Entas-Entas, Tradisi Upacara Kematian di Tengger

foto
Prosesi upacara kematian Entas-entas pada Suku Tengger. Foto: kkn62umm.blogspot.co.id.

Indonesia kaya akan keberagaman budaya, mulai dari tradisi pernikahan, kelahiran, hingga kematian. Salah satunya adalah tradisi Entas-entas milik masyarakat Tengger di Gunung Bromo Jawa Timur.

Tradisi ini merupakan upacara kematian, khususnya di Desa Tengger Ngadas, Poncokusumo. Jika ditelaah lebih lanjut, tradisi Entas-entas ini memiliki keterkaitan dengan budaya pada masa Megalitikum.

Entas-entas sendiri seperti ditulis Ngalam.co diartikan gambaran dari meluruhkan atau mengangkat derajat leluhur yang telah meninggal agar mendapatkan tempat yang lebih baik di alam arwah.

Di dalam tradisi ini, menurut sejarawan Blasius Suprapta, terdapat beberapa rangkaian urutan di dalamnya, yakni ngresik, mepek, mbeduduk, lukatan, dan bawahan. Saat pelaksanaan yang meninggal didatangkan kembali dengan bentuk boneka.

Boneka yang diberi nama boneka petra tersebut terbuat dari dedaunan dan bunga. Boneka ini selanjutnya disucikan oleh pemangku adat setempat. Sebelumnya juga dibuat kulak atau wadah bambu yang diisi dengan beras oleh keluarga yang bersangkutan.

Kulak tersebut sebagai lambang dari yang meninggal tersebut. Selanjutnya, keluarga mulai menyiapkan kain panjang untuk dibentangkan. Para keluarga dan kerabat berkumpul di bawahnya untuk mulai membakar boneka petra.

Dalam upacara Entas-entas, warga Tengger biasanya menggunakan sejumlah hewan ternak, seperti kambing, kerbau, atau lembu. Salah satu hewan yang kerap dipakai dalam upacara adat itu adalah kambing putih yang diyakini bisa berperan sebagai kendaraan untuk menuju alam arwah.

Makna Entas-entas
Rangkaian pelaksanaan Entas-entas ini memakan waktu yang panjang, bahkan bisa hingga tiga bulan. Biasanya dilaksanakan pada hari ke-1.000 atau minimal pada hari ke-44 setelah meninggalnya seseorang.

Oleh karena itu, Entas-entas masih boleh dilakukan selang beberapa hari setelah kematian. Sebab, kesanggupan keluarga juga menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan.

Tradisi ini bukan hanya sekedar upacara kematian biasa seperti di daerah-daerah lainnya. Di balik pelaksanannya, Entas-entas memiliki makna yakni mengembalikan kembali unsur-unsur penyusun tubuh manusia. Unsur-unsur tersebut ialah tanah, kayu, air, dan panas.

Makna yang diambil dari tanah, yaitu setiap ada manusia yang meninggal akan dikubur di dalam tanah. Selanjutnya adalah kayu. Sebab, untuk menandai lokasi orang meninggal menggunakan kayu yang ditancap bahkan ditanam sebagai nisan.

Lalu ada air yang digunakan untuk memandikan yang meninggal. Dengan kata lain sebagai pembersih. Juga sekaligus sebagai penghormatan kepada Dewa Baruna, dewa air. Terakhir ada panas. Untuk mengembalikan unsur yang satu ini caranya adalah dengan dibakar.

Boneka petra yang sudah dibuat tadi akan dibakar. Cara pengembalian unsur panas ini hampir sama dengan upacara Ngaben di Bali. Namun, bedanya adalah jika di Entas-entas hanya membakar boneka petranya saja. (ist)

Add Comment