Jaga Situs Terung Wetan, Bangun Paduraksa

foto
Petugas BPCB Trowulan saat melakukan ekskavasi pertama 2012. Foto: Kompas.com.

Sudah lima tahun berlalu, belum ada kelanjutan mengenai situs bersejarah yang ditemukan di Desa TerungWetan, Krian. Padahal, sejak 2012, petugas Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan melakukan ekskavasi pertama.

Saat itu, ditemukan sisa bangunan yang diduga kuat merupakan peninggalan Kadipaten Terung, yang masuk Kerajaan Majapahit. ”Hingga kini, belum ada ekskavasilanjutan. Padahal, yakin banyak situs bersejarah yang perlu digali lebih lanjut di Wilayah ini,” kata Jansen Jasien, salah seorang seniman sekaligus pemerhati budaya seperti dikutip Jawapos.com, Senin (19/6).

Sekadar informasi, sebelum eksvakasi pertama, seorang warga menemukan batu ukir yang mirip buah manggis tak jauh dari lokasi. Batu tersebut mirip kendi air minum dengan berat 30 kilogram. Setelah diteliti, batu tersebut diduga merupakan ukiran pada zaman Majapahit.

Penemuan-penemuan itu terus berlanjut. Beberapa kali warga menemukan pecahan piring yang diketahui peninggalan zaman prasejarah. Kemudian, temuan-temuan itu disimpan dalam kompleks pemakaman Raden Ayu Putri Ontjat Tondo Wurung, 50 meter dari lokasi penemuan.

Sebagai penanda, warga bahu membahu membuat paduraksa. Itu semacam pintu gerbang masuk ke sebuah situs atau candi. Sejak awal Ramadan, pekerjaan itu dilakukan dengan sukarela. Paduraksa tersebut dibangun setinggi lebih dari 5 meter.

Memiliki delapan anak tangga di bagian depan dan belakangnya. Juga, terdapat pintu selebar 80 sentimeter dengan tinggi 180 sentimeter.

Saat ini pembangunan baru menyelesaikan tahap dasari Jansen menyatakan, pembangunan paduraksa itu berada di lahan milik Sahuri. ”Pak Sahuri sudah menyetujui. Jadi, tidak ada masalah,” lanjutnya.

Untuk membangun paduraksa secara keseluruhan, Jasien memprediksi dibutuhkan 21 ribu batu bata. Dengan dikerjakan secara swadaya, dia memprediksi bangunan tersebut selesai akhir tahun. (ist)

Add Comment