Situs Ngurawan Usianya Bisa 10 Ribu Tahun

foto
Situs purbakala di Dolopo Madiun. Foto: Antaranews.com.

Tim Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta melakukan kembali penggalian atau ekskavasi di Situs Ngurawan yang berada Dusun Ngrawan, Desa Dolopo, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, guna menyelidiki tinggalan budaya di lokasi tersebut.

Menurut Ketua Tim Ekskavasi Rita Istari di Madiun, ekskavasi kali ini melibatkan tim yang lebih besar, yakni 12 arkeolog. Ini merupakan pengembangan dari penelitian dan ekskavasi sebelumnya pada 2014 dan 2016. Meski demikian, pengembangan, penelitian, dan ekskavasi kali ini berbeda dengan tahun lalu karena ahlinya lebih banyak.

Kali ini para arkeolog tersebut membentuk dua tim. Dari 12 arkeolog, sembilan ahli diantaranya fokus pada penggalian, sedangkan tiga lainnya fokus pada survei daerah.

Pada kegiatan survei, tim tidak hanya menginventarisasi temuan-temuan warga di Dusun Ngurawan, tetapi juga mendata temuan warga hingga ke desa-desa di sekitar Desa Dolopo. “Survei yang meluas tersebut disebabkan karena dari penggalian tahun lalu, kami mendapatkan banyak rekomendasi lokasi yang minta digali,” kata Rita istari seperti dikutip Republika.

Ia menjelaskan survei dan penggalian yang meluas tersebut juga mengacu dari hasil ekskavasi tahun lalu yang menyimpulkan bahwa Situs Ngurawan adalah bekas permukiman peradaban. Hal itu merujuk dari banyaknya temuan tembikar yang notabene merupakan peralatan rumah tangga. “Situs ini sangat istimewa. Butuh waktu bertahun-tahun untuk menentukan bangunan apa ini. Tidak bisa instan,” kata Rita.

Seperti diketahui, penelitian dan penggalian di Situs Ngurawan dilakukan setelah warga sekitar sering menemukan benda-benda kuno yang diduga merupakan peninggalan kerajaan pada masa lalu, seperti umpak, yoni, tembikar kuno, ambang pintu, panil relief dan ‘jobong sumuran’.

Di wilayah tersebut juga terdapat arca nandi (lembu), arca Dewi Parwati, jaladuwara (saluran air), dan miniatur candi. Warga juga menemukan susunan batu bata yang duduga merupakan bagian dari struktur bangunan.

Pemkab Madiun sendiri sangat mendukung penelitian dan ekskavasi dari Balar Yogyakarta tersebut. Bahkan, pemkab serius dan mengembangkan Situs Ngurawan ke depannya sebagai objek wisata budaya dan sejarah di wilayah setempat.

Dua Periodisasi
Pada penggalian tersebut, tim ekskavasi langsung membuka tiga kotak galian sekaligus di area kedaton yang merupakan halaman rumah sebelah belakang milik Gatot Suhanto, warga setempat

Adapun kotak pertama dan kedua dibuat di sisi utara berjarak 5 meter dari galian tahun lalu. Dari penggalian sedalam 40 sentimeter dengan ukuran 4 x 2 meter itu, mulai ditemukan pecahan-pecahan benda kuno di dua kotak tersebut.

Tim ekskavasi mendapati pipisan batu berukuran 40×20 sentimeter. Kondisi alat penumbuk bumbu, rempah, dan dedaunan herbal di masa lalu itu masih utuh. Cekungan di bagian tengah menandakan pipisan itu sering dimanfaatkan untuk alas menggilas.

“Sesuai fungsinya, pipisan selalu berpasangan dengan gandik. Sebuah batang batu untuk menggilas. Dari ekskavasi sebelumnya, kami sudah menemukan pecahan gandik,” kata Rita seperti dilaporkan RadarSukabumi.com.

Temuan pipisan dan pecahan gandik itu melengkapi temuan temuan pecahan tembikar dari proses ekskavasi sebelumnya. Pipisan batu itu digunakan kalangan masyarakat biasa. Namun, kelas sosial (kasta) dari penduduk kuno yang bermukim di kawasan setempat belum dapat dipastikan. Sebab, temuan pecahan tembikar sejauh ini terbilang beragam.

Sebagian permukaan pecahan tembikar bertekstur sangat halus, sedangkan lainnya cenderung kasar. “Di masa lalu, jika barangnya halus, tentunya digunakan masyarakat berkasta tinggi. Begitu pula sebaliknya,” terangnya. Referensi lain menyebutkan, pipisan berasal dari zaman mesolitikum atau zaman batu tengah.

Masyarakat di masa prasejarah itu mengisi harinya dengan berburu atau mengumpulkan makanan. Di masa itu, sebagian masyarakatnya telah memiliki tempat tinggal dan bercocok tanam secara sederhana. Sebagian lagi masih menjalani hidup secara nomaden.

Namun, tempat tinggal yang dipilih umumnya di tepi pantai dan gua. Diperkirakan masa itu berlangsung sekitar 10 ribu tahun silam.Temuan dasar lantai berbahan batu boulder di kotak galian keenam tak kalah misterius. Ornamen batu alam itu dipecahpecah untuk menjadi dasaran lantai.

Sementara pada kotak galian pertama dan kedua, dasar lantai yang ditemukan berbahan batu bata kuno. Padahal, jarak antara kotak galian pertama dan kedua dengan kotak galian keenam hanya terpaut empat meter. Namun, ornamen dari kedua dasar lantai sangat berlainan. “Jika dilihat dari masanya, ornamen batu boulder lebih muda dari batu bata,” ungkapnya.

Dari temuan itu, dapat ditarik kesimpulan sementara bila bangunan besar di antara permukiman dibuat pada dua periodisasi. Sebab, suatu tradisi tidak bisa langsung terputus. Melainkan berlanjut dari satu masa ke masa selanjutnya.

Semula masyarakat menggunakan batu bata sebagai dasar lantai. Namun, seiring berkembangnya zaman, tradisi itu berganti dengan batu boulder. “Jadi, mereka tetap mempertahankan tradisi lama. Tidak ganti zaman langsung hilang begitu saja,” paparnya.

Bahkan, pada kotak galian di tahun sebelumnya yang berada di pojok barat juga ditemukan dasar lantai. Bukan menggunakan ornamen batu bata dan batu boulder, melainkan remukan batu bata yang dipadatkan. Kedalaman seluruh dasar lantai yang ditemukan dari tiga empat kotak galian berbeda, yakni hanya 140 sentimeter. “Nah, kalau lantai berbahan remukan batu bata ini jauh lebih tua lagi,” bebernya.

Sejauh ini, ekskavasi masih difokuskan pada bagian dalam bangunan Situs Kedaton Ngurawan. Itu terlihat dari hasil temuan berupa pecahan tembikar peralatan rumah tangga hingga ketiga dasar lantai yang berlainan bahan.

Diperkirakan, Situs Kedaton Ngurawan terbilang istimewa lantaran dikelilingi pagar keliling atau benteng. “Untuk bagian luarnya, masih belum kami teliti. Masih diperlukan survei ke lokasi lain untuk memastikan perlu tidaknya ekskavasi,” terangnya. (ist)

Add Comment