Bila Bangunan Cagar Budaya Tak Dirawat Pemiliknya

foto
Bekas penjara Kalisosok Surabaya yang hingga kini belum jelas nasibnya. Foto: Surya/Habibur Rohman.

Kota Surabaya yang memiliki sebutan Kota Pahlawan memiliki banyak peninggalan bangunan cagar budaya (BCB). Setidaknya, ada sebanyak 160 bangunan lawas yang sudah ditetapkan sebagai BCB oleh Pemkot sebangai bangunan yang harus dilindungi dan dilestarikan.

Kebanyakan dari bangunan tersebut dimiliki oleh swasta. Sehingga perawatan dan pemeliharaan ada di kewajibkan pemilik bangunan. Mereka harus menjaga dan melestarikan BCB agar tidak sampai rusak dan tidak terawat.

Namun agaknya, perlu sejenak menengok salah satu BCB yang ada di kawasan Surabaya, yaitu bangunan bekas rumah tananan atau penjara Kalisosok.

Berdasarkan pantauan Surya, pekan lalu, bangunan cagar budaya tersebut tampak tak terawat, kumuh, rimbun dan fasade bangunan dan pagar Kalisosok tersebut sudah rusak dan tidak terpelihara.

Di bagian depan penjara Kalisosok, tepatnya di bangunan inti Kalisosok genting bangunan tersebut bahkan sudah hilang dan menyisakan angka atapnya saja. Padahal seharusnya, bangunan tersebut harus dijaga dan tidak sampai rusak.

Ketua Surabaya Heritage Freddy H Istanto mengatakan, banyak BCB di Surabaya yang masih membutuhkan perhatian lantaran kurang terawat. Khususnya yang diserahkan kewenangannya ke pihak privat atau pribadi. Kebanyakan pemilik bangunan tidak aware dengan menjaga BCB yang merupakan bangunan yang dilindungi dan harus dilestarikan.

“BCB yang sudah ditetapkan oleh Pemkot harus dirawat oleh pemiliknya, kalau swasta yang mereka yang punya itu harus merawat bangunan tersebut. Kalau sampai rusak tidak terawat itu masuk ke pelanggaran hukum dan masuk pasal pembiaran,” ucap Freddy kepada Surya.co.id.

Dan aturan tersebut sudah ada dalam undang-undang bangunan cagar budaya. Dan jika ada yang melanggar dan membiarkan bangunan cagar budaya rusak maka bisa dilakukan penindakan.

Nah, dalam hal ini, menurut Freddy, Pemerintah Kota Surabaya memiliki peranan penting. Yang harus mengingatkan, memantau dan menindak jika ada pemilik bangunan cagar budaya namun tidak terawat dan tidak dijaga sehingga rusak.

“Bisa jadi sengaja dibiarkan supaya nanti ada alasan bahwa bangunan itu sudah rusak dan layak dibongkar. Pemkot di sini menurut saya masih lemah dan banyak lengah untuk memantau dan menindak privat-privat yang memiliki bangunan cagar budaya,” tandas Freddy.

Sebab disampaikan Freddy Pemkot selama ini masih baru bertindak ketika kejadian sudah terjadi. Misalnya adalah bangunan cagar budaya di Jalan Mawar No 10, yaitu radio Bung Tomo yang sudah dibongkar dan dirobohkan baru sadar ada aset yang hilang.

Termasuk dalam kasus penjara Kalisosok, pembongkaran genteng di bangunan tersebut sudah berlangsung sejak tahun 2010, bahkan ada informasi akan direnovasi untuk dijadikan rumah kos-kosan. Namun sampai saat ini genteng yang sudah dibongkar itu tidak juga dikembalikan.

“Semua pihak di Pemkot ikut bertanggung jawab. Mulai Dinas Kebudayaan dan Pariwisata hingga Satpol PP sebagai petugas di lapangan harus ikut bertindak tegas. Harus sering mengingatkan pemilik untuk merawat dan menjaga bangunan yang masuk ditetapkan sebagai BCB,” tegas Freddy.

Di sisi lain, Kepala Disbudpar Kota Surabaya Widodo Sumartono mengatakan untuk pengelolaan bangunan cagar yang dimiliki privat memang menjadi kewajiban pemilik untuk mengelola. Pemkot juga sudah berupaya mengingatkan.

“Kami selalu menginngatkan, baik lewat surat maupun sosialisasi. Tapi kalau bangunan yang selain punya privat kita untuk perawatan tidak punya anggaran, melainkan di Balai Pengelolaan Cagar Budaya,” ucap Widodo. (ist)

Add Comment