Rawat Ruwat Ranu, Budaya Melestarikan Lingkungan

foto
Acara Rawat Ruwat Ranu Klakah Lumajang diatas danau. Foto: Lumajangsatu.com.

Kegiatan “Rawat Ruwat Ranu” di Ranu (danau) Klakah, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur merupakan kampanye pelestarian lingkungan melalui jalan kebudayaan.

“Kegiatan ini digagas juga dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan dan dengan menggelar acara ini masyarakat diajak untuk merawat dan meruwat sumber kehidupan yang berada di Ranu Klakah,” kata Koordinator Laskar Hijau A’ak Abdullah Al-Kudus seperti dikutip Antarajatim di Lumajang.

Menurutnya Gunung Lemongan yang merupakan benteng ekologi Kabupaten Lumajang wilayah utara yang memiliki total 13 ranu dan tujuh danau di antaranya berada di wilayah Kabupaten Lumajang, sedangkan sisanya berada di Kabupaten Probolinggo.

“Ranu-ranu itu memiliki fungsi yang sangat vital bagi masyarakat, khususnya untuk air minum, irigasi, perikanan, juga sektor parwisata, sehingga perlu dijaga dengan baik,” tuturnya beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan pembalakan liar yang terjadi pada kisaran tahun 1998-2002 telah meluluhlantakkan kawasan hutan lindung di Gunung Lemongan, sehingga berdampak langsung pada 13 ranu yang indah tersebut.

“Salah satunya Ranu Klakah, yakni tidak kurang dari 25 mata air di Ranu Klakah yang kemudian mati akibat perusakan hutan di Gunung Lemongan, dan sekarang tinggal enam mata air saja,” katanya.

Padahal Ranu Klakah itu menjadi tumpuan irigasi bagi 620 hektare areal persawahan yang ada di sekitarnya. Degradasi ekologi itu juga terjadi pada ranu-ranu yang lain, bahkan Ranu Kembar di Desa Salak, Kecamatan Randuagung, menjadi kering.

“Kondisi kerusakan itulah yang memantik para relawan Laskar Hijau untuk melakukan gerakan konservasi di Gunung Lemongan dan di ranu-ranu yang ada di sekitarnya sejak 2005,” ujarnya.

Selain melakukan penghijauan, para relawan Laskar Hijau tersebut juga melakukan kampanye-kampanye pelestarian lingkungan, salah satunya dengan jalan kebudayaan, seperti ruwatan di Ranu Klakah.

“Kegiatan serupa pernah dilakukan di tempat yang sama oleh Laskar Hijau sejak tahun 2006- 2010 dengan tema ‘Maulid Hijau’. Bedanya, kali ini panggung yang digunakan mengapung di atas air dengan ukuran 20 x 10 meter,” ucapnya.

Acara ‘Rawat Ruwat Ranu’ diawali dengan istighosah kubro bersama warga sekitar Ranu Klakah dan dihadiri Bupati Lumajang As’at Malik, kemudian dilanjutkan dengan pergelaran budaya yang meliputi seni tari, musik dan teater dari seniman-seniman Lumajang, Malang dan Probolinggo.

“Mereka berpartisipasi secara sukarela karena kepeduliaannya kepada pelestarian budaya dan lingkungan. Panggung ini adalah panggung rakyat, siapapun boleh hadir menyaksikan dan menampilkan karya seninya,” ujarnya.

A’ak mengatakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lumajang sebagai pendukung kegiatan tersebut berencana akan menjadikan acara “Rawat Ruwat Ranu” sebagai kegiatan tahunan pemkab.

Bupati Lumajang As’at Malik mengapresiasi kegiatan pelestarian lingkungan yang menggabungkan dengan kebudayaan berbasis kearifan lokal wilayah setempat.

“Acaranya memang unik karena digelar di atas air. Semoga dengan acara ini dapat memberikan motivasi kepada masyarakat untuk terus melakukan penghijauan, agar keberadaan Ranu Klakah tetap lestari dan memberikan manfaat kepada masyarakat, khususnya warga di sekitar Ranu Klakah,” tuturnya.

Ia mengatakan Ranu Klakah merupakan salah satu aset wisata di Lumajang yang cukup potensial, sehingga keberadaannya harus dijaga dan dilestarikan. (ant)

Add Comment