Kembangkan Budaya Jawa, Bedah Mocopat

foto
Tembang Mocopat kerap dilantumkan saat pagelaran wayang kulit. Foto: Kampoengilmu.com.

Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (LHK) Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur mengadakan Bedah Mocopat dengan pembicara Drs RM Toto Widhiarto, hal itu dilakukan dalam rangka mempelajari, memahami serta mempertahankan dan mengembangkan Kebudayaan Jawa di RTH Tandjungpuri.

Acara dihadiri sekitar 50 peserta yang terdiri dari paguyuban Jenggala Manik, Donowarih (Kaliandra Sejati – Pandaan), PLKJ serta dari beberapa Paguyuban lainnya. Adapun dalam acara tersebut dibahas tentang sejarah munculnya Mocopat.

Berdasarkan Serat Tembang Smoro Dahono pengarang Mpu Wiratmojo, jadilah Asmorondono pada era jaman Jenggolo sekitar tahun 1019 yaitu tentang puisi percintaan Panji Inukertopati dan Dyah Ayu Sekartaji.

Dari angka tahun yang tertera maka diperkirakan ada di Jaman Kerajaan Jenggala di Sidoarjo (sekarang). Pada masa Mojopahit ada serat kakawin tahun 1334, Kidung Mocopat dengan nama Kidung Ronggolawe.

Mocopat sendiri terdiri dari beberapa bagian, yaitu Mas Kumambang tentang alam roh / dalam kandungan, Mijil tentang kelahiran, Kinanti tentang anak kecil, Sinom tentang anak muda, Asmoro Dono tentang remaja, Dandang Gulo tentang kehidupan manusia susah dan senang, Pangkur bisa membedakan aura negatif ataupun positif, Gambuh tentang mencari jadi diri, Durmo Dermawan tentang tidak memikirkan harta lagi, Megatruh tentang memisahkan roh dan raga, Pucung tentang saat meninggal.

Dr Bahrul Amik, Kepala Dinas LHK Sidoarjo berharap acara itu dapat menjunjung tinggi pada budaya serta dapat memakai RTH Tandjungpuri bagi para budayawan, seniman serta semua masyarakat, sehingga Sidoarjo lebih humanis dan berbudaya.

“Dan tempat ini bisa menjadi salah satu sentra kajian budaya, agar proses pengenalan budaya kepada generasi muda lebih mengena, serta pemakaian fasilitas di RTH Tandjungpuri tidak dikenakan biaya sama sekali,” harapnya.

Hal ini juga diharapkan Drs. Suwarno, Sekertaris dari Paguyuban Budaya Jawi Jenggala Manik bahwa RTH Tandjungpuri adalah tempat yang sesuai untuk mengenalkan kebudayaan Jawa kepada generasi muda. “Saya berharap agar ada kegiatan yang lebih lanjut di tempat ini, karena tempat ini cocok untuk mengenalkan budaya jawa kepada generasi muda,” tukasnya. (ist)

Add Comment