Teladani Sesepuh dengan Pentas Wayang

foto
Pergelaran wayang kerap jadi puncak acara ruwah desa. Foto: Jawapos.com.

Tangan dalang Ki Abbas mengangkat tokoh yang berciri khas busana kebesaran berupa Kutang Antakusuma. Kisah kesatria sakti mandraguna tersebut sukses menyedot perhatian para penonton.

Gatotkaca menjadi lakon utama dalam pergelaran wayang berjudul ‘Temurune Wahyu Sudi Tomo’ di Desa Modong, Kec Tulangan, Kab Sidoarjo, Sabtu (20/5) malam.

Penonton yang memenuhi Balai Desa Modong malam itu bukan hanya masyarakat desa setempat. Warga dari berbagai desa yang ingin melihat pertunjukan tersebut pun berduyun-duyun datang. Ada yang dari wilayah Kecamatan Tulangan. Banyak pula yang dari Krembung dan Wonoayu.

Lukman Amirullah, warga Desa Kepatihan, Tulangan, mengatakan menyukai pertunjukan wayang. “Teman seusia saya ya bisa dihitung yang masih suka (wayang). Tapi, menurut saya, wayang itu kebudayaan yang berharga,” tuturnya, seperti dikutip Jawapos.com.

Lukman selalu penasaran dengan tokoh utama di setiap pertunjukan wayang. “Biasanya dikisahkan sesuai dengan penggambaran sebuah daerah di momen tertentu,” katanya.

Pernyataan tersebut klik dengan pertunjukan wayang di Desa Modong waktu itu. Pergelaran wayang merupakan acara puncak dari rangkaian Ruwah Desa.

Kepala Desa Modong Masduqi menyatakan, alur cerita Gatotkaca menerima wahyu dari Betoro sengaja dipilih untuk menggambarkan jasa para leluhur desa.

“Gatotkaca ini kan istilahnya manusia terpilih yang bisa membawa pengaruh baik ketika mendapat pesan dari Betoro. Ya seperti Ki Gede Modong Mbah Ibrahim dahulu,” paparnya.

Dia berupaya menyampaikan pesan kepada masyarakatnya bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang menyebarkan kebaikan. Achmad Sholehuddin, Kasi Kesejahteraan Desa Modong, menambahkan bahwa kegiatan Ruwah Desa merupakan agenda wajib setiap tahun.

Salah satu acara yang tidak pernah ketinggalan adalah mengadakan pengajian masal di makam Ki Gede Modong Mbah Ibrahim yang merupakan leluhur desa.

“Tujuan utamanya dua. Merefleksikan kembali perjuangan sesepuh yang babat desa ke generasi sekarang dan berdoa supaya jauh dari bencana,” ucapnya.

Sebagai ketua pelaksana rangkaian acara, Sholehuddin juga tidak mau melewatkan momen bertajuk ‘Malam Penuh Sholawat’. Semalam suntuk ada penampilan salawat dan banjari dari 12 kelompok asal Tulangan dan Porong.

“Biar desa diselimuti aura baik. Masyarakatnya aman dan sejahtera,” ungkapnya. Rangkaian Ruwah Desa Modong dihelat selama empat hari.

Di Desa Cangkringturi, Kecamatan Prambon, kemeriahan Ruwah Desa juga terlihat. Minggu (21/5) puluhan warga memadati Balai Desa Cangkringturi. Mulai anak-anak hingga orang tua. Beragam makanan mereka bawa dari rumah masing-masing. Ada nasi, sayur, lauk, sampai buah-buahan.

Makanan tersebut dikumpulkan menjadi satu, lalu dibagikan secara acak kepada warga lainnya. Jadi, antarwarga bisa mencicipi makanan yang dibuat warga lain. Sebelum makan bersama, tidak lupa berdoa.

Dengan acara tersebut, mereka berharap bisa terhindar dari masalah, tetap guyub, dan rezekinya lancar. Yang bertani bisa panen melimpah. Yang berwirausaha bisa untung banyak.

Malamnya ada rutinitas tahunan dalam Ruwah Desa di Dusun Turi. Yakni, pergelaran wayang kulit dengan dalang Ki Pitoyo dari Mojokerto. “Setiap tahun warga menanti itu, selalu ada wayangan,” kata Kepala Desa Cangkringturi Abdul Karim Darsono. (ist)

Add Comment