Banyak Aset Budaya di Desa Belum Tercatat

foto
Walau di negara tetangga juga ada tapi Silat Indonesia memiliki filosfi berbeda. Foto: olahragabagus.blogspot.com.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengatakan saat ini masih banyak aset-aset kebudayaan di berbagai desa di Indonesia, baik benda maupun tak benda yang belum tercatat.

“Banyak kebudayaan baik yang benda maupun tak benda yang ada di desa belum tercatat,” kata Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud Nadjamuddin Ramly seperti dikutip dari Antara di Kemendikbud, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Ramly mengatakan bahwa Kemendikbud akan mengajak Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi untuk mendukung kebudayaan yang ada di desa-desa.

“Jadi kita akan bekerja sama dengan Kemendes untuk mendukung kebudayaan tersebut karena mereka punya anggaran untuk kebudayaan di desa,” kata dia.

Lebih lanjut Ramly menjelaskan bahwa Kemendikbud akan segera mengundang Kemendes untuk membahas kerja sama tersebut.

Ramly menjelaskan, sejak 2013 hingga 2016 Indonesia baru mencatat 444 budaya tak benda, padahal masih ada jutaan warisan budaya tak benda yang ada di Indonesia.

Menurut dia, Indonesia memiliki sekitar 72 ribu desa. Dia juga mencontohkan jika satu desa dapat mendaftarkan 10 saja warisan budaya tak benda, maka budaya mereka dapat diselamatkan dan dilestarikan.

Warisan budaya tak benda, kata dia, bisa berbentuk makanan, permainan, tata cara bergaul, tata cara pernikahan, tata cara pemakaman, pengobatan, busana, arsitektur dan seni pertunjukkan.

Untuk itu, ia mendorong pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota untuk aktif mendaftarkan warisan budaya yang ada di daerahnya, dengan tujuan agar budaya itu dapat diakui.

“Mendaftarkan warisan budaya adalah tanggung jawab pemerintah daerah. Banyak dari mereka tidak mampu menemukan warisan budaya yang harusnya didaftarkan. Tidak hanya itu saja , banyak pemerintah daerah yang belum memprioritaskan kebudayaan sehingga tidak ada anggaran yang dialokasikan untuk hal tersebut,” kata dia.

Dia berharap agar Undang-Undang Kebudayaan bisa segera disahkan, agar dapat mendorong pemerintah daerah mendaftarkan kebudayaan yang ada di desa.

Sementara itu, UNESCO telah mengakui tujuh kebudayaan Indonesia antara lain wayang, keris, batik, angklung, tari saman, noken, dan tiga jenis tari tradisional.

Indonesia juga telah mengajukan tiga kebudayaan lainnya yaitu kapal pinisi, pantun dan pencak silat untuk menjadi kebudayaan tak benda UNESCO.

Ramly mengatakan Kemendikbud telah mengirimkan dokumen dossier ke UNESCO untuk ketiga warisan budaya tak benda tersebut. “Pinisi akan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada Desember 2017 setelah melalui sidang UNESCO, sementara itu Pantun akan dibahas dalam sidang UNESCO 2018 dan Pencak silat akan dibahas pada 2019,” kata dia.

Dari ketiga warisan budaya tersebut, pantun menjadi satu-satunya warisan budaya tak benda yang diajukan oleh Pemerintah Indonesia bersama dengan Pemerintah Malaysia sebagai Multinational Nomination pada 2017.

Sementara silat tidak diajukan sebagai warisan multinasional walaupun negara tetangga seperti Malaysia, Brunei Darussalam juga Thailand Selatan memiliki silat karena silat Indonesia memiliki filosfi yang berbeda.

“Silat yang diajukan adalah silat Indonesia yang ada di beberapa daerah seperti Banten, Jawa Barat, Riau dan daerah lainnya yang memiliki filosifi berbeda dengan negara lainnya,” kata dia.

Ke depan Indonesia juga akan mengajak negara lain untuk mengajukan jalur rempah sebagai warisan multinasional UNESCO.

Sementara itu hingga 2016 ada tujuh warisan budaya tak benda Indonesia yang sudah masuk daftar UNESCO antara lain wayang, keris, batik, angklung, tari saman, noken dan tiga jenis tarian bali.

Ramly berharap dengan diakuinya kebudayaan Indonesia itu oleh UNESCO dapat meningkatkan apresiasi dan pelestarian terhadap budaya tersebut, serta dapat meningkatkan kesejahteraan bagi pelakunya. (ist)

Add Comment