Kisah Andong Sari Dibalik Tari ‘Parang Barong’

foto
Tari Parang Barong asal Bojonegoro. Foto: Infobudayaindonesia.com.

Festival Karya Tari se-Jawa Timur alias FKT adalah acara besar yang menampilkan tarian Jawa Timur. Tari-tarian akan dibawakan para penari pilihan. Acara Festival Karya Tari yang diikuti para penari dari Jawa Timur ini akan diselenggarakan di Surabaya 18 Mei mendatang.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bojonegoro, siap menampilkan Tari “Parang Barong” dalam event tersebut. Seperti apa keunikan salah satu kesenian dari Bojonegoro ini?

“Bojonegoro dalam festival se-Jawa Timur di Surabaya, akan menampilkan tari Parang Barong karya koreografer guru SMPN 5 Regi dengan kawan-kawannya,” kata Kasi Budaya dan Kesenian Disbudpar Bojonegoro Yanto Munyuk, Rabu (3/5) seperti dilaporkan Antara.

Tari Parang Barong, katanya, akan dibawakan sembilan penari perempuan yang sudah menjalani latihan selama 2,5 bulan. Para penari yang terlibat itu merupakan hasil seleksi dari para penari yang ada di sejumlah sanggar tari di daerahnya.

Menurut dia, latihan Tari Parang Barong hanya tinggal penyempurnaan sehingga sudah siap tampil di Surabaya dalam FKT. “Sesuai ketentuan penyelenggara Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Timur itu waktunya tujuh menit,” katanya.

Lebih lanjut ia menjelaskan Tari Parang Barong mengadopsi kisah sejarah Ki Andong Sari di Kelurahan Ledokkulon, Kecamatan Kota. Di dalam kisah Ki Andong Sari dan Nyi Sari (Istrinya), sebagai keturunan keraton, menetap di Kelurahan Ledokkulon, Kecamatan Kota, karena sedang menyamar.

Nama Ki Andong Sari adalah samaran dari Tumenggung Aryo Mentaun, penguasa (bupati) Ngurawan Badander yang tengah sembunyi dari kejaran tentara Panembahan Cakraninngrat Madura. Karena Aryo Mentaun dinilai mbalelo, tidak mau menghadap ke Mataram.

Aryo Mentaun menyamar menjadi penari kentrung dan mengembara, tak kembali ke Ngurawan Badander. Pengembaraannya sampai di Lekok dan bertemu dengan gadis bernama Sari. Aryo Mentaun mengaku bernama Andong dan keduanya menikah.

Kepada istrinya Ki Andong Sari berpesan jangan mengenakan jarit dengan motif Parang Barong, tetapi kemudian larangan itu dilanggar Nyi Sari yang nekad mengenakan jarit motif itu. “Nyi Sari sengaja melanggar larangan itu karena ingin tahu penyebab tidak diperbolehkan mengenakan kain motif Parang Barong,” jelas Yanto.

Melihat istrinya Nyi Andong Sari mengenakan pakaian jarit Parang Barong, Ki Andong marah dan melarang kelak kalau meninggal dunia mereka berdua makamnya jangan dijadikan satu.

Oleh karena itu, lanjut dia, di pemakaman umum Kelurahan Ledokkulon, makam Ki Andong Sari berada di cungkup, sedangkan Nyi. Andong Sari berada di luarnya dengan jarak sekitar 4 meter. “Unsur edukasinya bahwa setiap larangan kalau dilanggar ada sanksinya,” ujarnya.

Ia mengharapkan Tari Parang Barong di dalam festival karya tari nantinya bisa tampil lebih bagus dibandingkan karya tari peserta lainnya, bahkan bisa keluar sebagai juara. “Bojonegoro pernah keluar sebagai juara dalam Festival Karya Tari se-Jatim pada 2015 ketika menampilkan karya tari Kahyangan Api, bahkan karya tari itu mampu menjuarai dalam festival tingkat nasional,” paparnya. (ist)

Add Comment