Aksara Jawa Kuno, Warisan Budaya Nonbenda

foto
Workshop tentang aksara Jawa kuno di Kediri oleh Kojakun Sutasoma. Foto: Beritajatim.com.

Komunitas Jawa Kuno (Kojakun) Sutasoma Kediri, Jawa Timur, mengajak pemuda mau lebih mendalami aksara Jawa kuno, sebagai bekal membaca beragam naskah dan tulisan kuno.

“Dalam aksara Jawa Kuno banyak makna filosofi, simbol yang hanya diketahui oleh kalangan asli Jawa sendiri,” kata Ketua Kojakun Sutasoma Kediri Aang Pambudi Nugroho di Kediri, Sabtu (25/3).

Pihaknya juga sengaja mengadakan workshop tentang aksara Jawa ini di basement Simpang Lima Gumul (SLG) Kabupaten Kediri. Kegiatan ini dilakukan dalam rangkaian Hari Jadi Kabupaten Kediri ke-1213. Harapannya, masyarakat akan tertarik dan mau belajar serta memahami tentang aksara Jawa.

Ia menyebut, aksara Jawa sangat penting, misalnya untuk membaca beragam tulisan di prasasti maupun serat, sebab tanpa memahami tentang aksara Jawa, sangat sulit bisa membaca naskah kuno.

Ia pun mencontohkan, di Kabupaten Kediri ada Prasasti Lusem, yang terletak di Kecamatan Semen serta Prasasti Harinjing yang menjadi cikal bakal Kabupaten Kediri, dimana sesuai dengan isi prasasti penanggalan 25 Maret, diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Kediri. Jika tanpa bisa membaca aksara Jawa kuno, sulit memahami isi dari prasasti itu.

Pihaknya menyebut, banyak masyarakat tidak memahami aksara Jawa kuno. Salah satunya terbukti dalam workshop, dimana peserta sedikit sekali yang bisa membaca tulisan aksara Jawa kuno tersebut. Selain itu, para peserta juga banyak yang sulit membedakan aksara Jawa kuno dengan aksara Jawa modern.

Padahal, aksara ini, merupakan salah satu warisan budaya nonbenda. Ia khawatir jika hal itu diabaikan, justru Indonesia bisa kehilangan sumber daya manusia (SDM) untuk membaca sejarah. Di sejumlah negara lain, misalnya India dan Thailand, pemerintah juga sangat memperhatikan serta terus mengembangkan aksara lokal mereka.

“Takutnya, kalau ada penelitian sejarah kita kekurangan SDM. Lalu, ada prasasti diteliti oleh peneliti asing. Saya prihatin, orang asing belajar aksara Jawa Kuno, sementara kita sendiri gak bisa,” ujarnya seperti dikutip Antara.

Walaupun banyak yang tidak memahami aksara Jawa kuno, ia mengapresiasi masih ada komunitas lain yang peduli untuk pelestarian budaya jawa tersebut,

Saat ini, sudah mulai bermunculan warga serta komunitas lain yang berupaya mengembangkan aksara Jawa. Bahkan, upaya itu sudah dibuat dalam sistem yang lebih canggih, dalam format digital. “Saat ini, ada digitalisasi font aksara Jawa Kuno yang dilakukan oleh mahasiswa asal Jakarta namanya Aditya Bayu,” ujarnya.

Ia berharap, dengan kegiatan seperti yang dilakukan oleh komunitasnya ini bisa semakin meningkatkan partisipasi masyarakat, terutama para pemuda untuk mau semakin belajar dan memahami tentang aksara Jawa.

Sementara Plt Kabid Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri Eko Priyatno mendukung acara ini. “Kami mendukung acara ini. Di Kediri, banyak prasasti ditemukan. Kediri juga terkenal dengan cerita Panji, yang diserat dalam aksara Kuno Jawa,” katanya.

Pihaknya juga mengadakan pameran naskah kuno yang berhubungan dengan Panji, yang diserat dalam aksara Jawa kuno dan bali. Masyarakat bisa mengetahui langsung dengan melihat pameran tersebut. (ist)

Add Comment