Gelorakan Budaya Khas Desa di Situbondo

foto
Penampilan peserta Festival Seni Desa 2017. Foto: RRI.co.id.

Bangga menjadi anak desa, karena desa kaya dengan budaya. Beberapa perangkat desa dari ujung barat hingga timur Situbondo menggelar Festival Seni Desa 2017 di halaman Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kab Situbondo. Tujuannya mengeksplor beragam seni dan budaya khas setiap desa.

Kepala DPMD Drs Suradji menuturkan, semua kegiatan tersebut diatur sepenuhnya oleh panitia dari perangkat desa. DPMD hanya memfasilitasi lokasi kegiatan. Panitia memilih di halaman DPMD, lantaran ada pohon beringin besar yang mengambarkan suasana desa.

“Bahkan ditawari Sekda untuk digelar di alun-alun. Namun, mereka bersikukuh menggunakan halaman DPMD, karena, view di bawahnya benar-benar seperti suasana desa yang asri dan sejuk,” terangnya seperti dikutip Jawapos.com.

Suradji mengungkapkan, perangkat desa memahami bagaimana event tersebut dapat memotivasi masyarakat desa untuk memunculkan potensinya.

Apapun yang ditampilkan desa, entah seni musik, seni teater, budaya kuliner, semuanya dilombakan dalam festival seni itu. Event ini merupakan dari desa untuk desa.

“Saya juga sudah mengingatkan agar kegiatan ini tidak berhenti hanya di sini saja. Sehingga, kemungkinan nanti event ini menjadi event tahunan,” ujarnya.

Dijelaskan, kegiatan ini menjadi bagian dari pemberdayaan masyarakat desa. Jumlah peserta yang ikut baru ada 14 desa dari 132 desa. Karena ini baru permulaan dan terhalang oleh waktu jika semua desa menampilkan seni budayanya.

“Meskipun sedikit pesertanya, namun perwakilan desa dari setiap wilayah barat, tengah, dan timur Situbondo itu ada,” tandasnya.

Ketua panitia Festival Seni Desa, Angga Kristanto menyampaikan, harus bangga menjadi anak desa. Tidak boleh malu, pasalnya desa merupakan awal berjalannya suatu pemerintahan. “Bangga jadi anak desa! Karena seni dan budaya kabupaten Situbondo berawal dari desa,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Banyuputih Juharto menyatakan, mendukung penuh kegiatan itu. Karena, baru pertama kali ini diadakan festival untuk seni budaya khas desa. Desa yang unjuk kebolehan diantaranya Desa Kumbangsari, Trebungan, Olean, Patemon, Lamongan, Pasir Putih, Pokaan, Widoro Payung, Alas Malang, Asembagus dan Desa Kotakan.

“Meskipun baru 14 desa yang ikut, saya harap semoga event ini bisa menarik minat kepala desa yang lain untuk membranding daerahnya dengan seni budaya khasnya,” ulas Ketua Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia cabang Situbondo itu.

Dikatakan, pemenang festival akan mendapatkan penghargaan atas kreasi dan inovasinya dalam menampilkan seni budaya. Dia berharap penghargaan itu berupa ditampilkannya seni dan budaya pemenang di kegiatan-kegiatan pemerintah. “Karena, hal itu yang akan memancing para kepala desa lainnya saling berlomba-lomba mengemas kekhasan daerahnya dengan baik,” pungkasnya.

Masing-masing desa mempertontonkan adegan kesenian berbeda. Desa Olean menampilkan atraksi pencak silat Rangong Dema. Rangong Dema mitos yang dipercayai masyarakat Olean hingga kini, bahwa ada sejenis Belut raksasa yang memiliki telinga. Belut raksasa ini akan memperlihatkan wujudnya secara tiba-tiba di sepanjang sungai Majapahit yang terletak di antara Desa Olean tengah dan selatan.

Bupati Dadang Wigiarto, Wakil Bupati Yoyok Mulyadi, Sekretaris Daerah Syaifullah, Ketua Dewan Kesenian Situbondo (DKS) Edy Supriono, turut hadir dalam event itu. Mereka sangat mendukung kegiatan tersebut. Bahkan Bupati Dadang menjanjikan untuk dibuat acara yang lebih besar lagi, apabila para perangkat dan masyarakat desa bersungguh-sungguh untuk membranding seni khas yang ada di daerahnya. (ist)

Add Comment