Sanggar Baladewa, Anak dan Seni Tradisional

foto
Hario mengajarkan cara menggunakan wayang di sanggar Baladewa Cak Durasim Surabaya. Foto: Jawapos.com.

Belasan anak duduk sambil sesekali bercanda di tengah ruangan yang sore itu tampak lengang. Gedung Sawungsari UPT Taman Budaya Jawa Timur. Tidak banyak peralatan yang tersisa di dalam ruang gamelan tersebut.

”Gamelane dipake untuk acara. Jadi, hari ini cuma bisa latihan wayang,” tutur Hario Widyoseno, penanggung jawab Sanggar Baladewa sekaligus pelatih wayang kepada Jawapos.

Ya, sanggar tersebut memang tidak hanya mengajarkan tentang bagaimana menjadi dalang. Para anggota yang masih belia pun diharuskan belajar menabuh gamelan dan menjadi sinden khusus untuk anak perempuan.

Baladewa memang memfokuskan diri pada kesenian tradisional. Pada awalnya, Rio –sapaan akrab Hario– bersama rekan-rekannya ingin memanfaatkan fasilitas di UPT Taman Budaya Jawa Timur.

Berlatar belakang kecintaan pada seni tradisional, muncul ide membentuk Sanggar Baladewa yang berfokus pada anak-anak. Semua itu berawal pada Juli 2010.

”Awalnya, cuma lima atau enam anak. Itu pun anaknya teman-teman kita,” kenang Rio. Meski sedikit kecewa, mereka tetap mendidik anak-anak tersebut dengan serius. Hingga akhirnya datang tawaran untuk pentas dalam suatu acara.

Namun, kegembiraan itu hanya sebentar. Tawaran manggung ternyata dibatalkan secara sepihak. Mereka sama sekali tidak tahu alasannya. ”Untung, waktu itu gamelannya belum dibawa ke sana. Kalau sudah, kan kecewanya jadi bertambah,” lanjutnya.

Pembatalan itu tidak lantas membuat pelatih dan anggota sanggar merasa putus asa. Mereka tetap berlatih setiap Sabtu dan Minggu sore di Taman Budaya bersama dengan sanggar lain. Dari sanalah kiprah Sanggar Baladewa mulai terlihat.

Sering bertemu saat latihan membuat beberapa orang tua melirik Baladewa. Anak-anak mereka yang belum ikut sanggar pun dimasukkan ke Baladewa. Bahkan, ada yang rela berhenti dari sanggar tari untuk masuk secara total ke Baladewa.

”Ada juga yang berawal dari nganter kakaknya. Terus, lama-lama tertarik hingga akhirnya ikut bergabung,” tutur staf Taman Budaya itu.

Salah satunya adalah Nadhif Ikmalsyah. Bocah kelas VII SMP itu sebenarnya sama sekali tidak tertarik pada wayang maupun seni tradisional lainnya. Namun, karena sering mengantar sang kakak berlatih, akhirnya Nadhif penasaran ingin mencoba.

”Dikatain gini sama orang tua. Kalau cuma nganterin, ya enggak berguna,” tutur siswa SMPN 7 Surabaya tersebut. Karena itu, dia akhirnya ikut menjadi anggota Sanggar Baladewa. Lama-kelamaan, Nadhif justru jatuh cinta pada seni karawitan. Bahkan, segala jenis alat karawitan bisa dia mainkan.

Cerita berbeda datang dari Ernanda Bima Megantara. Bocah yang akrab disapa Nanda itu memang tertarik pada wayang sejak dahulu. Apalagi dia juga mewarisi darah dalang dari kakeknya.

Dia bahkan pernah dipercaya mewakili Surabaya dalam lomba dalang bocah se-Jawa Timur. ”Tetapi, tetap belajar karawitan. Soalnya, kalau di sanggar, semua harus serbabisa,” jelasnya.

Gaung nama Sanggar Baladewa mulai terdengar sejak tampil di Unesa sekitar 2011. Setelah itu, mereka mulai berani tampil di berbagai lomba. Apalagi, jumlah anggotanya semakin bertambah. ”Awalnya, kita ikut kompetisi supaya anak punya motivasi. Bukan untuk menang,” ucap Rio.

Para pelatih tidak ingin membuat mental mereka down. Pasalnya, mereka adalah orang baru. Jika ikut kompetisi dan kalah, mereka dikhawatirkan tidak mau lagi belajar dalang.

Karena itu, pada 2013, Sanggar Baladewa memboyong anak-anak untuk mengikuti Temu Dalang Bocah Nusantara di Solo. Satu orang berperan sebagai dalang dan 20 orang lain sebagai pengrawit maupun sinden.

Dalam acara tersebut, tidak ada kategori menang-kalah. Semua mendapatkan piala dengan kategori yang berbeda-beda. ”Sistem kayak gini juga menjadi siasat agar mental anak-anak tidak jatuh,” lanjut pria kelahiran 12 September 1977 tersebut.

Sejak tampil di Solo, nama Baladewa semakin melejit. Perlahan-lahan, pemerintah Kota Surabaya melalui dinas pendidikan mulai memberikan kepercayaan. Baladewa sering didapuk untuk tampil mewakili Surabaya. Berbagai piagam penghargaan telah diraih anak-anak sanggar.

Lantas, apa rahasia para pelatih hingga bisa membuat anak-anak mau belajar semua jenis kesenian? ”Yang penting itu telaten. Kalau anak lagi nggak, mood ya sudah. Jangan dipaksa,” tutur Rio. Apa yang mereka sukai, biasanya itulah yang lebih dahulu diajarkan. Baru secara pelan-pelan mereka dikenalkan pada kesenian lain.

Tidak jarang, ada anak yang sama sekali tidak mau belajar kesenian lain, maunya berfokus pada satu jenis. Kalau sudah begini, para pelatih akan memaksa mereka untuk berlatih. ”Biasanya, kami carikan event. Lalu, anak itu kami pilih untuk jadi wakil. Kalau begitu, mau tidak mau kan dia harus belajar,” lanjut bapak tiga anak itu, lantas tertawa.

Materi yang diberikan pun tidak langsung berupa wayang purwa. Bagi anak-anak yang tidak mempunyai dasar suka wayang, pelatih sanggar biasa menggunakan wayang karakter untuk belajar. Misalnya, Barbie dan hewan-hewan. ”Kalau dikasih wayang purwa, ya mereka bisa bingung dan jadi malas belajar,” imbuhnya.

Namun, bagi yang memang memiliki dasar kecintaan terhadap wayang, seperti Nanda, cerita wayang purwa lah yang diajarkan. Ceritanya sudah disederhanakan. Unsur-unsur yang kurang sesuai untuk anak dihilangkan. Misalnya, adegan asmara laki-laki dan perempuan.

Hampir tujuh tahun berlalu. Tak banyak yang berubah dari Baladewa. Mereka masih konsisten mengajarkan wayang, sinden, dan karawitan kepada anak-anak. Dua pelatih wayang, satu pelatih karawitan, dan satu pelatih vokal.

Hanya jumlah muridnya yang bertambah. Dari enam orang, kini sudah 45 orang. Dari yang pernah dibatalkan, kini jadi sering diundang ke berbagai acara. Pelatih pun harus pandai membujuk agar tidak ada anak yang iri karena tidak bisa ikut pentas. (ist)

Add Comment