Akulturasi Budaya, Senjata Dakwah Sunan Giri

foto
Pintu masuk makam Sunan Giri yang dihiasi ukiran Jawa. Foto: Jawapos.com.

Gresik disebut sebagai Kota Santri bukan tanpa alasan. Sejarah kota yang berjarak 20 kilometer dari Kota Surabaya itu sejatinya berawal dari sebuah pesantren.

Selain menjadi pusat dakwah, pesantren yang didirikan Raden Paku alias Sunan Giri berkembang menjadi pemerintahan pada abad ke-14 hingga abad ke-15 Masehi.

Seperti dilaporkan Jawapos.com, di Desa Sidomukti, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, terdapat satu masjid yang menyimpan setumpuk sejarah. Masjid yang berada di Bukit Giri itu dikenal dengan nama situs Giri Kedaton. Kompleks masjid serta pesantren pertama di Gresik yang berjarak 200 meter ke arah timur dari Jalan Raya Giri.

Bangunan yang didirikan pada 1487 Masehi itu menjadi bukti awal dimulainya dakwah Sunan Giri. Sebelum berdakwah, Sunan Giri banyak belajar ilmu agama di Ampel Denta (Ampel, Surabaya) bersama Makdum Ibrahim (Sunan Bonang).

Tepatnya pada 1455 Masehi, saat usia beliau menginjak 12 tahun. Setelah mondok tujuh tahun, Sunan Giri diwisuda dengan gelar Ainul Yaqin.

Menurut buku Sejarah Sunan Giri yang ditulis Yayasan Makam Sunan Giri, setelah diwisuda, Sunan Giri sejatinya ingin berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji.

Namun, Sunan Ampel menyarankan Sunan Giri agar mampir ke Samudra Pasai untuk menimba ilmu lebih dalam. Sunan Giri diminta berguru ke Syekh Maulana Ishaq yang tidak lain adalah ayah Sunan Giri.

Setelah berguru, Sunan Giri diminta kembali ke tanah Jawa oleh Syekh Maulana Ishaq. Sebab, saat itu di tanah Jawa terjadi masa transisi dari Kerajaan Hindu-Buddha ke Islam. “Itu momentum yang harus dimanfaatkan untuk berdakwah,” ujar Achmad Shobirin, wakil ketua Yayasan Makam Sunan Giri kepada Jawapos.com.

Oleh Syekh Maulana Ishaq, Sunan Giri diberi bekal segenggam tanah. Sang ayah meminta Sunan Giri kembali ke Gresik dan mencari tanah yang serupa dengan tanah tersebut. Mulai bentuk, warna, hingga baunya.

Sebelum menemukan jenis tanah yang diminta sang ayah, Sunan Giri sempat iktikaf(bertapa) di Gunung Bathang (sekarang wilayah Gulomantung, Kebomas, Gresik) pada 1482. Hingga kini, napak tilas Sunan Giri masih bisa dilihat. Bekas wajah dan kaki Sunan Giri membekas di sebuah batu yang sekarang diabadikan di Masjid Gulomantung.

Hingga akhirnya, Sunan Giri berhasil menemukan jenis tanah yang serupa dengan yang diminta Syekh Maulana Ishaq. Lokasinya di Bukit Giri, Kelurahan Sidomukti, Kecamatan Kebomas. Pada 1487, Sunan Giri mendirikan masjid pertamanya yang dikenal dengan Giri Kedaton. Pusat persebaran agama Islam sekaligus pemerintahan Gresik pada masa itu.

Pada 1487, Gresik masih menjadi bagian dari kekuasaan Majapahit. Meski di Majapahit saat itu terjadi kekosongan kekuasaan gara-gara perang saudara, kepercayaan Hindu-Buddha masih sangat kental.

Menurut Shobirin, Sunan Giri pernah mengisi kekosongan kekuasaan itu selama 40 hari. Sebelum akhirnya didapuk sebagai penguasa di Kerajaan Giri Kedaton oleh Raden Patah pada 12 Rabiul Awal 894 Hijriyah atau 9 Maret 1487. Sunan Giri diberi gelar Prabu Satmoto.

Dalam berdakwah, Sunan Giri punya cara tersendiri. Shobirin menyebutkan dua metode dakwah itu. Yaitu, melalui pendidikan di pesantren dan ’blusukan’ ke acara tradisi warga setempat.

Sunan Giri kerap mengikuti acara tradisi umat Hindu-Buddha. Misalnya, tradisi tumpengan. Warga menggunakan nasi yang dibentuk kerucut itu sebagai sesajen untuk roh para dewa.

Oleh Sunan Giri, tradisi tersebut tidak lantas dihilangkan. Tradisi berdoa menggunakan tumpeng tetap dilestarikan. Bedanya, tumpeng dimakan oleh orang yang berdoa. “Masyarakat diberi pemahaman bahwa makanan itu untuk manusia. Bukan untuk roh yang bersifat gaib,” jelasnya.

Dengan cara yang santun, Sunan Giri berhasil masuk ke tradisi umat Hindu-Buddha. Secara perlahan, ajaran Sunan Giri mulai diterima masyarakat sekitar. Satu per satu warga Gresik yang awalnya menganut Hindu-Buddha berpindah ke ajaran Islam. “Banyak menggunakan akulturasi budaya sebagai media dakwah,” lanjut Shobirin.

Shobirin mengatakan, Sunan Giri termasuk wali yang berilmu tinggi. Bentuk makamnya dibangun berbeda dengan makam sunan yang lain. Salah satu di antaranya, terlihat pada tingkatan atap dan undak-undakan sebelum masuk makam.

“Selalu ada tiga undakan. Itu melambangkan tingginya ilmu Sunan Giri. Mulai syariat, hakikat, hingga makrifatyang paling tinggi,” paparnya. (ist)

Add Comment