Menghidupkan ‘Kampung Majapahit’ untuk Masyarakat

foto
Program pemberdayaan masyarakat Kampung Majapahit di Trowulan. Foto: PIH Unair.

Dibangunnya duplikat rumah khas kampung Majapahit di tiga desa di sekitar situs Kerajaan Majapahit di Desa Sentonorejo, Bejijong dan Jati Pasar, di Trowulan, Kabupaten Mojokerto diharapkan menjadi destinasi wisata dan menjadi barometer kunjungan wisatawan.

Harapan lebih jauh, hidupnya arena wisata itu akan mendongkrak perekonomian masyarakat setempat dengan tumbuhnya usaha kreatif yang menyertainya. Sayangnya, fakta yang ada, hingga saat ini tidak ada program lanjutan yang dapat mendukung adanya ‘Kampung Majapahit’ tersebut, dengan demikian harapan perekonomian baru pun terhambat.

Terdorong adanya problema inilah mahasiswa FISIP Universitas Airlangga (Unair) menerjunkan diri dan menawarkan suatu inovasi dalam pengabdian masyarakat guna mendukung lanjutan program ‘Kampung Majapahit’ berupa pemberdayaan masyarakat melalui suatu pelatihan.

Seperti diterangkan Leny Yulyaningsih, mewakili tiga temannya yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKMM), bahwa cagar budaya Trowulan ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya peringkat nasional.

Ini sesuai Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 260/M/2013 tentang Penetapan Satuan Ruang Geografis Trowulan Sebagai Kawasan Cagar Budaya Peringkat Nasional. Tujuannya untuk mendukung pelestarian The Spirit Of Majapahit di kawasan Trowulan.

”Dari keadaan seperti itu kami memilih mengadakan pengabdian di Kampung Majapahit itu,” kata Leny, mewakili tiga anggota PKMM-nya yang lain, yaitu Piping Tri Wahyuni, Dian Rizkita Puspitasari, dan Dwi Viviani. Keempatnya adalah mahasiswa FISIP Unair.

Dengan persoalan yang memerlukan sentuhan itu, maka proposal PKMM Leny Dkk memperoleh persetujuan dan bantuan dana dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) tahun 2016. Proposal Leny Dkk ini berjudul ‘MERICA (Majapahit Heritage Education): Program Pemberdayaan Masyarakat Kampung Majapahit Sebagai Upaya Meningkatkan The Spirit Of Majapahit di Kecamatan Trowulan Mojokerto’.

Dalam pengabdian tersebut, program pelatihan yang diberikan, pertama tentang ‘menghidupkan’ kembali sajian makanan ala Majapahit. Yang kedua, edukasi mengenai home stay, dan selanjutnya pelatihan promosi wisata.

Dalam ‘menghidupkan’ kembali penyajian makanan khas era Majapahit, yaitu ikan Wader, keempat mahasiswa FISIP Unair ini memberikan sosialisasi mulai dari bagaimana mencuci ikan wader secara higienis dan memperhatikan sanitasinya. Kemudian cara penyimpanan makanan yang sudah masak.

”Makanan wader yang sudah masak hendaknya ditutup dengan tudung makan agar tidak terkontaminasi bakteri dan atau dimasuki hewan dari luar,” tambah Dian Rizkita Puspitasari, ketua PKMM ini.

Pada edukasi home stay, antara lain diajarkan bagaimana melakukan greeting atau salam, memperkenalkan diri kepada tamu, membawa barang bawaan tamu, gerakan 3-S (Senyum, Sapa dan Salam).

”Ucapkan maaf untuk memperhalus permintaan, menanggapi complain dengan bijaksana serta responsive setelah mengetahui keluhan tamu,” tambah Dian.

Sedangkan pelatihan promosi wisata diajarkan menggunakan Website, kartu nama, juga brosur yang dapat digunakan untuk menjamu wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Kepada peserta pengmas masing-masing juga diberikan brosur untuk home stay mereka.

Di dalam brosur itu juga bisa menuliskan nomor kontak (telepon atau Handphone) yang bisa dihubungi jika sewaktu-waktu ada wisatawan asing atau lokal yang membutuhkan home stay atau penginapan di ‘Kampung Majapahit’ tersebut. (sak)

Add Comment