Agar Ramadhan Tak Jadi Bulan Paceklik Seniman

foto
Ramadhan, bulan paceklik bagi seniman tradisional. Foto: Kulonprogonews.files.wordpress.com.

Bulan Ramadhan sering disebut sebagai bulan paceklik bagi para seniman panggung, khususnya seni pertunjukan tradisional, karena pada bulan suci ini pertunjukan ditiadakan.

Gedung dan ‘tobong’ tempat mereka pentas ditutup dengan alasan agar tidak mengganggu kekhusyukan ummat Muslim menjalankan ibadah puasa.

“Ramadhan adalah bulan “sepi order” alias tidak “peye” (tidak payu) atau tidak laku untuk jual jasa. Padahal seniman perlu uang untuk Lebaran seperti Muslim pada umumnya,” kata seorang seniman panggung, yang dibenarkan Dr Purwadi MHum, budayawan dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan pegiat seni tradisional asal Nganjuk, Jawa Timur.

Seperti dilaporkan Kbknews.id, dalam bulan puasa jarang atau bahkan tidak ada orang yang mengadakan hajatan dengan hiburan pentas pertunjukan kesenian tradisional seperti wayang kulit, wayang orang, ludruk dan ketoprak.

Seniman tradisional kelas bawah hidupnya tergantung pada bayaran setelah pentas di panggung, yang tidak menentu, baik frekwensi maupun jumlah imbal jasanya.

Karena itu, banyak seniman tradisional termasuk kategori kaum dhuafa, yang perlu diberdayakan secara ekonomi. Sekalipun dhuafa (miskin), mereka memiliki daya ungkit karena dapat berperan sebagai pembangkit kebahagiaan dengan menyampaikan pesan-pesan budaya yang bersifat etis dan dikemas secara estetis (indah) sehingga dapat menghibur dan mencerahkan.

Dalam bulan Ramadhan yang diyakini sebagai penuh berkah, kegiatan ibadah, termasuk dakwah, dan beramal saleh meningkat. Bersamaan dengan itu, biaya untuk kebutuhan hidup juga meningkat pada bulan yang berujung pada Lebaran, Idul Fitri.

Bagi seniman yang menggantungkan hidupnya dari panggung pertunjukan, bulan puasa memang bisa berarti tidak ada ‘job’ yang berakibat tidak menerima penghasilan.

Mengetahui hal itu, Dompet Dhuafa (DD) sebagai lembaga filantropi Islam yang berkhidmat untuk pemberdayaan kaum miskin dengan pendekatan budaya tergerak melakukan prakarsa mulai Ramadhan 1348H (2017) dengan meluncurkan program gebyar budaya Ramadhan, melibatkan seniman tradisional untuk naik pentas dengan imbal jasa yang pantas.

Dakwah dengan pendekatan budaya ini mengikuti jejak Sunan Kalijaga, seorang wali penyebar Islam di Pulau Jawa abad ke 15, yang berdakwah melalui proses akulturasi Islam dan budaya lokal (Jawa).

Nilai-nilai Islam dan budaya Jawa melebur menjadi satu untuk satu tujuan: beribadah, menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, sumber segala sesuatu (Tauhid).

Program DD ini bertujuan untuk membantu pelestarian budaya tradisional lokal dan sekaligus menjaga agar dapur para seniman panggung tetap ‘mengepul’ (memberi penghasilan).

Gelar budaya Ramadhan atas prakrasa DD digelar pertama kali di Kebon Binatang Jurug Solo, yang nama resminya Taman Satwa Jurug Solo (TSJS) pada awal Ramadhan lalu. Sesuai tujuannya untuk dakwah dan pemberdayaan kaum dhuafa, acara itu dikemas dalam sebuah layanan holistik, integralistik berkat kerjasama DD dengan TSJS dan mitra kerja lokal.

Acara dimulai dengan aksi layanan sehat, pemeriksaan mata dan pemberian kaca mata gratis kepada kaum dhuafa, termasuk anak-anak, sejak pagi hari, lomba membuat foto dan video jurnalistik tentang satwa, tabligh akbar, berbuka puasa bersama, sholat tarawih dan puncaknya pentas ketoprak dengan lakon Dakwah Sunan Kalijaga dan pentas wayang kulit Tauhid.

Ketoprak itu hanya berdurasi selama sekitar satu jam dan wayang Tauhid juga satu jam, mulai pukul 20.00 wib, melibatkan seniman/budayawan Solo dan anggota Paguyuban Kraton Surakarta dari Solo dan daerah sekitarnya dengan imbal jasa yang memadai. Setelah gelar budaya, masih tersedia cukup waktu bagi Muslim untuk melakukan ibadah malam hari.

Hadir antara lain Gusti Kanjeng Ratu Wandansari dan sejumlah kerabat kraton Surakarta Hadiningrat. Konon, dalam sejarah baru pertama kali itu seorang ratu hadir di Bonbin Solo. Dirut TSJS Bimo Wahyu Widodo terlibat aktif dalam perhelatan itu. (ist)

Add Comment