Bila Warga Tanjungsari Adakan Sedekah Bumi

foto
Warga berperan mirip Dimas Kanjeng, warga berharap rezeki berlipat. Foto: Jawapos.com.com.

Perayaan sedekah bumi ternyata tidak cuma bisa ditemui di desa. Sebagian warga metropolis seperti Surabaya masih melestarikan perayaan tersebut. Meski jumlah lahan semakin sempit, warga tetap konsisten memanjatkan rasa syukur atas nikmat berkah yang keluar dari bumi maupun turun dari langit.

Pada hari Minggu (23/4) pagi, pemandangan berbeda terlihat di pelataran kantor RW II Kelurahan Tanjungsari, Kecamatan Sukomanunggal, Surabaya.

Ratusan warga berkumpul dengan kostum ala adat Jawa. Para pria mengenakan beskap, lengkap dengan keris di punggung mereka. Sementara itu, para perempuan berlomba-lomba tampil cantik dengan kebaya warna-warni.

Namun, ada pula yang mencoba tampil nyentrik dengan kostum lain. Misalnya, warga RT XII Mochammad Safrian. Siswa kelas XII SMK tersebut mengenakan kostum putih panjang. Dandanannya terlihat familier. Jika warga lain berjalan kaki, dia justru menaiki becak dengan tulisan ”Dimas Kanjeng Taat Sekali” di depannya.

Safrian mengakui, warga di RT-nya memang memilih tema Dimas Kanjeng pada kirab tumpeng kali ini. ”Harapannya, berkah warga bisa berlipat ganda, sama seperti kesaktian Dimas Kanjeng,” candanya seperti dilaporkan Jawapos.com.

Acara kirab tumpeng itu merupakan puncak dari rangkaian sedekah bumi warga RW II Kelurahan Tanjungsari. Sedekah bumi dilaksanakan dalam rangka bersih desa, tradisi yang selama ini jarang ditemui di lingkungan perkotaan.

”Dulu Tanjungsari ini kan kebun. Karena itu, kami tetap melestarikan sedekah bumi,” tutur Markaji, 65, salah seorang sesepuh desa. Setiap tahun sedekah bumi mereka rayakan pada bulan Rajab menurut kalender Hijriah.

Tradisi sedekah bumi itu, menurut Markaji, diturunkan sejak zaman Raden Mas Cokro Binnoto II yang pernah tinggal di wilayah Tanjungsari. ”Raden Mas Cokro Binnoto ini punya istri, yakni Raden Ajeng Nyai Roro Jonggrang,” jelas Markaji. Tak heran, nuansa sakral terasa selama kirab. Sesajen diletakkan di beberapa titik.

Banyak acara yang bisa dinikmati warga selama rangkaian sedekah bumi. Di antaranya, ada pertunjukan wayang kulit semalam suntuk dan hiburan campursari serta orkes Melayu.

Kirab tumpeng pun dilombakan untuk menambah semarak acara itu. Selain perwakilan 18 RT, lomba tumpeng tersebut diikuti oleh Paguyuban Pemuda Tanjungsari (PPT) dan Paguyuban PNS/TNI/Polri Tanjungsari.

Sebelum dinilai oleh juri, semua tumpeng itu diarak keliling wilayah kelurahan. Masing-masing RT juga tampil dengan ciri khas masing-masing. Jika RT XII tampil dengan tema Dimas Kanjeng, lain lagi RT IV yang berada di barisan terdepan.

Tampak sosok Cak dan Ning RT IV yang memimpin barisan, disusul permainan musik patrol yang dimainkan anggota karang taruna. ”Cak dan Ning ini adalah maskot untuk memeriahkan sedekah bumi,” jelas Cicik Nofindarwati yang berperan sebagai Ning.

Lurah Tanjungsari Kamari menjelaskan, kirab tumpeng tersebut diadakan sebagai doa untuk keselamatan bersama. ”Biasanya, orang tasyakuran kan pasti membuat tumpeng,” ujarnya. Menurut dia, pergelaran sedekah bumi merupakan indikator kemakmuran masyarakat. Semakin meriah sedekah bumi, semakin melimpah rezeki.

Momen sedekah bumi itu merupakan yang pertama bagi Camat Sukomanunggal Achmad Zaini. Achmad yang sebelumnya menjabat di kecamatan lain mengaku antusias mengikuti acara tersebut. ”Tradisi ini punya dua esensi, yakni bersyukur atas hasil bumi dan mempererat keguyuban warga,” ujarnya.

Dia berharap generasi muda di Tanjungsari terus melestarikan tradisi unik tersebut agar keguyuban warga tetap terjalin di tengah zaman modern yang semakin individualistis. (ist/JPG)

Add Comment