Ceng Beng, Tradisi Unjuk Bakti pada Leluhur

foto
Ceng Beng, tradisi masyarakat Tionghoa untuk unjuk bakti pada Leluhur. Foto: Jawapos.com.

Ada bakti yang tak boleh putus. Yakni, bakti kepada para leluhur. Spirit itulah yang terasa dalam momen menjelang peringatan ceng beng atau qing ming jie. Tahun ini, prosesi ziarah ke makam leluhur untuk warga Tionghoa itu berpuncak pada 5 April. Tapi, ziarah makam boleh dilakukan sejak dua pekan sebelumnya.

Ceng beng diambil dari bahasa Hokkian yang berarti bersih-bersih makam. Momen itu juga disebut hari arwah atau hari ziarah. ”Ziarah boleh dilakukan sebelum 5 April. Tapi, tak boleh setelahnya,” ucap Ketua Harian Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia Jawa Timur (PSMTI) Handjojo Limono seperti dikutip jawapos.com.

Tradisi tersebut berlangsung secara turun-temurun. Menurut Handjojo, tradisi itu bermula pada masa pemerintahan Kaisar Zhu Yuan Zhang yang hidup pada 1271–1368. Dia meninggalkan orang tuanya untuk pergi berperang. Namun, ketika kembali, orang tuanya sudah meninggal dan tak diketahui makamnya.

Oleh karena itu, sang kaisar memerintah rakyatnya untuk membersihkan makam dan menaruh kertas kuning di atasnya. Dari sana, dia bisa melihat beberapa makam yang tidak dikunjungi. Kemudian, sang kaisar beranggapan bahwa makam tersebut adalah milik orang tuanya.

Kini, menyesuaikan libur dan senggang, makam ramai dikunjungi pada akhir pekan. Jumlah dan ragam seserahan yang dibawa oleh keluarga tidak dibatasi. ”Biasanya, kalau kepercayaan Konghucu bawa hio, ayam tim, kertas-kertas, dan lain-lain. Kalau yang Kristen atau Katolik, ya berdoa saja. Bawa bunga juga boleh,” terang Handjojo.

Karena itu, Minggu (2/3) terasa betul deretan mobil memadati jalan masuk TPU Kembang Kuning, Kecamatan Sawahan. Sejak pukul 07.00, ratusan peziarah datang. Antrean menurun saat siang, pukul 11.00–14.00, dan kembali ramai pukul 15.00.

Sebagian besar peziarah datang berombongan. Baik memakai mobil pribadi, menyewa angkutan umum, atau sepeda motor. Para peziarah membawa berbagai perlengkapan yang dipercaya sebagai kebutuhan leluhur di alam berikutnya.

Tengok saja rombongan keluarga besar Soetjianto yang datang dengan empat mobil. ”Saya ke sini bersama anak dan cucu. Semoga besuk mereka juga melakukan hal yang sama untuk menjaga tradisi,” ucap Rosalia Soetjianto.

Perempuan 59 tahun tersebut berkunjung ke pusara ayah dan ibunya bersama sanak saudara. Rombongan keluarga juga datang dari luar kota, yakni Blitar, Kediri, dan Jakarta.

Sesampainya di depan makam, putra ketiga mendiang Soetjianto, Thomas Soetjianto, langsung menyiapkan persembahan yang akan dibakar. Sementara itu, anggota keluarga yang lain membersihkan makam dan rerumputan di sekitarnya.

”Ini bawaan kami komplet. Pokoknya, apa yang disukai almarhum semasa masih hidup,” papar Thomas sambil menunjukkan beberapa bawaannya.

Dia dan keluarga membawa replika uang dolar, sepatu, tas, paspor, kosmetik, jam tangan, kosmetik, baju, HP, perak, dan emas. Dia membeli semua perlengkapan ziarah di daerah Jagalan.

Setelah membersihkan makam dan menabur bunga, semua perlengkapan untuk leluhur dibakar di lahan kosong samping makam. ”Menurut kepercayaan kami, ini cara untuk mengirim segala perlengkapan ke sana,” jelas Rosalia sambil menunjuk ke langit.

Kemeriahan juga terasa di Kelenteng Sanggar Agung, Kenjeran. Sejak pukul 06.00, warga Tionghoa datang bersama keluarga besarnya. Di bagian belakang kelenteng, terlihat peziarah menebarkan bunga ke laut.

Ada mawar, melati, dan kenanga. Wangi sekali. Lilin-lilin berjajar rapi di antara berbagai jenis makanan dan buah-buahan. Itulah yang akan dikirim untuk leluhur ke alam lain.

Memang tidak ada aturan atau prosesi baku dalam penziarahan tersebut. Sebab, itu adalah tradisi masyarakat. ”Ceng beng tidak terikat pada agama karena ini merupakan tradisi warga Tionghoa,” ujar Romo Sakya, rohaniwan dari Vihara Budayana Putat Gede.

Keluarga Tobeng Koesnodiharjo, misalnya, yang membawa dua miniatur kapal layar berisi uang kertas yang dibentuk seperti teratai. Ada pula emas batangan dari kertas. Dua kapal itu lantas dibawa ke tengah laut untuk dibakar dan dilarung. (ist/jawapos)

Add Comment