Pembelajaran Bahasa Jawa, Lewat Cerita Ajisaka

foto
Ardina Kartika Dewi memperlihatkan Desain Buku Pop Art Asal Usul Aksara Jawa. Foto: Sulvi Sofiana/Tribunnews.com.

Bahasa Jawa menjadi mata pelajaran diwajibkan Gubernur Jawa Timur. Sayangnya, peminat bahasa Jawa tidak sebanyak peminat bahasa asing. Bahkan ada yang kesulitan mempelajari bahasa, adat dan aksara Jawa dibandingkan budaya asing.

Melihat hal ini, mahasiswa tingkat akhir jurusan Desain Komunikasi Visual Sekolah Tinggi Teknik Surabaya (STTS) Ardina Kartika Dewi (25) memutuskan menganalisa budaya jawa, khususnya aksara Jawa.

Melalui studi literatur dan riset, ia melihat masih belum ada media pembelajaan yang menarik untuk aksara Jawa. “Makanya saya ingin membuat media pembelajaran melalui buku bergambar, dan agar lebih menarik. Buku bergambar itu berisikan asal usul aksara Jawa,” ujar anak tunggal pasangan Antonius Robby Robertus (53) dan Ida Nurbuati (53).

Mengenakan baju merah dengan rambut diikat menjuntai hingga punggung, Ardina menunjukkan buku yang berisi 56 halaman yang dia bawa. Buku tersebut terlihat berwarna dan tebal. Bahkan setiap lembarnya memiliki ketebalan hampir 5 milimeter.

“Saya pelajari asal-usul aksara Jawa ini karena anak sekarang lebih suka cerita Jepang atau cerita rakyat global. Saya ingin mengangkat tokoh tradisional Indonesia,” tegas alumnus SMA Katolik Karitas 3 ini.

Buku yang dibuatnya didesain dengan gaya pop art, yaitu setiap halamannya dibuka akan muncul karakter yang dibuat 3 dimensi. Mulai dari berbentuk kapal, karakter tokohnya yang menyerupai wayang hingga beragam latar zaman dahulu.

“Saya menuliskan cerita dari ilustrasi berbentuk pop art dengan bahasa jawa, bahasa indonesia, dan aksara Jawa,” tegasnya seperti dikutip Surya.co.id. Di setiap lembarnya, buku ini menceritakan asal usul Ajisaka bersama 2 abdinya yang bernama Dora dan Sembada.

Tiga karakter ini sengaja ia buat menjadi desain 3 dimensi, bahkan ia juga membuat karakter lain dalam cerita ini, yaitu Patih, mbok Randha Sengkeran dan Prabu Dewata Cengkar.

“Mereka datang ke tanah Jawa dengan tujuan menyebarkan ilmu pengetahuan. Mereka masuk dari desa ke desa dan kota ke kota. Kepergian Ajisaka ini telah membuat kedua abdinya meninggal. Untuk itu dia mengabadikan kesetiaan dua abdinya menggunakan aksara Jawa carakan,” paparnya.

Di akhir buku, terdapat beberapa panduan menulis aksara Jawa layaknya pepak bahasa Jawa. Hanya saja buku ini juga memuat latihan soal untuk mencoba penulisan aksara Jawa.

Dikatakannya, ia membutuhkan waktu 2 tahun menyusun buku impiannya tersebut. Prototype awal yang ia buat memakai art paper membuat tampilan buku tidak maksimal dan terkesan lembek. Akhirnya dia membuat buku kembali menggunakan kertan pensibisi.

“Saya juga kesulitan mencari ketikan aksara Jawa yang cukup langka. Dapatnya dari guru bahasa Jawa sekaligus Kepala Sekolah Citra Berkat,” ujarnya. Meskipun buku yang menjadi tugas akhirnya ini memakan waktu 2 tahun, ia merasa terbantu dengan dukungan orangtua.

Walaupun sempat diminta orangtua mengganti jenis tugas akhirnya, tetapi kedua orangtuanya akhirnya malah membantu mencari percetakan dan sumber untuk melengkapi bukunya.

“Saat ini saya masih cetak mandiri, dan menghabiskan dana hingga Rp 1.500.000. Rencananya saya mau mencari penerbit agar bisa diproduksi massal dan dijual dengan harga yang lebih terjangkau,” harapnya. (ist)

Add Comment