Membangunkan Orang Sahur Dengan Angklung

foto
Sekelompok pemuda Desa Sumberjo Kulon bermain angklung di teras rumah warga. Foto: JawaPos.com.

Setiap daerah memiliki tradisi tersendiri dalam memeriahkan bulan Ramadan. Masyarakatnya tidak hanya sekadar pergi ngabuburit, atau kumpul bersama menjelang waktu berbuka dengan beragam kegiatan ringan lainnya.

Di Desa Sumberjo Kulon, Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur ada sekelompok pemuda yang memiliki kegiatan unik untuk membangunkan orang sahur. Yakni memainkan alat musik dari bambu atau angklung dengan berkeliling desa.

Menariknya mereka memainkan alat musik ini tanpa menggunakan alat pengeras suara. Nada yang dihasilkan pun indah dan penuh dengan beragamam sesuai dengan lagu-lagu yang sedang hits.

Radar Tulungagung (Jawa Pos Group) menyambangi sekelompok anak muda itu yang kebetulan sedang bermain alat musik bambu di Desa Sumberjo Kulon, Kecamatan Ngunut pada awal Ramadan lalu.

Saat itu para penggawanya mengaku sedang mengasah kemampuannya untuk dipersiapkan pada bulan Ramadan. Apalagi tradisi di desa setempat, memang lazim membangunkan sahur dengan alat musik bambu.

Zidni Fuadi Syahrul Munir, salah satu pemain mengatakan, tradisi memainkan alat musik bambu untuk membangunkan orang sahur sudah ada sejak lama.

Dengan alat tradisional dirasa lebih nges dibanding menggunakan sound system yang suaranya lebih menggelegar. “Ini sekaligus untuk melestarikan alat musik tradisional,” katanya seperti dikutip jawapos.com.

Menurut dia, sebelum Ramadan latihan lebih intensif. Khususnya meramu lagu-lagu baru dengan aransemen baru agar lebih enak lagi didengar. Sehingga mereka tetap mengikuti tren yang lagi hits di masyarakat. Entah lagu pop, campursari, Banyuwangen, dan lain sebagainya. “Kalau kebetulan ada orang tua yang meminta tayub, ya kami layani saja,” jelasnya sambil tertawa.

Diakui pemuda yang akrab disapa Zidni ini, kemampuan yang dimiliki setiap pemain berasal dari otodidak. Tetapi sesekali juga harus membuka YouTube untuk mencari referensi. “Untuk alat musiknya ada yang buat sendiri maupun beli,” ungkapnya sambil menunjukkan angklung yang dipesan dari Bandung, Jawa Barat.

Hal senada diungkapkan Shandy Iza Fadilla, pemain lain. Menurut dia, tradisi ini jarang ditemui di tempat lain. Meskipun sebenarnya di lingkup Tulungagung cukup banyak kelompok musik demikian. “Ada banyak sebenarnya kelompok musik demikian. Tetapi kami sesekali juga tanggapan,” ujarnya sambil tersenyum.

Disinggung apa yang akan dilakukan jika saat membangunkan orang sahur bertemu kelompok lain yang menggunakan pengeras suara, remaja berkulit sawo matang ini mengaku tidak berhenti memainkan alat musik.

Bahkan kalau perlu jor-joran agar suasana lebih ramai. “Yang penting tetap tertib, dan kami pun harus mengkader adik-adik kami agar tradisi ini tetap lestari,” akunya.

Sesaat kemudian kelompok anak muda ini kembali memainkan alat musik yang dipegang masing-masing. Tidak berselang lama mengalun lagu Suket Teki yang dipopulerkan Didi Kempot. Bahkan beberapa orang yang menonton juga ikut berdendang. (ist)

Add Comment