit, tangannya tak dapat ditekuk, matanya berangsur buta. Sang ayah telah membawa ibunya berobat ke Jember, lima kali. Tiga ekor sapi ludes untuk biaya, tapi sang ibu tak kunjung sembuh.

Saat itulah Sucipto kecil berdoa kepada Buyut Culi, agar ibunya diberi kesembuhan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Ketika berdoa, jatuh sebuah bunga di depannya. Sucipto merendam bunga ini dengan air, dan dibasuhkan ke ibunya, termasuk matanya. Ibunya pun sembuh. Mulai saat itulah Sucipto tekun belajar tentang Barong, nguri-uri budaya Using melalui Barong.

Sucipto terpilih di usia 23 tahun. Sucipto masih ingat betul, saat itu Kamis malam. Di depan pintu rumahnya tiba-tiba muncul anak panah berwarna hijau. Saat itu, Sucipto tak berani keluar karena takut. Lama kelamaan, anak panah itu berubah menjadi cahaya mirip cahaya bulan. Sucipto kian takut bahkan menggigil. Dia tidak berani membuka pintu.

“Saya sangat ketakutan dan menggigil. Saya tidak tahu itu apa,” kata pria kelahiran 28 Agustus 1963 tersebut. Tidak berapa lama, datang Pak Safii, juru kunci generasi kelima ke rumah Sucipto. Dia langsung mengucapkan selamat pada Sucipto. “Sejak itulah saya menjadi generasi keenam,” kata suami Holilah itu.

Di bawah kepemimpinan Sucipto, Barong Kemiren kini terus berkembang. Sucipto melakukan regenerasi pada Barong Kemiren. Jika selama lima generasi hanya ada satu, yakni Tresno Budoyo, Sucipto membentuk dua generasi baru, Sapujagat dan Sawung Alit.

Tresno Budoyo diisi oleh pemain-pemain tua yang berusia 35 tahun ke atas. Saat ini terdapat 40 orang. Sedangkan Sapujagat juga dikenal dengan Barong Lancing (pemuda) yang berisi pemain berusia 20-30 tahun. Terdapat 45 orang di Sapujagat.

Sedangkan Sawung Alit merupakan Barong yang diisi pemain-pemain anak-anak dan remaja. Mereka masih duduk di bangku SMP. “Ini untuk regenerasi agar Barong Kemiren tidak punah. Karena Barong Kemiren, harus dimainkan oleh orang Kemiren asli,” kata pria yang tidak sampai lulus SMP itu.

Kini nama Barong Kemiren telah banyak dikenal, dan sering melakukan pementasan. Namun bukan berarti itu membuat Sucipto kaya raya. Uang yang didapat dari pementasan hanya cukup dibagikan pada pemain dan biaya operasional.

Bahkan Sucipto sering mengeluarkan dana pribadi untuk acara-acara adat di Kemiren. Seperti selamatan Ider Bumi, di hari lebaran kedua. Senin dan Jumat pertama pada bulan haji.

Bahkan untuk menggapai cita-citanya, membangun sanggar Barong Kemiren, Sucipto masih belum sanggup. Selama ini, tempat latihan Barong Kemiren, selalu di rumah juru kunci. Belum ada sanggar tetap yang bisa digunakan untuk melestarikan Barong Kemiren. “Satu cita-cita saya yang belum terwujud. Membangun sanggar,” kata Sucipto.

Sarat Petuah Hidup
Barong Kemiren, merupakan kesenian kuno yang dibuat pada Abad XVI. Kesenian adat Kemiren, yang juga disebut Barong Using atau Osing. Barong Kemiren yang dibuat Mbah Sapuah oleh atas petunjuk gaib Mbah Buyut Cili, pendiri Desa Kemiren, itu mengandung filosofi hidup.

“Nama barong, berarti bareng-bareng (bersama-sama) melestarikan budaya. Mulut menganga bermakna; barong tidak boleh serakah. Jika butuh makan, harus bekerja keras untuk masa depan rumah tanggamu,” terang Sucipto seperti dikutip Merdeka.com.

Barong Kemiren juga memiliki dua sayap, yaitu sayap laki-laki dan perempuan. “Makna dari dua sayap barong, jika kamu hendak kemana-mana (terbang), silakan. Suka-suka saja. Asal jangan malas, bekerjalah meski sudah kaya-raya, seperti yang dimaknakan pada mulut barong yang menganga,” kata bapak dua anak ini.

Keling atau lekukan pada topi barong dengan kepala garuda menghadap ke belakang. “Ini sebagai pengingat. Barong harus ingat bahaya dibelakang. Meski ada wanita cantik menggoda, barong harus ileng (keling) atau waspada. Barong harus selalu tepo seliro, kalau kata orang Kemiren,” sambung Sucipto.

Ada simbol angsang di kepala barong artinya, punya pikiran jangan merangsang. Kalau ada tetangga memiliki apa-apa (kaya) jangan pernah iri dengki. “Merasalah bahagia, karena esok kamu bakal mendapat apa yang kamu inginkan,” jelasnya.

Di kepala barong, juga terdapat mahkota mirip kubah masjid. Kata Pendiri Sanggar Barong Sapu Jagat ini, mahkota barong sebagai simbol keislaman barong. “Kalau keislaman itu dirangkum dengan segala perbuatan, semua akan tunduk pada pikiran, pada budi pekerti baik, yang semuanya bermuara pada Yang Maha Kuasa. Jika semua digabungkan, putihlah seperti tanda warna kain yang dikenakan barong.”

Barong Kemiren juga memiliki rumbai-rumbai yang diibaratkan sebagai keluarga besar. Jika semua keluarga bersatu, maka akan kuat. ?Kemudian ada rumbai-rumbai yang mengibaratkan anak-cucu, menantu, orang tua, canggah, kalau bersatu akan kuat. Ada kebersamaan seperti warna kain putih dikenakan Barong.

“Di kemiren, siapa yang datang harus diramahi, harus disambut dan dilayani dengan baik. Siapa yang datang ke kita, kalau berbuat jahat, biarlah kejahatan itu Tuhan yang akan membalasnya. Inilah makna wujud keseluruhan Barong Kemiren,” terang Sucipto. (ist)

Add Comment