Salut, Mahasiswa UB Gagas Pekan Suri Jawa

foto
Pekan Suri Jawa oleh mahasiswa UB patut diapresiasi. Foto: Timesindonesia.co.id.

Sekelompok mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) menginisiasi sebuah Program Kreativitas Mahasiswa di bidang Pengabdian Masyarakat (PKM-M). Program tersebut bertajuk gerakan ‘Pendidikan Kebudayaan Sebagai Upaya Rekonstruksi Identitas Budaya Jawa’ atau disingkat Pekan Suri Budaya (PSB)’.

Program ini seperti dilaporkan situs TimesIndonesia.co.id, berawal dari keprihatinan Septa Muhammad Irvan, Ersa Rizky, Ainun Fitriah, dan Rizqi Gilang melihat semakin pudarnya rasa kepemilikan akan tradisi Jawa pada generasi muda saat ini.

Program yang telah diselenggarakan di Desa Gebang, Kecamatan Pakel, Tulungagung, Jawa Timur ini mendapatkan respon antusias positif, baik dari peserta maupun pengelola desa setempat. Tingginya antusiasme masyarakat ini dilatarbelakangi pula oleh nihilnya program pendidikan di Tulungagung yang secara intensif bertujuan untuk melestarikan kebudayaan.

Ketua program PSB Septa Muhammad Irvan menyatakan bahwa program ini bertujuan untuk membangun kembali rasa cinta akan kebudayaan Jawa pada generasi muda di Tulungagung.

“Tujuan jangka panjangnya adalah agar anak muda di Jawa, khususnya di Tulungagung, bisa semakin memahami esensi dasar dari suatu kebudayaan sehingga sejauh apapun mereka merantau, tidak akan kehilangan identitas aslinya sebagai Orang Jawa,” tambahnya disela kegiatan.

Program yang dilaksanakan setiap Sabtu dan Minggu dan telah berjalan selama empat minggu ini diikuti oleh 21 siswa yang saat ini duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar.

Bekerja sama dengan karang taruna setempat dan kelompok Among Mitro selaku kelompok karawitan dan campursari di Tulungagung, program ini berfokus pada tiga kegiatan, yakni pendidikan berbahasa Jawa Halus (Kromo Inggil), aksara dan kesenian Jawa.

Agar lebih menarik, jelas Septa, program ini tidak menggunakan metode pengajaran konvensional. Melainkan mengajak para peserta untuk mendapatkan pengalaman langsung dalam kegiatan berbudaya itu sendiri.

Pendidikan berbahasa Kromo Inggil diajarkan melalui kegiatan bermain peran pasar-pasaran, penulisan aksara digabungkan dengan kegiatan membatik, serta bermain gamelan dan menari sebagai kegiatan pendidikan kesenian Jawa.

“Sehingga anak-anak akan semakin mudah menyerap materi yang diajarkan untuk selanjutnya dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari mereka,” jelas pemuda yang saat ini terdaftar sebagai mahasiswa jurusan Psikologi UB ini.

Dengan dibimbing seorang dosen Psikologi UB, Ika Adita Silviandari, program ini juga telah berhasil lolos pendanaan pada kompetisi bergengsi Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang setiap tahun rutin diselenggarakan oleh Kemenristek Dikti. (ist)

Add Comment