Seniman Aksi Teatrikal di Eks Balong Bunder

foto
Prihatin kondisi situs di Trowulan, Dewan Kesenian Jatim melakukan aksi teatrikal. Foto: Beritajatim.com.

Dewan Kesenian Jawa Timur menggelar aksi teatrikal di bekas Balong Bunder yang terletak 250 meter di sebelah selatan Kolam Segaran, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Aksi tersebut digelar sebagai bentuk keprihatinan terhadap sejumlah situs yang ada di Trowulan.

Teatrikal tersebut hanya dilakukan dua orang seniman. Satu orang seniman berdoa, sementara satu orang seniman lainnya mematung sambil bawa manequin (boneka pajangan) dengan wajah dilaburi bunga pacar berwarna merah. Tak hanya memakai pacar berwarna merah di wajahnya, ia juga memakai kain putih.

Warna merah sendiri diartikan simbol yang diperumpamakan sebagai darah perjuangan masyarakat untuk mempertahankan tanah air. Keduanya berjalan, seniman yang menggunakan pacar berwarna merah di wajah dan kain putih berjalan di depan, sementara satu orang seniman berdoa di belakang hanya memakai sarung dan telanjang dada.

Keduanya berjalan dari Balong Bunder yang menjadi kontroversi karena merupakan situs namun diuruk pihak Desa Trowulan yang berencana hendak dibangun sebagai parkiran dan pusat kuliner menuju Kolam Segaran. Tak hanya diam, mereka juga minta para pengunjung Kolam Segaran ikut melaburi wajah salah satu seniman.

Ketua Dewan Kesenian Jatim, Taufik Hidayat mengatakan, teatrikan tersebut simbol sebagai ikut merasakan kegetiran berjuang dengan tumpah darah. “Karena beberapa situs di Trowulan ada yang digali dan dijual batu bata kunonya dan ada juga situs yang justru diuruk untuk kepentingan lainnya,” ungkapnya, Minggu (9/4) lalu seperti dikutip Beritajatim.com.

Masih kata Taufik, DKM Jatim prihatin dengan kondisi situs yang ada. Banyaknya informasi terkait penyalahgunaan situs untuk kepentingan pribadi tersebut membuat DKM Jatim harus turun langsung melihat kondisi yang ada. Ternyata informasi yang bereda di media sosial (medsos) tersebut benar adanya.

“Informasi di medsos ada situs yang digali dan dijual batu bata kunonya hingga habis, ada juga yang diuruk. Kita turun untuk melihat langsung apakah sudah ada upaya dari pemerintah daerah, jika tidak kita akan sampaikan ke Dirjen dan Kementrian untuk mengambarkan jika benar disini ada situs yang diuruk dan ada juga situs yang bata-batanya diambil,” katanya. (bj)

Add Comment