Memahami Hasta Brata di Wahyu Makutharama (2)

foto
Hasta Brata dalam lakon Wahyu Makutharama. Foto: ist.

Hasta Brata ini berasal dari delapan wejangan Begawan Kesawasidhi yang diberikan kepada Arjuna, dalam kisah pewayangan dengan lakon Wahyu Makutharama.

Hasta Brata seperti ditulis Dr Suyanto SKar MA, dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta di websitenya http://suyanto.dosen.isi-ska.ac.id, berupa delapan ajaran yang mentauladani watak alam. Berikut lanjutannya:

5. Watak Kisma (Bumi)
Bumi adalah tempat berpijak semua makhluk yang ada di atasnya, manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, bahkan segala sumber kekayaan alam.

Meski bumi diinjak-injak manusia setiap hari, dicangkul petani, bahkan digali, dikeduk, diambil hasil tambangnya, bumi tak pernah mengeluh. Bumi selalu memberi kebahagiaan kepada semua makhluk yang menempatinya.

Tumbuhan dapat tumbuh subur dan berkembang biak karena kesuburan bumi, bahkan segala kebutuhan manusia dan makhluk-makhluk lainnya telah tersedia di bumi ini.

Bumi menerima sinar matahari dan jatuhnya air hujan, mengakibatkan segala macam tumbuhan tumbuh subur, dan semua itu untuk memenuhi kebutuhan manusia dan semua makhluk yang membutuhkannya.

Bumi tidak pernah meminta imbalan apapun kepada manusia ataupun makhluk-makhluk lain yang memanfaatkan jasanya. Meskipun demikian, bukan berarti manusia sebagai makhluk berpikir bebas berbuat apa saja asal terpenuhi kebutuhannya, dengan tanpa memperhitungkan kelestarian bumi.

Perlunya memahami watak bumi tidak sekedar mentauladani secara simbolik, akan tetapi manusia perlu memahami watak-watak bumi ini agar dapat mengerti bagaimana mensikapi dan memperlakukan bumi ini agar selalu terjaga keseimbangan dan keserasian dalam hidup bersama secara tertib dan damai.

Dengan demikian manusia akan terhindar dari terjadinya berbagai bencana di bumi yang merupakan akibat dari perbuatan manusia sendiri.

6. Watak Dahana (Api)
Api merupakan salah satu anasir alam yang memiliki daya panas. Energi api dapat digunakan untuk melebur apa saja, bergantung yang memanfaatkan.

Jika api itu dimanfaatkan secara positif, membuahkan hasil positif pula. Misalnya, api digunakan untuk membakar besi hingga meleleh, besi dijadikan pisau, atau pun peralatan pertanian, berguna untuk mengolah tanah, bercocok tanam.

Api digunakan untuk memasak bahan makanan, menghasilkan masakan yang menjadi sehat untuk dimakan. Api digunakan untuk melehkan logam mulia, menghasilkan perhiasan, dan sebagainya.

Sebaliknya bila digunakan untuk hal-hal negatif, kemungkinan akan merusak dan merugikan kehidupan ini. Api untuk membakar rumah, membakar hutan, membakar pasar, dan sebagainya, jelas hal itu berakibat merugikan bagi kehidupan masyarakat.

Ini merupakan simbol semangat yang ada dalam diri manusia, semangat itu jika diarahkan kepada hal-hal yang positif niscaya akan membuahkan hasil yang maslahah bagi kehidupan.

Sebaliknya jika semangat itu tidak dikendalikan, cenderung mengarah kepada hal-hal negatif, pasti akan merugikan bagi kehidupan, baik diri sendiri maupun orang lain.

Api membara selalu dalam posisi tegak dan berpijar ke atas, ini merupakan simbol sifat tegas dalam menegakkan keadilan. Sebagai pemimpin hendaknya bersikap seperti bara api, selalu bersemangat, bersikap tegas dalam menegakkan keadilan.

Tanpa pandang bulu, siapa saja yang menjadi penghalang dan perusuh negara harus ditumpas, yang berbuat salah harus dijatuhi hukuman sesuai dengan undang-undang yang berlaku. sebaliknya bagi siapa saja yang patuh kepada peraturan negara harus diayomi.

7. Watak Tirta (Air)
Air adalah anasir alam yang selalu menjadi sarana kehidupan. Di mana-mana ada air di situlah ada kehidupan. Meskipun demikian air tidak selalu memiliki sifat ramah, suatu ketika juga menunjukkan sifat kejam.

Air di laut menghidupi segala macam isi lautan, dari makhluk hidup yang paling kecil sampai yang paling besar hidup karena air. Manusia dan segala macam binatang di daratan, serta tumbuh-tumbuhan yang menancap di muka bumi, semuanya membutuhkan air. Begitu pula tumbuh-tumbuhan yang ada di atas bukit, di pucuk gunung hidup karena air.

Akan tetapi suatu ketika air juga dapat membahayakan; air laut meluap menimbulkan tsunami. Ketika manusia memperlakukan air secara proporsional, mungkin tidak akan terjadi hal-hal yang membahayakan.

Akan tetapi ketika manusia memperlakukan lingkungan tidak sesuai dengan aturan atau norma ekosistem yang berlaku, kemungkinan akan berakibat fatal. Perubahan sifat-sifat hakiki air itu sangat dipengaruhi perilaku manusia.

Tetapi pada hakikatnya air bersifat rata, di mana ada tempat rendah selalu terisi oleh air sesuai dengan luas dan kedalamannya.

Seorang pemimpin hendaknya dapat menjamin kesejahteraan rakyatnya secara adil, proporsional sesuai kemampuan, kedudukan, dan beban kebutuhan yang harus disandang rakyatnya.

Air menjadi sumber penghidupan. Yang dimaksud penghidupan dalam hal ini tidak hanya bagi makhluk manusia, tetapi mencakup segala makhluk termasuk binatang dan tumbuhan. Jadi seorang pemimpin harus dapat memberi penghidupan kepada siapa saja yang mempunyai hak untuk dihidupi (Nartasabda, Kusuma Rec. : 8A).

8. Watak Samirana (Angin)
Angin adalah anasir alam yang selalu menelusuri berbagai ruang dan waktu, yang sempit, yang luas, yang tinggi, yang rendah, di puncak gunung, di dasar lautan, baik di waktu siang maupun malam, semuanya dilalui oleh angin.

Hal ini sesuai dengan pandangan Jawa bahwa pemimpin harus dapat manjing ajur-ajèr, artinya harus bersifat ‘luwes’ atau fleksible dalam bergaul atau srawung di dalam masyarakat.

Seorang pemimpin harus dapat menyelami segala keadaan lingkungan di sekitarnya, cara memperhatikan rakyatnya tidak membeda-bedakan derajat, pangkat dan golongan, serta tempat tinggal, semuanya dapat merasakan pancaran kasih sayang pemimpinnya.

Selain itu seorang pemimpin harus bersikap empan-papan, artinya selalu dapat menyesuaikan diri dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi yang dihadapi. Ketika menjalankan kedinasan seorang pemimpin harus bersikap disiplin sesuai dengan kewajiban kedinasan.

Ketika di rumah, seorang pemimpin harus menjadi pengayom keluarga dan suri tauladan masyarakat sekitarnya sebagai seorang penduduk masyarakat yang baik, jangan sampai terjadi urusan kedinasan dibawa-bawa ke keluarga ataupun masyarakat. Dalam pandangan Jawa dikatakan mbédakaké pribadi lan makarti.

Angin sebagai tauladan, seorang pemimpin harus berwatak supel dalam bergaul. Karena rakyat yang dipimpin bermacam-macam golongan atau kasta, ada kasta brahmana, waisya, dan sudra, yang semuanya berada dalam golongannya masing-masing, maka para pemimpin harus mampu menyelami mereka dengan sikap yang menyenangkan (karya nak tyasing sesama).

Brahmana akan tenang bersemadi jika merasa tentram hatinya, para waisya akan tekun bekerja jika dilindungi ketentraman, begitu pula para sudra akan senang hatinya jika merasa tenteram hidupnya (Kusuma Rec.: 8A). (ist/seri 2 dari 2 tulisan)

Add Comment