Sumur Kuno Tak Terawat di Tengah Sawah

foto
Sebuah sumur kuno di Jombang diduga situs bersejarah. Foto: Jawapos.com.

Kondisi sumur kuno diduga salah satu situs bersejarah yang terletak di Dusun/Desa Watugaluh Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang cukup memprihatinkan. Kini, kondisinya tak terawat.

Sumur kuno tersebut memiliki diameter sekitar 50 centimeter, dengan kedalaman sekitar tujuh sampai sepuluh meter. Letaknya di tengah-tengah sawah warga. Yang unik sumur ini, dibangun dari batu bata yang ukuranya tak wajar.

Memiliki ukuran sekitar 45 x 20 centimeter. Dalam sumur tersebut ada air yang konon tak pernah surut meski musim kemarau panjang.

Dari cerita masyarakat, sumur tersebut sudah ada sebelum Desa Watugaluh diresmikan. Bahkan, ada pula yang mengatakan sumur tersebut dipercaya untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Sayang, kini keberadaanya kurang diperhatikan. Bahkan, pagar pun tidak ada.

“Memang sumur ini sudah ada sejak dulu, dan airnya katanya bisa menyembuhkan penyakit,” ujar Imam Suwardi, 64 salah satu warga ditemui Jawapos.com beberapa waktu lalu.

Dia menyebut, sumur tua tersebut memiliki sebutan sumur upas. Karena kandungan air dari sumur tersebut dipercaya memiliki unsur senyawa yang dapat menetralisir segala bentuk racun atau penyakit. “Pada 2015, pemerintah pusat pernah kesini untuk meninjau sumur ini,” jelas dia.

Dijelaskan, saat itu, tepatnya saat penentuan hari jadi Kabupaten Jombang, sumur tersebut pernah dijadikan salah satu acuan untuk melakukan kajian terhadap penentuan hari jadi Jombang.

Namun sayang, hingga kini tak ada keberlanjutan. Bahkan, setelah dilakukan penelitian baik pemerintah pusat dan pemerintah daerah terkesan mengabaikan situs yang menjadi bukti sejarah itu.

Dikonfirmasi terpisah, Arif Afandi, Kades Watugaluh membenarkan adanya sumur tua yang diduga situs bersejarah di desanya. “Memang benar, sumur tersebut memiliki diameter sekitar setengah meter, dengan kedalaman sekitar sepuluh meter,” paparnya.

Dahulu warga setempat, lanjut Arif, masih sering memanfaatkan sumur tersebut untuk keperluan ritual. Namun, seiring berkembangnya zaman kepercayaan tersebut mulai luntur.

Hingga kini sumur tersebut tak lagi mendapat perhatian. “Biasanya, ya hanya digunakan untuk keperluan irigasi tanaman warga,” jelasnya. Karena letaknya di tengah-tengah sawah milik warga. Ia pun tak bisa berbuat banyak.

Sehingga, agar tetap berfungsi biasanya warga maupun petani setempat masih menyiram tanaman mereka dari air dalam sumur. “Masih tetap digunakan warga, misalnya menyiram tanaman jagung dan cabai menggunakan gayung,” tandasnya.

Lantas bagaimana sikap pemerintah desa terhadap keberadaan sumur tersebut? Ia menegaskan, pihaknya sudah melaporkan ke pemerintah daerah. Bahkan, beberapa kali pernah dipantau. “Sudah kami laporkan dan juga sudah mereka pantau juga,” pungkasnya.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, melalui sekretaris Wiwik Emy Tjitrawati mengatakan, pihaknya sudah menerima laporan dari penemuan sumur tua yang diduga situs bersejarah di Desa Watugaluh Kecamatan Diwek itu.

Sejauh ini, pihaknya berencana akan melakukan kajian, namun karena terbentur masalah anggaran. Hingga kini masih sebatas angan-angan. “Jadi kami harus melakukan kajian terlebih dahulu, tidak semudah membalikan tangan untuk menentukan situs tersebut bersejarah apa tidak. Apalagi saat ini kami belum ada anggaran,” ujar dia dikonfirmasi terpisah.

Untuk melakukan sebuah kajian, lanjut Cicik sapaan akrabnya, harus dilakukan sesuai prosedur. Misalnya mendatangkan arkeolog, ataupun ahli purbakala yang ahli di bidangnya. Kemudian, proses selanjutnya akan dilakukan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur di Trowulan untuk memperoleh register cagar budaya yang dilindungi.

Saat ini, pihaknya belum bisa berbuat banyak lantaran untuk melakukan tahapan itu, dana yang dibutuhkan tidak sedikit.

Pihaknya berencana akan mengajukan pada perubahan anggaran keuangan (PAK) nanti. “Ada tiga lokasi yang akan kami lakukan kajian serupa,” tambahnya.

Lebih rinci ia menjelaskan, lokasi pertama situs Damar Wulan yang terletak di desa Sudimoro Kecamatan Megaluh, kedua situs kuno di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngoro dan situs sumur kuno alias sumur upas yang terletak di Desa Watugaluh Kecamatan Diwek. “Rencananya, kalau di PAK nanti sepakati. Akan segera kami lakukan,” tandasnya.

Ditambahkan, untuk melakukan kajian sebenarnya tugas BPCB Trowulan. Namun, setelah melakukan koordinasi akhirnya tugas tersebut menjadi kewenangan pemerintah daerah. “Kalau kami di kabupaten sebenarnya hanya memonitor dan melaporkan untuk mengajukan juru pelihara saja,” jelasnya.

Disinggung apakah pemkab akan melakukan tukar guling, karena situs tersebut berada disalah satu pekarangan milik warga? Ia belum bisa menjelaskan secara pasti. “Ya kita lihat perkembanganya dulu. Karena bisanya masyarakat akan mengikhlaskan sebagian tanah milik mereka jika di lokasi tersebut ditemukan situs bersejarah,” pungkasnya. (jpg)

Add Comment