Polrestabes Surabaya Kini Semakin Klasik

foto
Bangunan Polrestabes Surabaya masuk cagar budaya. Foto: Detik.com.

Restorasi atau pengembalian wujud asli bangunan Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Surabaya dimulai saat Kombespol Yan Fitri Halimansyah menjabat sebagai Kapolrestabes Surabaya (sekarang pangkatnya Brigjen). Saat itu dilakukan perombakan total terhadap bangunan bagian depan yang merupakan cagar budaya.

Beberapa ornamen bangunan disingkirkan dan dihilangkan agar bangunan kembali ke wujud asalnya. Dari situ, Yan Fitri menjadikan bangunan bagian depan Polrestabes Surabaya sebagai museum hidup, sebuah museum yang bangunannya masih dipergunakan untuk beraktivitas.

Hal ini berlanjut saat Kombespol Mohammad Iqbal menjabat sebagai Kapolrestabes Surabaya. Iqbal berusaha meneruskan dan menyempurnakan apa yang telah dimulai Yan Fitri. Restorasi ini masih berlangsung. Berangsur-angsur, wujud Polrestabes Surabaya yang pada zaman perjuangan disebut Hoofdbureau ini mulai terlihat.

“Saya bukan pencetus, saya follower. Pencetusnya Pak Yan Fitri. Mungkin karena waktu beliau singkat, saya meneruskan. Saya buka, semua saya ekspose, saya cat putih, kayu dan lantai saya kembalikan,” ujar Iqbal kepada Detikcom, beberapa waktu lalu.

Iqbal mengatakan, mustahil untuk membuat persis antara bangunan lama dengan yang baru. Yang bisa dilakukan hanyalah mendekati atau semirip mungkin. Yang sudah dilakukan Iqbal adalah mengecat bagian luar bangunan seluruhnya dengan cat putih. Sebelumnya ada kombinasi cat hitam dan merah.

Kemudian untuk atap, Iqbal menjebol semua plafon yang menutupi bagian atas bangunan. Sekarang ini, atap bangunan utama terlihat lebih tinggi dan menjulang karena tak ada yang menghalangi.

Yang terlihat adalah kayu-kayu jati berwarna coklat sebagai penopang atap. Udara di ruangan pun relatif lebih adem karena tingginya atap yang mencapai lebih dari 4 meter.

Hal lain yang diubah adalah penggantian keramik yang ada di museum hidup. Keramik yang dulu berwarna terang, diganti dengan keramik berwarna coklat bermotif. Penggantian warna keramik itu membuat ruangan lebih teduh.

Iqbal juga mengubah pencahayaan di museum hidup dengan lampu berwarna putih, sehingga lebih terang. Sebelumnya pencahayaan museum hidup diterangi oleh cahaya temaram. Terangnya cahaya putih disambut oleh teduhnya warna coklat keramik sehingga tak menyilaukan pandangan.

Kemudian museum hidup yang ada di tengah ruangan kini tak lagi dijejali berbagai barang sejarah. Iqbal mengeluarkan sebagian benda bersejarah itu.

Sebagai gantinya, sebuah sofa berwarna coklat diletakkan di bagian samping kanan dari ruangan. Benda bersejarah yang dikeluarkan kini ditempatkan di bagian luar museum hidup atau di ruang tunggu pengunjung.

“Ada kursi pengunjung agar pengunjung bisa duduk santai di situ. Barang dikeluarkan sebagian agar museumnya tidak hanya terbatas di situ. Begitu masuk, sudah ada museum, sudah melihat barang bersejarah,” jelasnya.

Perpaduan antara atap, keramik, dan sofa cokelat membuat suasana menjadi lebih vintage, lebih klasik, dan lebih kuno. Bukan tanpa alasan Iqbal memasang benda dominasi warna cokelat.

“Saya kan pernah sekolah di Belanda 1 tahun. Saya tahu persis tidak ada (bangunan bersejarah) di Belanda itu warna merah kuning, tidak ada,” lanjut Iqbal.

Iqbal menyebut bahwa restorasi yang dilakukan sudah mendekati 85%. Yang kurang menurut Iqbal adalah sejumlah lemari display dan sepeda motor zaman Belanda yang akan di-display. “Ini untuk kota dan masyarakat Surabaya. Juga untuk Polri. Kita bangga bisa punya sejarah,” tandas Iqbal. (dtc)

Add Comment