Miniatur Krucil Panji Dipamerkan Hingga Swiss

foto
Miniatur Krucil Panji dipamerkan hingga Swiss. Foto: Moh Fikri Zulfikar/JawaPos.com.

Serbuk kayu bertaburan di sekitar rumahnya di Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Siang itu pria yang juga dalang wayang krucil tersebut sibuk mengukir kayu. Terlihat papan kayu yang mulai membentuk beberapa pola yang menyerupai tokoh-tokoh wayang.

Karyanya itu bukanlah wayang yang akan digunakan dalam pergelaran pentas, melainkan untuk suvenir karena bentuknya lebih kecil. Sang perajin miniatur wayang krucil tersebut adalah Khoirudin atau yang biasa dikenal dengan nama panggung Ki Kondo Brodianto.

Miniatur wayang karya dalang yang biasa dipanggil Brodin itu selalu bertemakan kisah Panji asli Kediri. Di ruang depan rumahnya, terlihat beberapa karyanya berupa miniatur wayang dengan tokoh Pangeran Gunung Sari, Panji Asmara Bangun, hingga Dewi Sekartaji.

Tak heran, suvenir unik tersebut memang cocok untuk oleh-oleh khas Kediri. ”Saya ambil karakter miniatur wayang cerita Panji asli Kediri. Jadi, identik dengan daerah di sini,” ungkapnya, seperti dilaporkan Jawapos.com.

Usaha pembuatan miniatur wayang krucil yang cocok untuk hiasan tersebut dimulai Brodin sekitar tiga tahun yang lalu. Saat itu dia dimintai bantuan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kediri untuk membuat miniatur wayang krucil.

Pembuatan miniatur tersebut awalnya merupakan hal yang baru baginya. Sebab, dari awal, Brodin hanya membuat wayang krucil dalam bentuk kayu. ”Saat itu pesanan disbudpar atas perintah bupati. Sebab, beliau hendak melakukan kunjungan ke NTB,” terangnya.

Karena tertarik, Brodin kemudian membuatkan miniatur wayang yang nanti ditujukan untuk suvenir. Ternyata benar, saat bupati berkunjung ke NTB, karya pertamanya tersebut diberikan untuk kenang-kenangan khas Kabupaten Kediri.

Sejak itu, pesanan suvenir miniatur wayang krucil Panji tersebut terus berkembang. ”Setelah pesanan bupati, saya mendapat pesanan lagi untuk kenang-kenangan tamu luar kabupaten ketika ada event Pekan Budaya 2014,” ujar seniman berumur 37 tahun tersebut.

Pesanan dari disbudpar pun berlangsung hingga Pekan Budaya 2016. Temanya tetap mengambil kisah Panji Balik Kampung. Pesanan itu dibuatnya setiap pekan budaya tiga tahun ini.

Setiap event, Brodin mendapatkan pesanan hingga 60 suvenir. Untuk pekan budaya 2017 –yang diadakan tepat pada Juli akhir ini, dia mendapatkan 60 pesanan lagi. ”Hari-hari ini saya lagi membuat miniatur wayang krucil untuk pekan budaya,” ungkap bapak dua anak tersebut.

Karya Brodin juga mudah ditemukan saat ada event pameran produk kerajinan dari usaha kecil dan menengah (UKM) yang diselenggarakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Kediri. Di beberapa pameran, dia selalu diundang. Bahkan hingga pameran UMKM di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. ”Ya, selain dipamerkan, kami jual sebagai suvenir,” ungkapnya.

Bukan hanya itu, karena namanya sudah dikenal antardinas, Brodin juga mendapatkan pesanan dari Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Mojokerto. Mereka memesan lewat Disbudpar Kabupaten Kediri. Dari pemesanan tersebut, dia mengirim 60 miniatur wayang krucil ke sana.

Karena kualitas dan desain karyanya berkualitas, miniatur wayang krucilnya pernah mewakili Disbudpar Provinsi Jawa Timur untuk dipamerkan dan dijual ke Swiss. Itu berlangsung sekitar dua tahun yang lalu. ”Walau pembuatnya tidak pernah ke sana, tapi alhamdulillah karya saya sudah dibawa sampai ke sana,” katanya.

Padahal, tak mudah membuat karya miniatur wayang krucil khas Kediri tersebut. Setelah memotong kayu dalam bentuk batangan, Brodin harus membentuknya menjadi papan. Lalu, dia membuat pola atau biasa disebut dimal. Selanjutnya, pola itu diukir dengan teliti agar tidak terjadi kesalahan. ”Sebab, miniatur polanya lebih rapat dan kecil. Ini yang sulit,” ungkap pria kelahiran 14 Oktober 1981 tersebut.

Kayu yang digunakan untuk miniatur wayangnya pun tidak sembarangan. Harus kayu mentaos. Brodin memilih kayu tersebut karena memiliki serat yang padat sehingga lebih awet daripada kayu jati. Tujuannya, menjaga kualitas karyanya. ”Saat dipelitur pun, tanpa diwarnai. Kayu mentaos sudah indah setelah diukir polanya,” tuturnya. Dengan kualitas yang prima, miniatur krucil Panji karyanya berharga Rp 170–270 ribu. Sesuai dengan kerumitan pesanan dan ukurannya. (jpg)

Add Comment