Sosok Buyut Cili Dibalik ‘Barong Ider Bumi’

foto
Warga menyantap ayam dan nasi yang dijadikan sesaji pada kunjungan di makam Buyut Cili. Foto: Tikarmedia.or.id

Tak salah ‘menitik’ Banyuwangi sebagai Kabupaten yang menyimpan potensi wisata alam dan seni budaya. Salah satu andalan yang cukup menarik hadirnya masyarakat asli Banyuwangi yang biasa disebut suku Using atau kadang juga ditulis Osing.

Masyarakat Using menampati desa Wisata Budaya Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Desa Using ini berjarak 6 km ke arah utara kota Banyuwangi. Desa kecil di kaki bukit pegunungan Ijen dengan ketinggian 144 mdpL ini memiliki udara cukup sejuk (22-26 derajat Celcius).

Saat memasuki desa ini, ada sambutan gerbang desa melintang di atas jalanan bertulis “Kawasan Desa Wisata Adat Using Kemiren”. Desa Kemiren ini konon lahir pada 1830-an. Semula desa ini masih berupa hamparan sawah milik penduduk Using di desa Cungking (5 km arah timur desa Kemiren). Kemudian karena beberapa alasan, sebagian penduduk desa Cungking pindah ke desa Kemiren hingga sekarang.

Menurut Sutrisno, salah satu tokoh desa Kemiren, penduduk disini hampir 100% masih keturunan suku Using dan masih memegang teguh adat istiadat yang ada. Satu sifat masyarakat Using adalah terbuka atau egaliter. Bahasa yang dipakai tanpa ada tingkatan bahasa (misal Kromo Inggil dan Ngoko dalam bahasa Jawa).

“Kami memperlakukan semua masyarakat setara, namun tetap memakai etika sopan santun. Orang Using cukup ramah dalam menyambut setiap tamu yang berkunjung ke desa kami,” ujar Sutrisno seperti dikutip MalangUpdate.com.

Laskar Majapahit
Profesor Leckerkerker, peneliti Belanda (1923:1031) menulis Suku Using yang berdiam di desa Kemiren ini merupakan laskar Majapahit yang ‘menyingkir’ tatkala mendapati kerajaannya mulai runtuh (tahun 1478 M). Dengan kekalahan itu, masyarakat dan laskar Majapahit melakukan eksodus ke berbagai arah, akibat tekanan kerajaan Demak.

Mereka yang melakukan eksodus sebagian menetap di Gunung Bromo (sebagai suku Tengger), menetap di Pulau Bali (sebagai suku Bali) dan sebagian lagi menetap di Blambangan (sebagai suku Using) yang menetap di beberapa desa: desa Kemiren, Olehsari, Mangir dll.

Namun dalam literatur Belada Pegeaud (Scholte,1972) dikatakan bahwa suku Using adalah penduduk asli Banyuwangi, sisa laskar kerajaan Blambangan yang menyingkir akibat perang Puputan Bayu (1771-1772) melawan kolonial Belanda dibawah pimpinan Raden Mas Rempeg atau Pangeran Jagapati.

Sebagai penduduk asli Banyuwangi, suku Using di Kemiren memiliki banyak budaya dan upacara. Ritual yang sering dilakukan masyarakatnya hingga hari ini antara lain Upacara Sedekah Bumi, Upacara Sedekah Penampan, Upacara Kupatan, Upacara Barong Ider Bumi, Upacara Tumpeng Sewu, Upacara Rebo Wekasan (selamatan untuk air).

Ada Upacara Adeg-adeg Tandur, Upacara Mecuti Pari (mencambuk saat padi mulai berisi), Selamatan Pari (saat padi mulai dipanen), Selamatan Sapi (dilakukan usai waktu membajak), Selamatan Kebonan, Selamatan Jenang Sumsum, Selamatan Syuraaan, Selamatan Nduduk Lemah, Selamatan Suwunan, Selamatan Ngebangi Umah dan masih banyak lagi.

Bila ditilik dari seni budaya yang ada maka bisa disebutkan Tari Gandrung, Tari Kuntulan, Tari Barong, Gedhogan, Mocoan Lontar Yusuf, Burdah, Jaran Kencak, Kiling, Angklung Pajak, Angklung Caruk, Angklung Tetek, Kenthulitan, Seni Ukir, seni arsitekturan (rumah adat Using), batik Gajah Uling dll.

Barong Ider Bumi
Salah satu seni budaya dan upacara suku Using di Kemiren yang menarik adalah upacara adat “Barong Ider Bumi”. Ritual unik ini terasa magis dalam pelaksanaannya. Acara ini selalu dilaksanakan pada hari kedua Idul Fitri atau tanggal 2 Syawal.

Tradisi ini dalam masyarakat suku Jawa dimaknai kurang lebih sebagai upacara “Bersih Desa”, yang juga dilaksanakan setiap tahun menurut hari jadi desanya masing-masing. Upacara Barong Ider Bumi dan Upacara Bersih Desa sama-sama dimaknai sebagai ucapan syukur atas hasil panen yang berlimpah serta keselamatan masyarakat desa selama tahun yang silam. Selain itu juga memohon berkah keselamatan untuk tahun mendatang.

Barong Kemiren ini tampil spesifik, Barong ini diwarnai merah, hijau, kuning, putih dan hitam yang menyimpan arti simbolisasi khusus. Barong Kemiren memiliki wujud unik. Barong ini memiliki sayap berjumlah empat dengan mahkota dan jamang di bagian kepalanya. Kesan sepintas yang muncul adanya pengaruh budaya Islam (“Buroq” ) kuda berkepala manusia dan bersayap, menjadi tunggangan kanjeng Nabi ketika naik ke Surga.

Jamang bundar besar warna merah mengesankan gada “Besi kuning” pusaka Minak Jingga, raja Blambangan dalam kisah pertunjukkan Ketoprak, Prabuloro dan janger Blambangan (Banyuwangi). Tafsir ini muncul setelah mempelajari sifat atau karakter masyarakat suku Using dengan ciri budaya Using yang sinkretis, yakni dapat menerima dan menyerap budaya masyarakat lain untuk diproduksi kembali menjadi budaya Using, tulis Heru SP Saputra dalam buku “Memuja Mantra” terbitan LKIS Jogja 2007.

Sesuai aturan bakunya, acara ritual “Barong Ider Bumi” ini harus tepat dimulai pada pukul 14.00 WIB. Pemilihan waktu ini (jam 2 siang) memiliki arti filosofis yang diyakini suku Using secara turun-temurun. Menurut mereka, angka 2 adalah angka yang disuka oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Angka 2 menyiratkan berbagai hal dan anasir kehidupan. Sebagai contoh, Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan, menciptakan siang dan malam, menciptakan benar dan salah, menciptakan suka dan duka dan banyak lagi yang sifatnya berpasang-pasangan.

Bagi “lare (orang) Using”, mereka dilarang memulai acara diluar jam 14.00 WIB tersebut, karena apabila pantangan itu dilanggar, diyakini akibatnya akan mendatangkan petaka bagi masyarakat dan desanya.

Ritual “Barong Ider Bumi” dibuka dengan tarian Gandrung anak-anak kemudian dilanjutkan tari “Jaranan Bhuto” khas Blambangan. Jaranan Bhuto ini ditampilkan berdelapan orang. Dengan dandanan serupa raksasa, wajah bertaring nampak garang namun tetap artistik. Rambut menjuntai panjang sebahu ditutup mahkota warna emas.

Usai acara jaranan Buto inilah grup “Barong” mulai diiderkan (diarak) ke sepanjang jalanan desa sejauh 3 km, dengan diiringi musik yang meriah, berirama rancak. Arak-arakan Barong ini dilantuni bacaan mocopatan dan bakaran dupa oleh para sesepuh dan diikuti masyarakat umum dengan suka cita.

Berjalan paling depan dalam ritual Barong Ider Bumi adalah sesepuh desa yang bertugas “Sembur Othik-othik” (melempar sesaji berupa beras kuning dicampur bunga dan uang koin recehan) sejumlah 99.900.

Alasan memilih bilangan tersebut karena Allah ditafsirkan suka pada angka ganjil, dan angka 99 merujuk pada Asmaul Husna, Allah yang Maha Suci. Upacara “Sembur Othik-othik” ini ditujukan kepada masyarakat penonton yang berada di sepanjang kiri kanan jalan. Ritual yang disebut Lukiran oleh masyarakat Using ini dimaksudkan sebagai ‘sembur rejeki’ dan berkah keselamatan bagi masyarakat.

Usai “Barong Ider Bumi” dinyatakan selesai, maka sampailah pada puncak acara yakni selamatan bersama masyarakat sepanjang jalan desa dengan sajian “Tumpeng Pecel Pitik”, yaitu nasi putih yang gurih dengan urap ayam bakar bumbu kelapa.

Menurut Sutrisno acara “Barong Ider Bumi” ini selalu diadakan setiap tahun pada hari kedua Idul Fitri. Tradisi ini wajib dilaksanakan sebagai rasa syukur atas hasil panen dan keselamatan selama setahun yang lewat.

Selain itu juga dimohonkan menjaga keselamatan di tahun berikutnya. Tradisi ini sangat ditunggu-tunggu masyarakat dan sudah dilaksanakan secara turun-temurun sejak ratusan tahun lalu. ”Acara yang sakral ini berakhir dengan sukses dan meriah sebelum tabuh Magrib,” katanya.

Buyut Cili
Tinjauan secara mitologi, “Barong Ider Bumi” ini konon diawali ratusan tahun lalu. Keberadaan Barong Kemiren ini tak bisa dilepaskan dengan keberadaan Buyut Cili. Danyang desa yang menjadi punden desa Kemiren dan Olehsari. Masyarakat Using percaya bahwa Buyut Cili adalah orang sakti Majapahit yang beragama Hindu.

Dalam mitosnya, beliau sesungguhnya adalah pelarian dari kerajaan Macan Putih, sambungan kerajaan Blambangan dan Majapahit. Hal ini sesuai namanya “Cili” yang dalam bahasa Using berarti “pelarian”. Ikhwal kisah, Buyut Cili adalah pendeta Hindu-Budha.

Beliau bersama sang istri terpaksa melarikan diri dari kerajaan Macan Putih, sebab sang Raja yang bengis itu juga seorang kanibalis. Sang raja hendak merebut sang istri untuk dimakan. Karena Buyut Cili tidak bermaksud bertentangan, maka beliau memilih menyingkirkan diri sampai akhirnya tiba di desa Kemiren. Namun versi lain mengisahkan bahwa Buyut Cili menyingkir ke desa Kemiren ini akibat tekanan kerajaan Demak.

Babak selanjutnya, dikisahkan suatu hari desa Kemiren terserang wabah penyakit mengerikan. Banyak orang sakit pagi, sore harinya meninggal. Selain itu juga datangnya musim “pagebluk” berkepanjangan, membuat persawahan diserang hama dan gagal panen.

Melihat hal demikian, Buyut Cili segera memohon petunjuk Sang Maha Agung. Dan dalam petunjukNya, masyarakat desa Kemiren diminta segera menggelar ritual selamatan desa bersama-sama dengan menu Tumpeng Pecel Ayam Bakar bumbu kelapa.

Selain itu diingatkan pula sebelum melakukan selamatan, hendaknya terlebih dahulu menggelar arak-arakan Barong untuk menolak bencana (Tolak Bala). Konon Barong yang dipercaya sebagai binatang mistis itu menjadi peliharaan Buyut Cili.

Tak jauh dari jalan utama desa, terdapat petilasan Buyut Cili pada areal kebun. Sampai sekarang petilasan Buyut Cili masih dikeramatkan dan didatangi pengunjung, terutama malam Jumat dan Minggu sore sambil mengadakan selamatan Tumpeng Pecel Ayam Urap Kelapa. (ist)

Add Comment