Tradisi Pawai Obor dan Tumpeng Tanjang di Gresik

foto
Ada tradisi pawai obor dan membuat lampion di Gresik. Foto: Gresiknews.co.

Indonesia memang dikenal memiliki ragam budaya. Setiap daerah memilik tradisi yang kini masih terpelihara. Membahas mengenai bulan puasa, ada tradisi menyambut Ramadan yang tak boleh terlupakan.

Seperti di Manyar Sidomukti, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Usai salat Isya, wilayah yang terletak di daerah pesisir itu mendadak ramai. Semakin malam, acara yang digawangi anak-anak dan remaja ini kian semarak.

Ratusan warga berjalan kaki dan pawai membawa obor serta puluhan tumpeng tanjang. Tanjang merupakan tanaman bakau khas Manyar yang digunakan warga pesisir untuk menjaga lingkungan perairan mereka.

“Tradisi ini sebagai bentuk rasa syukur menyambut ramadan. Ini sekaligus mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga ekosistem dengan bakau atau tanjang ini,” jelas Ketua Panitia M Miftah Farid seperti yang dilansir Radar Gresik (Jawa Pos Group), beberapa waktu lalu.

Kegiatan yang digagas Komunitas Arek Manyar Pecinta Alam (Armapala) ini, diikuti masyarakat dari berbagai kalangan. Mulai anak-anak, hingga orang tua pada malam hari.

Mereka berjalan melalui perbatasan Desa Manyar Sidorukun dan Desa Manyar Sidomukti yang jaraknya mencapai 3 kilometer untuk menuju balai nelayan Manyar Sidomukti.

Tumpeng yang dibawa, diberi hiasan tanaman bakau tanjang untuk simbolis. Para peserta kirab ini membawa 60 tumpeng tanjang, dan ratusan obor kayu dengan iringan shalawatan.

Setelah tiba di balai nelayan yang dekat dengan bengawan Kalimireng, ratusan masyarakat ini melepaskan kurang lebih 300 lampion untuk penutup kirab sekaligus rangkaian festival jajanan pesisir. “Sudah menjadi tradisi warga Manyar dan sekitarnya,” ungkap dia.

Sebelum kirab berjalan, digelar juga festival jajanan pesisir yang menarik perhatian masyarakat. Jajanan pesisir ini terilang legendaris dan jarang ditemui. Di antaranya sate pasungan, bubur sagu, sego jagung, hingga beraneka ragam kerang.

Rangkaian menyambut ramadan ini bisa mengingatkan warga akan makanan tradisional juga. “Harapannya masyarakat semakin sadar akan kearifan lokal dan kondisi lingkungan yang dikelilingi pabrik. Sebab dampaknya juga akan terasa dalam penghasilan nelayan,” sebutnya.

Ketua Umum Komunitas Armapala M Najib berharap, dari kegiatan kirab ini bisa meningkatkan kerukunan warg dan menjaga budaya lokal.

Mengingat antusias masyarakat yang juga meningkat, disebut Najib menjadi salah satu kesuksesan menggait perhatian masyaakat luas. “Rasa syukur yang dilakukan bersma ini bisa menjadi hal yang bisa ditiru masyarakat pesisir lainnya,” ungkapnya. (ist)

Add Comment