Halal bi Halal, Tradisi Asli Indonesia

foto
Bung Karno dan KH Abdul Wahab Chasbullah. Foto: istimewa.

Halal bi halal tak ada dalam tradisi Arab. Namun Wagub Jawa Timur Saifullah Yusuf mengatakan tradisi halal bi halal bisa menjadi sarana dakwah sebagai bagian dari pembentukan karakter melalui tausiyah memotivasi ukhuwah dan ketaatan setelah puasa Ramadan.

Menurut Gus Ipul, tradisi silaturahim yang dikemas dalam halal bi halal usai puasa Ramadan ini, merupakan budaya asli dan hanya ada di Indonesia.

Dalam sejarahnya, masih kata Gus Ipul, halal bi halal memang sengaja digagas untuk mempersatukan umat dari berbagai kalangan dan semua tokoh masyarakat.

“Tradisi halal bi halal ini adalah khas Indonesia yang orang Arab bahkan tidak mengenal tradisi tersebut. Dengan halal bi halal, harapannya kita semua akan kembali bersih. Selain itu juga untuk mempererat rasa persatuan dan persaudaraan antar sesama,” terang Gus Ipul.

Gus Ipul menambahkan, halal bihalal juga bisa menjadi sarana dakwah sebagai bagian dari pembentukan karakter melalui tausiyah memotivasi ukhuwah dan ketaatan setelah bulan Ramadhan.

Karenanya halal bi halal adalah bentuk majelis amar makruf nahi mungkar. “Halal bi halal juga bentuk konsolidasi untuk menyikapi berbagai kemajuan zaman. Oleh sebab itu, lewat mejelis ini, diharapkan semua bisa tabayyun dalam menanggapi berita atau opini yang sudah beredar di masyarakat,” tandas Gus Ipul.

Asal Usul
Penggagas pertama istilah halal bi halal adalah KH Abdul Wahab Chasbullah, yang juga merupakan penggagas berdirinya organisasi Nahdlatul Ulama.

Pasca Indonesia merdeka, pada 1948, Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik saling bertengkar, tidak mau duduk dalam satu forum. Sementara pemberontakan terjadi dimana-mana, diantaranya DI/TII, PKI Madiun.

Pada pertengahan bulan Ramadhan, Bung Karno memanggil KH Wahab Chasbullah ke Istana Negara, untuk dimintai pendapat dan saran mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat.

Kemudian Kyai Wahab memberi saran menyelenggarakan Silaturrahim, sebab sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, dimana seluruh umat Islam disunahkan bersilaturrahim.

Lalu Bung Karno menjawab, “Silaturrahmi kan biasa, saya ingin istilah yang lain”. “Itu gampang,” jawab Kyai Wahab.

“Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahmi nanti kita pakai istilah halal bi halal,” tegas Kyai Wahab.

Dari saran kyai Wahab itulah, kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri saat itu, mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturrahmi yang diberi judul ‘Halal bi Halal’ dan akhirnya mereka bisa duduk dalam satu meja, sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa.

Sejak saat itulah, instansi-instansi pemerintah yang merupakan orang-orang Bung Karno menyelenggarakan halal bi halal yang kemudian diikuti juga masyarakat secara luas, terutama masyarakat muslim di Jawa sebagai pengikut para ulama.

Jadilah halal bi halal sebagai kegiatan rutin dan budaya Indonesia saat Hari Raya Idul Fitri seperti sekarang.

Kegiatan halal bi halal sendiri dimulai sejak KGPAA Mangkunegara I atau yang dikenal dengan Pangeran Sambernyawa. Setelah Idul Fitri, beliau menyelenggarakan pertemuan antara raja dengan punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana di Solo. Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri.

Kemudian budaya seperti ini ditiru oleh masyarakat luas termasuk organisasi keagamaan dan instansi pemerintah. Akan tetapi itu baru kegiatannya bukan nama kegiatannya. Kegiatan seperti dilakukan Pangeran Sambernyawa belum menyebutkan istilah halal bi halal, meskipun esensinya sudah ada. (ist)

Add Comment