Lestarikan Budaya Lewat Pengabdian Masyarakat

foto
Lomba menari di balai desa Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Foto: PIH Unair.

Sejak Minggu (30/7) pagi, puluhan pelajar dan warga meramaikan balai desa Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Mereka bersiap mengikuti lomba tari tradisional kreasi dan nembang macapat yang dilaksanakan atas kerjasama Departemen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga (FIB Unair) Surabaya dengan Desa Kemloko.

Lomba itu merupakan rangkaian pengabdian masyarakat yang dilakukan Departemen Sastra Indonesia sebagai bentuk Tri Darma Perguruan Tinggi. Telah empat tahun berjalan, Desa Kemloko menjadi desa binaan Departemen Sastra Indonesia FIB Unair. Komitmen ini dijalankan secara terus menerus dengan mengembangkan Desa Kemloko melalui beragam kegiatan.

Nasrudin Abdul Haris selaku Ketua Panitia Acara mengucapkan terimakasih kepada tim dari UNAIR yang telah memilih Desa Kemloko sebagai desa binaan. Ia berharap, kerjasama yang telah dirintis empat tahun itu dapat terus berlanjut dengan pengembangkan potensi desa yang lain. “Lomba ini kita selenggarakan untuk nguri-nguri budaya. Mudah-mudahan kerjasama ini berkelanjutan,” ucap Nasrudin seperti dirilis PIH Unair.

Sebelum lomba berlangsung, salah satu dosen Drs Tubiyono MSi memberikan sosialisasi tentang pemanfaatkan website untuk melakukan promosikan potensi desa. Dalam kesempatan itu, dirilis website resmi Desa Kemloko yang dapat diakses melalui laman www.wisatakemloko.com. Laman itu dikelola langsung oleh Departemen Sastra Indonesia untuk pengembangan bersama.

Selama ini, di Desa Kemloko memiliki tradisi pembacaan serat Ambiya yang dilakukan oleh keluarga yang baru melahirkan. Pembacaan serat ambiya dilakukan semalam suntuk, dengan rentan waktu sesuai permintaan pemilik hajat.

“Pembacaan serat Ambiya di Kemloko ini luar biasa. Berbeda dengan di desa-desa lain, karena dibacakan secara bersama-sama setelah kelahiran bayi. Hari ini dibacakan oleh orang-orang tua. Mudah-mudahan di tahun yang akan datang pengmas bisa dilakukan dengan diikuti generasi junior,” ucap Dr Dra Trisna Kumala Satya Dewi MS selaku pengampu mata kuliah Metode Penelitian Filologi (MPF).

Pengmas kali ini juga diikuti oleh mahasiswa yang mengambil konsentrasi Filologi dengan mata kuliah MPF. Dari tahun-ketahun, Departemen Sastra Indonesia rutin mengadakan pengmas dengan mengajak serta mahasiswa.

Lomba macapat pada siang hari itu diikuti oleh mayoritas warga yang telah berusia senja. Salah satu peserta lomba macapat Sujianto (77) mengaku gembira dapat berpartisipasi dalam lomba macapat. Pensiunan guru itu memiliki lima anak buah. Mereka biasa diundang macapatan ketika ada warga yang bayen (baru melahirkan).

“Kawit alit pun remen. Panggah demen sampek saiki. Sebulan kadang-kadang ping pindho, kadang ping papat. Tergantung enek bayen apa enggak. (Sejak kecil sudah suka dengan macapatan. Tetap suka sampai sekarang. Sebulan bisa ditanggap dua kali, kadang empat kali. Tergantung kalau ada hajatan kelahiran bayi, -red),” ujar laki-laki yang nembang Pangkur dan Dandanggula waktu lomba ini. (sak)

Add Comment