Babat, Kota Tua Peninggalan Era Kolonial

foto
Bangunan bersejarah di Kecamatan Babat, Kab Lamongan. /Foto: Detik.com/Eko Sudjarwo.

Jejak kolonial bisa dirasakan di Lamongan, dengan beberapa bangunan peninggalannya. Sayangnya, sejumlah bangunan kuno peninggalan penjajah itu hampir roboh atau rusak karena kurang terawat.

Pemerhati budaya, Supriyo mengatakan, sejumlah bangunan kuno yang hingga saat ini masih berdiri di daerah Kecamatan Babat, di antaranya gedung bekas markas CTN (Corps Tjadangan Nasional), Rumah Bekas Koramil Babat, Gedung Garuda, Kantor Polsek Babat, Stasiun Babat, Jembatan Cincim, Rumah Panggung milik PT KAI.

“Ada juga beberapa bangunan kolonial lainnya yang sudah menjadi hak milik swasta atau pribadi,” terang Priyo kepada Detikcom, akhir pekan lalu.

Supriyo menerangkan, bangunan-bangunan itu mempunyai riwayat dan sejarah masing-masing. Gedung CTN misalnya, dimungkinkan adalah bangunan peninggalan Belanda yang pernah digunakan sebagai kantor kawedanan dan kemudian digunakan sebagai markas CTN pada tahun 1950-an.

Di depan bekas markas CTN, lanjut Priyo, yakni markas Polsek Babat adalah juga bangunan peninggalan Belanda yang masih terawat dan terjaga dengan baik, karena masih ditempati.

“Menurut rekam sejarahnya, gedung ini dulunya adalah sebuah bangunan Rumah Sakit milik Marbrig (Mariniers Brigade atau Koninklijk Nederlandse Marine Korps, red). Gedung ini juga menjadi saksi bisu Agresi Militer Belanda I dan II,” terang Priyo yang juga mengungkapkan setelah Agresi Militer Belanda berakhir, bangunan ini difungsikan menjadi kantor polisi dan asrama polisi pada sekitar tahun 1950-an.

Selain dua bangunan ini, lanjut Priyo, Babat juga mempunyai bangunan kolonial lainnya yang unik, seperti pada bangunan gudang yang ada di Pasar Babat. Gedung bekas gudang beras atau sembako di zaman kolonial ini, kata Priyo, pada bagian atas bangunannya terdapat logo Bintang Daud atau David Star yang mirip dengan Bendera Israel.

Priyo mengungkap, banyak bangunan peninggalan era kolonial ini sudah dalam kondisi tidak terawat, seperti bangunan bekas markas CTN yang sudah hampir roboh karena tak terawat. Bahkan, aku Priyo, bangunan-bangunan era kolonial di Babat ada yang sudah beralih status menjadi milik pribadi atau swasta.

“Yang status kepemilikannya sudah menjadi hak milik swasta maupun pribadi, masuk dalam kategori rawan punah. Pasalnya, bangunan ini mudah diperjualbelikan untuk kepentingan bisnis,” ungkapnya.

Pemerintah, kata Priyo, harus segera mengambil langkah tegas untuk penyelamatan dan perlindungan cagar budaya. Bisa dengan melakukan kajian serta pendataan dan selanjutnya ditindaklanjuti dengan penetapan cagar budaya oleh pemerintah daerah.

“Penetapan cagar budaya juga harus disertai dengan pemberian bantuan biaya perawatan, perbaikan, serta dukungan tenaga ahli agar pemilik bangunan tidak merasa keberatan dan terbebani, sehingga mereka tidak akan pernah mempunyai pikiran untuk menjualnya atau merobohkannya,” harapnya.

Sementara Kepala Seksi Museum Sejarah dan Purbakala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Lamongan, Muhammad Alamudin dihubungi terpisah mengatakan, pihaknya akan mempelajari mengenai rumah-rumah peninggalan era kolonial ini. “Kami menerima laporan tersebut dan masih akan mempelajari untuk mencari jalan terbaik,” jelasnya. (dtc)

Add Comment