Bina Potensi Anjal untuk Lestarikan Budaya

foto
Anak jalanan anggota SSC Surabaya seusai latihan. Foto: Dok PKMM.

Anak jalanan (anjal) merupakan satu masalah krusial di Indonesia. Sekitar setengah dari 3,15% jumlah total anak terlantar di Indonesia, atau sekitar 124.332 anak, berada di kota besar seperti Surabaya.

Padahal anjal merupakan salah satu asset bangsa yang dilindungi Undang-undang bahwa ‘Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara’ (UUD 1945 Pasal 34 ayat 1). Namun kenyataannya ‘berlian’ aset bangsa itu terabaikan.

Tertarik dengan persoalan itu, lima mahasiswa FISIP Universitas Airlangga (Unair) melakukan pengabdian masyarakat (pengmas) dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2017, yakni membina anjal dengan kegiatan pelestarian seni budaya.

Proposal PKMM Tim ‘Takasimura’ FISIP Unair ini akhirnya disetujui dan memperoleh dana hibah pengembangan dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) RI.

Dalam survey yang telah dilakukan bersama Save Street Child (SSC) Surabaya, bahwa kegiatan seni budaya seperti tari-tarian tradisional pada komunitas anjal di Kota Surabaya diketahui pernah ada. Misalnya Tari Jaranan yang dipentaskan dalam perayaan ulang tahun komunitas SSC.

Karena itu pihak SSC sangat berharap adanya pengembangan program seni budaya di komunitas ini dengan menyetujui kerjasama pengmas bersama tim ‘Takasimura’ FISIP Unair.

Kelima anggota PKMM ‘Takasimura’ ini adalah Ulpa Jinatul Jannah (FISIP 2016/ketua), Aisyah Nusa Ramadhana (FISIP 2016), Andik Prasetyo (Vokasi 2016), Muhammad Azharuddin (FH 2016) dan Dwi Viviani (FISIP 2014).

”Anjal sering dijadikan bahan cemoohan dan tatapan miring. Pemerintah dan masyarakat semestinya memerhatikan mereka dengan program yang melibatkan peran anjal. Kehidupan mereka di jalanan itu karena keterpaksaan. Mereka tidak seperti yang dibayangkan selama ini, mereka punya bakat luar biasa,” kata Ulpa Jinatul Jannah, Ketua Tim PKMM ‘Takasimura’ FISIP Unair seperti dirilis PIH Unair.

Tim PKMM ini melakukan pengmas melalui kerjasama dengan SSC Surabaya, Komunitas Airlangga Taruna Budaya, dan Sanggar Bathoro Katong. Konsep pengmas yang dilakukan dengan melakukan latihan gerak tari, seminggu sekali, di Skatepark Taman Bungkul Surabaya.

Kegiatannya antara lain pemutaran kartun animasi mengenai Reog Ponorogo, membagikan started kit seperti gantungan kunci, kaos Reog Takasimura sebagai identitas kebanggaan dan misi pelestarian budaya.

Tim percaya bahwa dengan memberikan pembinaan dan penanganan serta kesempatan pada anak-anak jalanan maka bakat mereka akan tersalurkan, terwadahi, dan akan mengubah mindset buruk masyarakat bahwa anak jalanan sebenarnya membanggakan juga.

”Pandangan miring masyarakat terbantahkan dengan kenyataan dalam unjuk penampilan bahwa ketika anjal diberi kesempatan atau difasilitasi mengembangkan potensi dirinya dengan pendekatan yang baik, keterampilan mereka sungguh mengagumkan dan luar biasa. Ini bukti bahwa anjal juga aset bangsa,” tambah Aisyah Nusa, anggota tim PKMM.

Andik Prasetyo, mahasiswa D3 Pariwisata Fakultas Vokasi Unair yang juga anggota Sanggar Bathoro Katong Rungkut Surabaya menjelaskan bahwa Reog Ponorogo merupakan salah satu aset budaya bangsa Indonesia yang wajib dilestarikan, sehingga tidak diklaim oleh pihak lain.

”Melalui PKM ini kami mencoba bekerjasama dengan SSC Surabaya dan Komunitas Airlangga Taruna Budaya menggelar pelatihan tiap minggu dan unjuk hasil. Terimaksih kepada Sanggar Bathoro Katong dengan semua perangkat sanggarnya untuk menunjang proses latihan sampai pentas,” kata Andik.

”Saya senang sekali ada mahasiswa Unair yang perduli dan menjalankan pengmas ke SSC Surabaya. Kami terbuka dengan berbagai kerjasama yang membanggakan seperti ini, semoga kedepan dapat ikut memfasilitasi lagi adik-adik SSC ini,” kata salah seorang koordinator Save Street Child Surabaya. (sak)

Add Comment