Srawung Seni Keliling ke Kantong Budaya

foto
Bathara melakukan latihan mengeksplorasi alam Banyuwangi. Foto: Beritasatu.com.

Srawung Seni yang merupakan ajang kontak sosial dan kolaborasi antar sesama seniman melalui karya-karyanya akan digelar di berbagai kantong budaya di sejumlah wilayah di Indonesia.

“Srawung Seni adalah kontak sosial antar sesama seniman melalui karya-karyanya. Menjalin kerjasama yang saling membutuhkan. Sehingga melahirkan ikatan spirit seni antar pelaku seni,” ujar Pendiri Yayasan Swargaloka, Suryandoro dalam rilisnya di Jakarta, Selasa (18/4) lalu.

Menurut Suryandoro, seperti dikutip Beritalima.com tahap awal kegiatan seni budaya ini dilaksanakan di Banyuwangi, wilayah paling ujung timur pulau Jawa. Setelah itu, menurut rencana akan digelar di wilayah paling barat dan utara pulau Sumatera.

Di Banyuwangi, ‘Srawung Seni’ diisi pementasan seni Teater, berjudul ‘Kursi-Kursi.’ Persembahan dari Padepokan Seni Alang-Alang Kumitir Banyuwangi ini dipentaskan di Gedung Wanita Kabupaten Banyuwangi.

‘Kursi-Kursi’ merupakan karya Punjul Ismuwardoyo, Sarjana (S1) Tari alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, yang saat ini menjadi anggota DPRD Kabupaten Banyuwangi.

‘Kursi-Kursi’ merupakan refleksi jagad kekuasaan pragmatisme politik praktis. Penyimpangan kepentingan para elit masyarakat dan Pemerintah yang cenderung pada kepentingan sesaat.

Sementara seniman muda, Bathara Saverigadi Dewandoro, dari Sanggar Swargaloka Jakarta, tampil dengan karyanya bertajuk ‘Tari Refusing.’ Pementasan jug digelar di Gedung Wanita Kabupaten Banyuwangi.

Sebelum pementasan kedua seniman lintas generasi ini, Punjul Ismuwardoyo dan Bathara Saverigadi Dewandoro, tampil menjadi nara sumber pada acara workshop seni menyoal ‘Seni Pertunjukan di Tengah Geliat Industri Kreatif’. Acara dilaksanakan di Hotel Mahkota, Plengkung, Banyuwangi.

Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf), Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, Yayasan Swargaloka, dan Padepokan Awu-Awu Langit.

Melibatkan para pelajar, mahasiswa, guru, dosen, anggota sanggar, penggiat seni, seniman dan budayawan, sebagai peserta. Acara ini dipandu oleh aktor film dan sinetron yang juga wartawan senior, Eddie Karsito.

Fenomena etnik Osing, dengan kesenian utamanya ‘Gandrung’ tampaknya menjadi idealisasi Bathara Saverigadi Dewandoro. Ia menyerap nilai-nilai kearifan budaya Osing yang kemudian ia ekspresikan dalam karya seninya bertajuk ‘Tari Refusing.

“Refusing artinya penolakan; sebuah karya berdasar pada seni Gandrung Banyuwangi. Saya terinspirasi dari adegan Paju pada Gandrung Banyuwangi. Di mana penata tari melihat sebuah penolakan yang diberikan penari gandrung kepada pemaju agar ia tidak tercium atau tersentuh,” terang Bathara Saverigadi Dewandoro.

Karya ini, tambah Bathara, mengekspresikan tentang perasaan ketika menentukan penolakan. “Begitu besar dampaknya bagi kelangsungan kesenian akibat penolakan. Ketika semua generasi menolak dijadikan gandrung profesional, maka dikemudian hari anak cucu kita tak akan melihat kesenian asli Gandrung Banyuwangi,” ungkapnya.

Gandrung, kata Bathara, merupakan seni budaya lokal yang sebenarnya sudah mulai terdesak pentas-pentas populer, seperti dangdut dan campursari. Untuk pementasan ini, Bathara bersama tim kreatifnya telah melakukan latihan melalui eksplorasi alam di kawasan Banyuwangi.

Bathara Saverigadi Dewandoro baru saja menuntaskan lawatannya ke New Zealand, Selandia Baru, dalam rangka pertukaran budaya yang difasilitasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, November 2016 lalu.

Di bulan yang sama, Bathara ditetapkan sebagai salah satu Penari Terbaik, serta karyanya berjudul ‘Si Tuan Jingga’ mendapat predikat Juara III Festival Tari Betawi, yang diselenggarakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta. (sak)

Add Comment