Tari Parang Barong Bojonegoro Bakal Wakili Jatim

foto
Tari Parang Barong mengadopsi cerita di Bojonegoro. Foto: Foto: Detakpos.com.

Tari Parang Barong karya koreografer Regy Amadhona Prastika yang meraih penyaji dan penata tari terbaik dalam Fesival Karya Tari se-Jawa Timur, berpeluang mengikuti ajang Festival Karya Tari Nusantara di Jakarta, pada Oktober 2017.

Kasi Budaya dan Kesenian Disbudpar Bojonegoro Yanto Munyuk di Bojonegoro, menjelaskan Tari Parang Barong meraih penyaji dan penata tari terbaik dalam Festival Karya Tari se-Jawa Timur, di Surabaya Mei 2017 lalu.

Dengan perolehan penghargaan itu, kata dia, Dinas Pariwisata Jawa Timur, sudah memberikan sinyal bahwa Tari Parang Barong yang mengadopsi ceritera Ki Andong Sari maju mewakili Jawa Timur, di ajang festival Karya Tari Nusantara di Jakarta.

“Kami ketika di Surabaya setelah Tari Parang Barong meraih penyaji dan penata tari terbaik oleh pihak Dinas Pariwisata Jatim sudah disuruh bersiap-siap untuk mewakili Jawa Timur,” tegasnya seperti dilaporkan Antarajatim.

Di ajang Festival Karya Tari se-Jawa Timur itu, kata dia, masih ada dua tari lagi yang juga menyabet penjaji dan penata tari terbaik yaitu Tari Ombyak Trimurti karya Fahmida dan Nihaya asal Ponorogo, dan Tari Omprog Trimurti karya Subari Sofyan asal Banyuwangi. “Kami masih belum tahu langkah selanjutnya untuk persiapan di ajang Festival Karya Tari Nusantara di Jakarta,” ucapnya.

Yang jelas, menurut dia, di ajang Festival Karya Tari Nusantara di Jakarta bisa saja para penarinya tetap memanfaatkan sembilan penari yang tampil di Jawa Timur. “Tapi bisa juga penarinya diganti disesuaikan,” ucapnya.

Ia memberikan gambaran Tari Kahyangan Api karya koreografer Deny Ike Kirmayanti yang pernah mewakili Jawa Timur di ajang Festival Karya Tari Nusantara di Jakarta, pada 2015 juga diadakan perubahan penari.

Di ajang itu Tari Kahyangan Api mampu keluar sebagai juara dan memboyong piala bergilir Presiden RI Idalam Parade Tari Nusantara ke-34 di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, pada 22 Agustus 2015. “Penari asli hanya tersisa tiga orang, karena lainnya memanfaatkan penari dari Surabaya,” ucapnya.

Tari Parang Barong mengadopsi kisah sejarah Ki Andong Sari di Kelurahan Ledokkulon, Kecamatan Kota. Di dalam kisah Ki Andong Sari dan Nyi Sari (Istrinya), sebagai keturunan keraton, menetap di Kelurahan Ledokkulon, Kecamatan Kota, karena sedang menyamar.

Kepada istrinya Ki Andong Sari berpesan jangan mengenakan jarit dengan motif Parang Barong, tetapi kemudian larangan itu dilanggar Nyi Sari yang nekad mengenakan jarit motif itu.

“Nyi Sari sengaja melanggar larangan itu karena ingin tahu penyebab tidak diperbolehkan mengenakan kain motif Parang Barong,” katanya. (ant)

Add Comment