Ancaman Situs, Dari Penjarahan Hingga Pabrik Baja

foto
Sisa batu bata kuno diduga dari era Majapahit. Foto: Merdeka.com

Situs tembok kembar di kebun tebu milik almarhum Tuminah seluas 1.800 meter persegi di Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Mojokerto dijarah selama dua tahun. kini kondisi situs berupa tumpukan bata rusak parah. Batu bata berukuran 35 x 20 cm ini dibuang ada juga yang dijual seharga Rp 3 ribu per balok.

Warga Kumitir, Mohammad Yasin (57) menceritakan, dahulunya lahan di sana menyerupai bukit kecil, setelah digali ditemukan tumpukan batu bata kuno. Kemudian sejak lima bulan lalu, lahan milik Tuminah disewa Badri.

“Dulu batu bata kuno ini ada yang dibuang saja karena tanahnya dipakai kerajinan bata merah, ada yang dijual ke pembeli seharga Rp 3 ribu per biji. Tapi setelah disewa sejak 5 bulan lalu, tumpukan batu itu diangkut menggunakan truk oleh yang menyewa lahan, tapi tidak mau dibawa ke mana,” ujar Yasin kepada wartawan.

Penjarahan batu bata situs Majapahit ini sudah ditangani Polres Mojokerto. Polisi melakukan penyelidikan untuk mengungkap kasus penjaharan warisan kerajaan besar di Pulau Jawa tersebut.

“Kami akan selidiki kasus ini, ada kemungkinan pemilik lahan dan orang yang mengambil batu bata situs peninggalan Majapahit ini tidak memahami kalau benda itu merupakan cagar budaya dan tidak boleh diambil. Tapi kalau nanti hasil penyelidikan pengambil batu situs ini sudah memahami kalau itu situs yang dilindungi kita akan tangkap,” kata Kapolres Mojokerto AKBP Rachmad Iswan Nusi seperti dikutip Merdeka.com.

Meski pengambilan batu bata kuno situs Majapahit ini sudah berlangsung lama, namun pihak Desa Kumitir tidak mengetahui. Kepala Desa Kumitir Beny mengaku tidak tahu pengambil batu bata kuno tersebut.

“Selama ini saya tidak tahu kalau ada pengambilan batu bata Situs peninggalan Majapahit. Selama ini yang saya tahu, lahan milik almarhumah Tuminah disewa untuk diambil tanahnya digunakan bahan baku kerajinan bata merah,” kata Beny.

Balah Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur di Trowulan bergerak cepat untuk membantu mengungkap kasus ini. Namun saat meninjau ke lokasi, hanya ditemukan beberapa bongkahan batu bata kuno saja, tidak terlihat tumpukan batu bata seperti di foto yang sudah viral.

“Setelah menerima informasi dan tahu foto di medsos, tim BPBC langsung ke lokasi penemuan situs hanya mendapati beberapa bongkahan saja, dan tidak menemukan tumpukan batu bata kuno seperti di foto yang beredar di medsos,” kata Kepala Humas BPCB Jatim Sudaryanto di Trowulan.

Terpisah, Kepala Sub Unit Penyelamatan BPCB Jawa Timur Ahmad Hariri usai melakukan pengecekan lokasi situs di Desa Kumitir mengatakan, situs itu merupakan struktur kuno yang terdiri dari batu bata merah berukuran besar. Luas situs diperkirakan 8 meter x 100 meter dan diperkirakan ketinggian struktur situs ini mencapai 1,28 meter.

“Kalau melihat dari sisa-sisa strukturnya awalnya merupakan struktur yang menjadi satu. Tapi ternyata terpisah menjadi dua bagian,” kata Ahmad Hariri.

Ditambah informasi dari warga setempat, struktur situs tersebut merupakan tembok kembar yang melintang dari Utara ke Selatan. Ditemukan juga batu-batu berbentuk balok di antara dua tembok yang diperkirakan sebagai penguat bangunan. Meskipun belum bisa memastikan, tapi diduga kuat situs itu merupakan pagar.

“Kami memperkirakan ini peninggalan zaman Majapahit. Kemungkinan ini karena kami membandingkan dengan temuan terdekat, yakni Candi Tikus dan Gapura Bajang Ratu di Trowulan,” terangnya.

Kalau melihat dari sisa-sisa strukturnya, situs Kumitir diperkirakan cukup luas mencapai radius 250 meter dari lokasi penjarahan. Areal dengan jarak 250 meter, ternyata ditemukan struktur batu bata merah kuno. Hasil penelitian yang sudah dilakukan akan dilaporkan ke Kemendikbud.

Bukan kali ini saja ancaman terhadap situs Kerajaan Majapahit terjadi. Di tahun 2013 lalu, rencana pembangunan pabrik baja PT MSB di Kecamatan Trowulan menuai kecaman dari Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI). Sebab area pembangunan berada persis di kawasan situs Kerajaan Majapahit.

Rencana pembangunan pabrik tersebut, dinilai mengancam keberadaan situs-situs kerajaan yang didirikan Raden Wijaya. Chairman of Board of Trustees BPPI Hashim Djojohadikusumo kala itu menegaskan, pembangunan pabrik baja di lokasi tersebut harus digagalkan.

“Ini (pembangunan pabrik baja) mengancam keberadaan situs-situs Majapahit dan akan menuai kehancuran. Untuk itu, kami akan segera menemui Bupati Mojokerto agar membatalkan proyek pembangunan pabrik baja tersebut. Karena Pemkab Mojokerto yang paling berwenang,” kata Hashim, (18/10).

Pembangunan pabrik pengecoran baja itu berada di sekitar 2 kilometer dari Gapura Wringin Lawang yang merupakan pintu masuk Kerajaan Majapahit.

Usaha penolakan dari berbagai pihak itu berbuah manis. Gubernur Jatim Soekarwo akhirnya membatalkan izin pendirian pabrik baja di lahan seluas 2 hektare di Desa Bejijong dan Wates Umpak, Trowulan. Pembatalan ini spontan membuat perusahaan kecewa. (ist)

Add Comment