Menggugah Kesadaran Alam Lewat Permainan Tradisional

foto
Kegiatan Dolanan untuk anak-anak diselenggarakan Pendowo Bangkit di Desa Lakardowo, Mojokerto. Foto: Ecoton.

Perkumpulan Penduduk Lakardowo Bangkit (Pendowo Bangkit) menyelenggarakan kegiatan Dolanan dan Sensus Serangga Air di desa Lakardowo, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Lewat kegiatan itu, mereka mengajak anak-anak untuk mengenal lingkungan sekitar.

Lebih dari 150 peserta, anak-anak hingga dewasa, seperti dilaporkan Mongabay.co.id, bermain bersama sambil menyanyikan tembang-tembang tradisional. Ada lebih dari 7 macam permainan diperagakan.

Ridho Saiful dari Komunitas Republik Dolanan menjadi pemandu. Sebelum memulai permainan, dia menjelaskan sejumlah aturan, mengingatkan untuk menaati hasil akhir, membagi peran hingga memperkenalkan nada-nada yang akan dinyanyikan.

Di akhir permainan, kelompok yang mendapatkan poin tertinggi, serta atlit dolanan yang dinilai tangkas dan cekatan, memperoleh penghargaan khusus. Kepada mereka, penyelenggara kegiatan mengalungkan medali yang terbuat dari janur.

“Wah!!!” Ridho mengungkapkan antusiasme peserta. “Dari pembukaan hingga selesai jumlah orang tidak berkurang. Mereka menikmati.”

Dia percaya, semangat peserta timbul karena permainan tradisional bisa mengintegrasikan unsur edukasi, hiburan, olahraga, kesenian dan kebudayaan.

Contohnya, Gancetan, permainan yang dilakukan dengan menautkan tumit masing-masing peserta. Sambil bermain, mereka juga menyanyikan tembang Gundul-Gundul Pacul. Sehingga, tanpa kekompakan, keseimbangan akan hilang.

“Satu kaki memang punya kita, tapi kaki lain punya orang. Ketika satu kaki kita paksakan, egois, sesuka hati, ritme akan terganggu. Bisa jatuh. Itu yang kita tanamkan,” terang Ridho beberapa waktu lalu.

Permainan tradisional juga dinilai memudahkan anak-anak untuk belajar pendidikan karakter. Mereka dapat memahami kekuatan diri, kekuatan teman atau orang lain, memahami perbedaan, serta membuka filosofi konsep kesadaran.

Konsep kesadaran, tambah Ridho, memiliki 3 aspek. Pertama, sadar alam. Artinya, hampir semua permainan tradisional bersahabat dengan alam. Itu terlihat dari sumber daya yang digunakan, misalnya batu, pasir, tanah, air, daun, rerumputan, api hingga angin.

Kedua, sadar kreasi. Ini berarti, sumber daya yang tersedia dikreasikan dalam bentuk permainan. Secara topografis permainan tradisional memiliki keunikan tersendiri, tergantung kondisi sekitarnya.

Aspek ketiga adalah sadar hukum. Sebab, ketika anak-anak sudah mengenal permainan tradisional, maka mereka sudah bisa membuat konsensus.

“Enggak boleh cari celah berbuat curang. Kalau ketahuan bisa dapat hukuman. Mereka bisa secara mudah menegakkan hukum. Kamu nakalan (curang), enggak boleh ikut main,” terang Ridho. “Namun, uniknya, walau terjadi perselisihan, mereka dengan cepat bisa main bersama lagi.”

Kearifan lokal nampak pula dalam tembang-tembang dolanan, misalnya Gundul-Gundul Pacul. Dalam tembang itu, kepala dimaknai sebagai tempat berpikir, menganalisis dan mengambil sikap. Gembelengan berarti banyak tengok atau tidak fokus. Sedangkan, wakul adalah wadah untuk menampung amanat.

“Kalau nyunggi wakul tidak fokus, nasinya bisa tumpah,” Ridho menambahkan. “Maknanya, jika dilimpahi air yang baik, hutan yang baik, tapi karena pemimpinnya gembelengan, ya, hasilnya tidak bisa dinikmati.”

Contoh lain adalah tembang Kidang Talun, yang mengisahkan sejumlah satwa seperti kijang, tikus dan gajah. Menurut Ridho, tembang dolanan selalu menghadirkan metafora yang sarat keindahan, sekaligus edukatif.

“Kidang talun mangan kacang talun. Mil-kethemil, mil-kethemil. Si kidang mangan lembayung,” demikian syair pada bait pertama, yang disambung, “Tikus pithi nduwe anak siji, cit-cit cuit, cit-cit cuit.”

Kijang diumpamakan sebagai hewan yang lincah, manis, menggemaskan dan makan secukupnya. Sedangkan, tikus diartikan sebagai binatang yang hanya berani keluar ketika tidak ada orang, suka mengambil diam-diam tapi berisik.

“Maju perang wani mati berarti kalau punya tujuang baik jangan takut,” terang Ridho, “(Itu juga berarti) Perang tertinggi adalah melawan diri sendiri. Mengalahkan hawa nafsu dan tidak pamrih saat melakukan hal baik.”

Pada bait terakhir, terdapat syair “Gajah belang saka tanah sabrang. Nuk legunuk, nuk legunuk. Gedhene meh padha gunung”. Bagian ini, dinillai menguatkan peribahasa “gajah di pelupuk mata tak nampak, kuman di seberang lautan nampak”.

“Ini bangsa yang kreatif. Tiap permainan punya tujuan, dan makna filosofis. Jika kita tanamkan, dan jadi keyakinan, maka kita bisa saksikan masa depan yang punya harapan,” terangnya. (ist)

Add Comment