Raja se-Nusantara Ikut Diklat Pancasila

foto
Ketua MK dan pengurus FSKN dan perwakilan Raja dan Kesultanan se-Nusantara. Foto: Makassar.tribunnews.com.

Raja-raja se-Nusantara mengikuti kegiatan Sosialisasi Pemahaman Hak Konstitusional Warga Negara bagi Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) bertempat di Pusdiklat Mahkamah Konstitusi RI, Cisarua, Bogor, pekan lalu.

Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Arief Hidayat dalam sambutannya mengharapkan pihak kerajaan melalui FSKN dapat menjadi panutan terhadap peningkatan pemahaman, kesadaraan dan ketaatan terhadap nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.

Seperti dilaporkan Tribun-Timur.com, hadir kurang lebih 75 perwakilan dari Keraton, Kesultanan, Kesepuhan seluruh Nusantara yang sengaja diundang khusus yang nantinya akan bersama-sama merumuskan sebuah rekomendasi mengenai hak konstitusional keraton se-Nusantara bagi pemerintah.

Sosialisasi ini dikemas dalam bentuk ceramah dan studi kasus menghadirkan sejumlah narasumber antara lain pakar hukum Mahfud MD, Yudi Latif, Susi Dwi Hariyanti, Hesti Armiwulan, dan mantan Sekjen MK Janedjri M Gaffar serta Laksamana Yani Antariksa.

Selama empat itu, para raja, pemangku adat dan pengurus keraton/kerajaan ini akan memperoleh materi dan berdiskusi mencakup reaktualisasi implementasi Pancasila, konstitusi dan konstitusionalisme, penyelenggaraan negara menurut UU, hak konstitusional dan HAM, dan Mahkamah Konstitusi dalam Sistem Ketatanegaraan.

Kerajaan ataupun kesultanan yang hadir meliputi Kerajaan-kerajaan Sumatera yaitu Kerajaan Karang, kedatuan lampung, kesultanan serdang, Kesultanan Jambi, Kesulatan Skala brak, Kesultanan Deli, dan Kerajaan Jambu Lipo. Kesultanan Palembang darussalam

Kerajaan yang berada di pulau Jawa sendiri yakni Puro Pakualaman Jogjakarta, Kesultanan Kesepuhan Cirebon, Masyarakat Adat Bandung, Masyarakat Adat Pasundan, Masyarakat adat Cirebon, Keraton Sumedang Larang, Kesultanan Sumenep.

Selain itu juga kerajaan lainnya seperti Kedatuan Pejanggik Lombok (NTB), Kerajaan Lanrantuka Flores (NTT), Kerajaan Tetnai (NTT), Kerajaan Kupang (NTT), Kerajaan Muna (Sultra), Kerajaan Kalisusu (Sultra), Kerajaan Polaeng (Sulteng), Kerajaan Buton, Masyarakat Adat Bajo, Kerajaan Moro Nene (Sulteng), Kerajaan Kabena (Sultra).

Juga ada Kesultanan Ternate (Maluku), Kesultanan Jailolo (Maluku), Kesultanan Jailolo (Maluku), Kerajaan Matan Tanjung pura (Kalimantan), Kerajaan Cantung (Kalsel), Kerajaan Bulungan (Kaltara), Kesultanan Kutai Kartanegara, Kesultanan Paser, Kesultanan Sekar Sorong Papua.

Kerajaan di Sulawesi Selatan sendiri menjadi peserta terbanyak. Nampak hadir Kesultanan Gowa I Maddusila Daeng Manyonri Karaeng Katangka Sultan Aluddin II, Raja Gowa ke-37 bersama Perdana Menterinya Andi Bau Malik Barammasse, Hj Andi Yulianti.

Selanjutnya Kedatuan Luwu diwakili Opu Cenning dan Andi Canna, Dewan Adat Karaeng Galesong Aminuddin Salle, Kerajaan Enrekang Andi Ibrahim, Kedatuan Sidenreng Firdaus Dg Sirua, Kerajaan Cinnong Andi Johar, Kerajaan Balusu Toraja Susana Seli Matandung, Kerajaan Garasingkang, dan Kerajaan Suppa diwakili Nur Bau Massepe.

Sesi penutupan para Yang Mulia, dan pimpinan kerajaan, kesultanan dan kedatuan dan dewan adat ini dibagi kedalam beberapa komisi yang akan bertugas memberi rekomendasi kepada MK terkait masalah-masalah terkini kaitannya dengan adat istiadat, budaya serta masalah sengketa antara keraton dan pemerintah daerah.

Asian African Carnival
Usai mengikuti diklat di MK mereka menghadiri acara Asian African Carnival 2017 di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu (14/5). Selain raja-raja se-Nusantara, gelaran untuk memperingati 62 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) ini juga dihadiri delegasi dari 20 negara sahabat.

Para raja adalah peserta Musyawarah Agung Keraton 2017 yang akan berlangsung di Kota Cirebon. Mereka sengaja hadir untuk memeriahkan karnaval yang mengusung semangat persahabatan itu. Raja-raja se-Nusantara bukan hanya hadir menyaksikan karnaval, tapi turut ambil bagian.

Seperti, Kerajaan Gowa Sulawesi Selatan, Kesultanan Bulungan Kalimantan Utara, Kesultanan Kasepuhan Cirebon, dan Kesultanan Buton Sulawesi Tenggara, menampilkan tarian dan pakaian adat mereka.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung Kenny Dewi Kaniasari mengatakan acara ini bertajuk “Celebrating Culture, Celebrating Differences” alias Merayakan Budaya, Merayakan Perbedaan. Tema tersebut memiliki makna perbedaan adalah pemersatu, seperti Bhineka Tunggal Ika.

“Perbedaan budaya dan adat istiadat tidaklah menjadi hal penting untuk diperdebatkan. Justru sebaliknya, perbedaan tersebut harus menjadikan kita bersatu, sehingga keberagaman ini akan menjadi sesuatu yang mempererat hubungan antarnegara,” kata Kenny.

Sebelumnya, FSKN menganugerahi Ridwan Kamil, Bupati Bandung sebagai Tokoh Budaya Nusantara atas jasa dan dedikasinya terhadap bangsa dan negara dalam memajukan kebudayaan sebagai Nusantara. (ist)

Add Comment