Tradisi Perjalanan Asmara Mantenan Tebu

foto
Kirab pengantin tebu mengawali musim giling di PG Madukismo Jogja. Foto: Detik.com.com.

Ada saja cara masyarakat dalam mensyukuri hasil bumi. Salah satunya seperti yang terjadi di Pabrik Gula (PG) Meritjan, Mojoroto, Kediri.

“Kalau di tempat kami sebelum masuk musim giling, ya diadakan beberapa kegiatan seni rakyat dan puncaknya adalah upacara mantenan tebu,” kata Pudjianto, Ketua APTR Mojoroto, Kediri seperti ditulis eastjavatraveler.com.

Beberapa hari menjelang prosesi mantenan tebu, jalanan di kawasan Pabrik Gula Meritjan dipenuhi lapak-lapak pedagang kaki lima. Bahkan panitia acara mulai pagi hingga malam hari menyuguhkan berbagai kesenian rakyat sebagai hiburan. Suasana pun pun berubah makin ramai.

Untuk prosesi mantenan tebu sendiri diadakan oleh masyarakat setempat, Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) dan jajaran pengurus Pabrik Gula Meritjan.

Mantenan ini digelar sebagai pertanda musim giling tebu telah dibuka. Setelah para petani tebu menuai hasil panen melimpah. Karenanya untuk mengiring rasa syukur pada Sang Kuasa digelar mantenan tebu.

Dengan dipimpin tokoh adat setempat, ritual mantenan dimulai. Lengkap diiringi beberapa orang berpakaian berpakaian ala Jawa dengan mengenakan beskap. Mereka mengawali prosesi ini dengan melakukan kirab terlebih dahulu.

Di dalam kirab yang menempuh jarak 2 kilometer, di baris paling depan beberapa orang berpakaian adat Jawa itu membawa tandu yang dinaiki sepasang pengantin tebu. Pasangan pengantin ini hanyalah boneka yang terbuat dari tebu. Layaknya pasangan manusia, warga begitu kreatif dalam menciptakannya. Mirip sekali. Ada yang lelaki dan ada pula yang wanita.

Kirab berjalan perlahan menuju ke Pabrik Gula Meritjan untuk dilanjutkan masuk ke tempat penggilingan tebu. Sampai di pabrik rombongan pengantin disambut meriah oleh tarian jaranan Kediri.

Sayup-sayup bebunyian gending Jawa terdengar lirih bersama sorak sorai warga yang bermaksud menonton mantenan ini. Sementara itu beberapa pejabat Muspida Kediri dan administratur PG Meritjan bersiap untuk menerima seserahan pasangan manten tebu, yang dibawa oleh sesepuh desa setempat.

Pasangan manten tebu pun telah diserahkan. Untuk kemudian dibawa beramai-ramai menuju tempat penggilingan tebu. Menuju ke sana di belakang tandu pengantin, ada 13 batang tebu yang dibawa oleh para pengiring mantenan sebagai simbol rendemen kali ini. Selain itu, ada pula beberapa orang yang membawa kembang mayang, dan janur kuning.

Setelah pasangan mantenan tebu, 13 batang tebu, kembang mayang, dan janur kuning dibawa masuk ke ruang penggilingan tebu. Di dalam sana sudah menanti ratusan orang untuk menyaksikan puncak dari prosesi mantenan tebu. Riuh mereka bersaing dengan suara mesin penggilingan yang telah menyala hidup.

Tak berselang lama, sepasang boneka mantenan tebu dimasukkan ke dalam mesin penggilingan. Menyusul kemudian 13 batang tebu, kembang mayang, dan janur kuning. Semua digilas habis hingga berurai oleh mesin penggilingan.

Momen inilah yang paling dinanti-nantikan warga. Maksud hati ingin berebut sisa dari penggilingan mantenan tebu. Tapi ketatnya beberapa petugas yang mengamankan jalannya prosesi mantenan, memaksa warga tak berhasil meraih sisa-sisa penggilingan yang konon dipercaya membawa berkah.

“Sisa penggilingan mantenan tebu itu dapat membawa berkah pada hasil panen kedepan. Tapi sayang jika tidak diperbolehkan mengambilnya,” gerutu salah seorang warga.

Melestarikan Budaya
Mantenan tebu di Meritjan, Mojoroto, Kediri adalah salah satu tradisi yang melanjutkan adat budaya yang pernah ada. Menurut sejarahnya, mantenan ini telah ada puluhan tahun silam. Namun sayangnya, di tahun 2000-an tradisi sakral ini sempat berhenti.

Beruntung berkat kesadaraan warga setempat akan pentingnya acara ini, maka pada mulai tahun 2007 mantenan tebu kembali digelar. Mantenan tebu ini tetap lestari hingga kini meski acara dikemas sedikit berbeda tiap tahunnya.

Dari keterangan panitia acara menjelaskan jika sejarah mantenan tebu, bermula dari kebiasaan Raden Sardono yang sangat mencintai tumbuh-tumbuhan. Salah satunya adalah tebu.

Dalam hidupnya Raden Sardono tak pernah berhenti untuk mensyukuri hasil bumi ini. Dan, bentuk syukur itu bermacam-macam wujudnya. Tergantung warga yang mau tetap melestarikannya.

Hingga suatu saat Raden Sardono berpesan pada sang isteri Dewi Sri, sebagai lambang kesuburan, dirinya harus terus melestarikan segala jenis tumbuhan maupun tanaman. Karena dengan merawat dan menjaga dengan baik, niscaya Sang Kuasa memberikan hasil bumi yang melimpah ruah.

Karena itu, untuk menghargai jasa Raden Sardono dan Dewi Sri. Masyarakat petani tebu di Mojoroto Kediri menggelar upacara adat mantenan tebu.

Di samping itu inti daripada acara ini adalah untuk meminta berkah kepada Sang Kuasa, agar dalam proses memasuki musim giling tebu di PG Meritjan dapat berjalan lancar, hasil panen senantiasa melimpah, dan semua orang yang terlibat selamat.

Tradisi mantenan tebu ini juga dilakukann di sejumlah daerah yang memiliki pabrik gula. Di Cirebon, Jogja, Solo, Klaten, Tulungagung dan seterusnya.

Beberapa harapan inilah yang dijadikan alasan digelarnya mantenan tebu. Yang kiranya dapat menjadi bukti asmara di balik kisah mantenan tebu. Rasa syukur dan harapan warga akan tebu yang dihasilkan dari lahan garapan, melebur menjadi panjatan hati pada Sang Kuasa. (ist/easjavatraveler)

Add Comment