Tari Banjarkemuning Iringi Tradisi Petik Laut di Sidoarjo

foto
Iring-iringan perahu warga Banjarkemuning saat tradisi petik laut. Foto: Ghofuur Eka/Jawa Pos.

Kawasan pesisir timur Kota Delta, akhir pekan lalu tampak lebih semarak. Ratusan perahu hias berjalan beriringan. Riuh. Perahu-perahu itu adalah milik para nelayan Desa Banjarkemuning, Sedati. Mereka sedang melaksanakan tradisi tahunan. Yakni, petik laut sekaligus ruwat desa.

Tradisi petik laut Desa Banjarkemuning tahun ini terasa lebih meriah daripada tahun sebelumnya. Pengunjung melimpah. Acaranya juga menarik. Ada seni tari khas desa. Yakni, tari banjarkemuning dan tari turen. Tarian oleh anak-anak desa itu menjadi pengiring perahu sebelum berangkat dari dermaga menuju muara.

”Tapi, ada juga penari yang berasal dari desa lain,” ujar Novitri Hidayatillah, salah seorang penari asal Banjarkemuning, RT 7, RW 4, seperti dilaporkan Jawapos.

Novitri bersama tujuh anak lainnya tampil selama tujuh menit. Mereka menari di dermaga sungai sebelum perahu-perahu berangkat membawa gunungan makanan yang akan dilarung. ”Kami sebulan penuh berlatih ini di balai desa. Setelah salat magrib nanti (tadi malam, Red) kami tampil lagi di balai desa,” ujar siswi kelas XI IPS 1 MA Nurul Huda itu.

Setelah penampilan tari-tarian, perahu pun berangkat ke laut. Lantunan doa dan puji-pujian menambah ramai iring-iringan perahu. Apalagi, sejumlah sound system besar juga diletakkan di sejumlah perahu.

”Sambil menuju laut, kami bersama-sama melantunkan doa. Sebab, petik laut ini diadakan sebagai wujud syukur warga desa atas berkah selama ini,” jelas Kepala Desa Banjarkemuning Zainul Abidin.

Doa tersebut dilantunkan saat semua perahu sudah berada di muara. Di tempat pertemuan air sungai dan laut itu, seluruh perahu berhenti. Salah seorang tokoh desa memimpin doa. Suasana terasa hening sejenak.

Yang terdengar hanya suara air dan lantunan doa. Khidmat. Begitu doa bersama selesai, gunungan yang berisi nasi, sayur, dan lauk yang diletakkan di perahu kecil tersebut dilepaskan ke laut.

Ada keyakinan, mereka yang berhasil mendapatkan gunungan itu akan memperoleh banyak berkah. Tak heran, sesaat setelah gunungan tersebut dilarung, sejumlah perahu nelayan berusaha mendekat. Mereka berusaha meraih gunungan-gunungan tersebut.

Seru dan mengasyikkan. Tak butuh waktu lama, gunungan itu pun berhasil diraih warga dari desa tetangga. Gunungan tersebut lantas ditarik dengan menggunakan perahunya.

Setelah prosesi itu selesai, tidak semua perahu yang ikut petik laut kembali ke dermaga desa. Sebagian perahu langsung berangkat melaut.

”Total di sini ada 120 perahu, tapi tidak ikut semua karena ada yang diperbaiki. Ada perahu yang langsung ke laut karena nelayan memang harus bekerja,” jelas Zainul. Dari sekitar 2.000 warga Banjarkemuning, 50 persen bekerja sebagai nelayan.

Kegiatan kearifan lokal (local wisdom) itu tidak hanya dilaksanakan di perairan. Beragam acara masih diselenggarakan Desa Banjarkemuning sebagai bentuk ruwat desa penghasil kerang itu. Setelah petik laut, ada pertunjukan musik yang tidak jauh dari dermaga.

Di balai desa, kelir dan beragam gamelan untuk pertunjukan wayang sudah siap. ”Pada pukul 13.00 sampai sore, pertunjukan wayang tampil. Malam, dilanjutkan lagi,” terang Zainul.

hari berikutnya acara ruwat desa masih berlanjut. Ada pertunjukan ludruk dan musik yang dipusatkan di balai desa. ”Selalu kami peringati pada bulan Ruwah. Tanggalnya menyesuaikan. Ini wujud syukur. Harapannya, dengan kami bersyukur melalui acara semacam ini, berkah dan rezeki warga bertambah dan semakin meningkat,” harap pria berperawakan tinggi besar tersebut.

Sementara itu, Camat Sedati Ridho Prasetyo sangat mengapresiasi kegiatan kearifan lokal di Desa Banjarkemuning. ”Senang bisa turut berpartisipasi,” kata Ridho yang kemarin juga ikut ke laut. Bahkan, dia berencana membuat ikon khusus di kantor kecamatan yang menunjukkan kekhasan Sedati. Selain budaya seperti petik laut, ada potensi tambaknya.

Pernyataan senada disampaikan Plt Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporpar) Pemkab Sidoarjo Djoko Supriyadi. Dia mengatakan, kearifan lokal seperti budaya petik laut harus dilestarikan. Dia menginginkan kegiatan tersebut dilaksanakan secara konsisten dan terus dikembangkan. Baik konsisten waktu penyelenggaraan maupun konsisten acaranya.

’’Dengan demikian, akan semakin banyak pengunjung yang datang. Selain itu, unsur tradisi dan entertainment terus ditingkatkan. Kami yakin kalau itu dilakukan, acara tersebut bisa mendunia,” ujarnya. (ist/JPG)

Add Comment