Jaran Kencak, Si Nila Ambhara Tunggangan Raja

foto
Kesenian Jaran Kencak menjadi Warisan Budaya Tak Benda sejak 2016. Foto: WartaLumajang.com.

Sebuah pertunjukan tradisional Jaran Kencak dari Kabupaten Lumajang dipertunjukkan di Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali 85 Surabaya, beberapa waktu lalu. Pemain utamanya adalah seekor kuda yang sanggup menari menurut perintah pawangnya.

Lantaran keunikannya itulah Jaran Kencak sudah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional dari Jawa Timur tahun 2016 lalu.

Bupati Lumajang, As’at Malik mengatakan dengan status Jaran Kencak ditetapkan sebagai warisan budaya Indonesia, maka Lumajang ambil bagian dalam sebuah peradaban, karena adanya kesenian yang menggunakan hewan kuda menari berasal dari kaki Gunung Semeru.

“Jaran Kencak sudah bisa sejajar dengan Reog dan Batik,” paparnya dengan nada bangga, kepada Beritajatim.com.

Bupati akan memperhatikan para seniman Jaran Kencak dan akan terus dibudayakan agar bisa menjadi daya tarik wisata. Karena, kesenian khas daerah ini mulai diminati wisatawan asing. “Selain itu, para seniman akan meningkat perekonomiannya,” terang As’at.

Jaran Kencak merupakan salah satu seni tradisional yang cukup terkenal di Jawa Timur, khususnya di wilayah Malang dan Pasuruan bagian timur terutama di wilayah Suku Tengger, sedang di Lumajang, Probolinggo, Jember, Situbondo, dan Bondowoso keberadaannya hampir merata di seluruh wilayah.

Tarian kuda ini sangat menarik karena gayanya megal-megol, maju mundur, dan kadang berdiri. Kegemulaian gerakan tarian kuda tergantung keterampilan sang pawang dalam melatih dan musik yang mengiringinya.

Musik yang mengiringi seperangkat gamelan sederhana berupa kendang, slompret, kempul, dan kenong. Penabuhan atau cara memainkan gamelannya amat terpengaruh empat budaya yakni Jawa pada kenong dan kempul, peniupan slompret pengaruh reog Ponorogo dan pencak Madura, sedang pemukulan kendang seperti gaya Bali dengan cara bagian kiri memakai tangan sedang bagian kanan memakai tangan dan tetabuh.

Menjadi kebiasaan bagi masyarakat Kota Pisang ini, jika memiliki hajat maka tidak afdol jika tidak mendatangkan kelompok kesenian ini untuk menghibur masyarakat, khususnya para tetangga. Malah, ketika acara khitan, seolah menjaid gengsi tersendiri jika yang dikhitan dinaikkan ke pelana Jaran Kencak lalu diarah keliling kampung.

Kesenian Jaran Kencak memiliki filosofi dan sejarah penting bagi perjalanan Kabupaten Lumajang di masa silam. Dipaparkan Aak Abdullah Al Kudus, aktivis Jaran Kencak dari Desa Tegalrandu, Kecamatan Klakah, bahwa sejarah kesenian Jaran Kencak ini lahir pada masa Kerajaan Wirabhumi dibawah Kepemimpinan Arya Wiraraja, yang wilayahnya meliputi Tapal Kuda dan Madura.

“Dengan pusat kerajaannya yang berada di wilayah Lumajang, tepatnya di Dusun Biting, Desa Kutorenon yang merupakan Kota Raja Lamajang,” tuturnya. Diyakini orang yang pertama kali menciptakan kesenian ini bernama Klabisajeh, yakni seorang pertapa suci yang tinggal di lereng Gunung Lemongan.

“Berkat kesaktiannya, Klabisajeh bisa membuat kuda liar menjadi tunduk dan pandai menari. Sehingga, jadilah Jaran Kencak yang terdiri dari dua suku kata, yakni Jaran artinya Kuda dan Kencak artinya Menari,” jelas aktivis lereng Gunung Lemongan Klakah tersebut.

Pada jamannya, kesenian ini adalah bentuk-bentuk ekspresi suka cita masyarakat, dari sebuah wilayah yang makmur dan sejahtera, gemah ripah loh jinawi.

“Ada juga yang menyebutkan, bahwa kesenian ini sebagai bentuk penghormatan kepada kuda kesayangan Ranggalawe, putra dari Arya Wiraraja yang bernama Nila Ambhara, yang terkenal sebagai kuda paling tangguh dan pintar pada jaman itu. Sebagaimana diketahui, baik Arya Wiraraja maupun Ranggalawe merupakan raja yang sangat dicintai rakyatnya,” ungkapnya. (ist)

Add Comment