Nyadran : Antara Jagad Cilik dan Alam Kelanggengan

foto
Nyadran, tradisi mendoakan leluhur dan nyekar diikuti membersihkan kuburan. Foto: Maulinniam.files.wordpress.com.

Kompleks pemakaman yang biasanya singup serta lengang, hari-hari ini sedikit ramai. Setiap memasuki bulan Ruwah, orang-orang tampak keluar masuk kawasan yang dianggap wingit tersebut untuk nyadran.

Mereka mendoakan arwah leluhur dan nyekar diikuti dengan membersihkan kuburan dari gulma. Sebagian besar masyarakat yang diasuh oleh kebudayaan Jawa, masih nguri-uri tradisi nyadran yang dikerjakan setahun sekali itu.

Kendati hidup di zaman internet, manusia Jawa tetap menjalankannya demi menjaga ingatan sejarah, merawat silsilah, dan mengenang segepok jasa para pendahulu.

Andre Moller (2005) yang memotret aktivitas Ramadhan di Jawa juga mengungkapkan bahwa tujuan mengunjungi kuburan hingga Idul Fitri tiba berdasarkan keinginan untuk dimaafkan anggota keluarga yang telah tiada.

Kultur Agraris
Bakdi Soemanto dalam kolom Glenak Glenik di Koran Kedaultan Rakyat (8/8/2012), sesorah perihal kegiatan nyadran yang terus dilestarikan. Lewat tokoh Mansieur Rerasan, guru besar UGM tersebut menceritakan, semenjak masih kecil, menjelang bulan Siyam atau Puasa, dirinya bersama keluarga besar trah Tinalan dari garis Kasunanan Surakarta acap menjalankan ritual nyadran.

Menurut sastrawan yang lahir dan besar di kampung Kratonan Solo ini, nyadran memiliki makna penting bagi keluarga besar yang menyambangi makam tempat para leluhur dikebumikan.

Mereka, para anggota keluarga besar itu, berjongkok atau duduk bersila di depan makam setiap leluhur untuk mendoakan agar yang sudah wafat diampuni oleh Gusti Allah.

Nyadran memang tumbuh subur dalam kultur agraris. Kepercayaan lokal yang diusung oleh pendukung kebudayaan pertanian ini menekankan pentingnya relasi tiga alamat: masyarakat manusia, ‘masyarakat’ kakek moyang yang telah tiada, dan ‘masyarakat’ roh-roh abadi.

Dalam kosmologi Jawa, hidup itu suatu kesatuan antara orang-orang yang masih hidup di jagad cilik, leluhur yang sudah tutup buku kehidupan, serta alam kelanggengan.

Jangan terheran walau kuburan hanya berbentuk gundukan tanah dan ditumpangi batu nisan namun dinilai sakral oleh manusia Jawa.

Saking sakralnya akan keberadaan kuburan, dalam koran Darmo Kondo permulaan abad XX yang ditemukan penulis kala riset di Perpustakaan Nasional Jakarta, memuat sederet sinonim tentangnya: kramatan, makaman, hastana, pasarean, danjaratan.

Secuil fakta ini membuktikan, masyarakat tidak sembarangan dalam memandang kuburan, alih-alih merusaknya lantaran dituding sumber klenik karena diyakini bakal kuwalat.

Bahkan, agar tampil indah (menyingkirkan aroma wingit dan keruh), sekeliling pagar tembok area makam lumrah ditanami bunga-bunga nan harum.

Ambillah contoh, alamanda, mawar, melati, dan seruni. Guna menjamin kebersihan dan keamanan permakaman, diangkatlah petugas juru kunci dengan bayaran yang tak seberapa meski saban hari berperang melawan senyap.

Tak jarang melalui juru kunci ini pula, kuburan menjelma menjadi monumen yang menyimpan kepingan riwayat sejarah sekaligus penanda peradaban. Seperti pengalaman sejarawan Universitas Indonesia, Kasijanto Sastrodinomo (2015) tatkala nyadran ke makam tua di Desa Ngarengan, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

Di kuburan lawas itu, menurut penuturan juru kunci, terbaring jasad Pak Sep, Pak Hop, dan Pak Siner, yang tutup usia sekian tahun silam.

Lantaran penasaran akan secuil infomasi tersebut, Kasijanto ‘menodong’ keterangan dari simbahnya yang berumur 83 tahun. Diketahui, ketiga almarhum yang sare di kuburan ini merupakan priyayi alus yang terpandang di desanya.

Menenun Kisah
‘Sep’ ialah perubahan bunyi dari chef, kata Prancis yang diserap Belanda lantas dilempar ke negeri koloni, lengkapnya stationschef ‘kepala stasiun’. Sedangkan ‘hop’ adalah pribumisasi hoofd; lengkapnya hoofdonderwijzer atau hoofdschool ‘kepala sekolah’.

Dan ‘siner’ dipenggal dari opziener ‘pengawas’. Jelas, sistem kolonial mengakrabkan kata-kata asing ini sampai ke pelosok desa.

Demikianlah, tradisi nyadran sejatinya bukan sekadar kegiatan budaya yang mengingatkan kita terhadap kakek moyang, tapi juga menenun kisah sejarah lokal (kampung halaman) yang terserak.

Sebelum Ramadan dan Lebaran tiba, manusia Jawa menyempatkan diri nyekar ke makam leluhur sebetulnya jalan kembali ke ‘rumah sejarah’ setelah terjebak dalam rutinitas. Kita diingatkan supaya tidak lupa pada akar, siapa yang melahirkan kita, dan dimana kita dibesarkan.

(Artikel ini ditulis Heri Priyatmoko MA, dosen Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma, Jogjakarta dan dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 9 Mei 2017/ist).

Add Comment