Tur Jawa Siswa Sukra, Kelompok Gamelan asal Inggris

foto
Siswa Sukra sempat grogi saat main dihadapan para dosen ISI Surakarta. Foto: Jawapos.com.

Kombinasi tabuhan kendang, petikan siter, gesekan rebab, dan pukulan gong berpadu. Ditingkahi suara sinden yang melengking lembut. Menghanyutkan para penonton di Pendopo Agung ISI Surakarta pada beberapa waktu lalu. Tidak kurang dari seratus hadirin yang terdiri atas dosen, mahasiswa, dan warga sekitar memberikan aplaus meriah tiap kali satu repertoar selesai.

Padahal, di belakang panggung, para pemain sebenarnya mengaku grogi. ”Soalnya, ini tampil dihadapan para dosen ISI Surakarta, para ahlinya. Takut-takut ada yang salah, hehehe,” kata Peter Smith, pemimpin Siswa Sukra, kelompok yang bermain pada malam itu.

Siswa Sukra seperti dilaporkan Jawapos.com adalah kelompok gamelan asal Inggris. Mereka yang berada di belakang kendang, siter, rebab, bonang, saron, dan gong itu adalah para bule yang berasal dari berbagai negara. Dari berbagai latar belakang.

Malam itu mereka bertransformasi jadi Jawa tulen. Para pemain pria mengenakan kain, beskap dan blangkon. Sedangkan para pemain perempuannya tampil cantik dengan kain dan kebaya jumputan. Tidak ketinggalan sanggul berhias kembang melati. Sang Sinden, Cathy Eastburn, terlihat agak berbeda dengan kebaya brokat berwarna toska.

Sejak 5 Agustus lalu, Siswa Sukra menjalani tur Jawa mereka. Penampilan di Pendopo Agung malam lalu menjadi penampilan penutup tur mereka.

Pada malam itu, mereka juga mengiringi penampilan beberapa tarian. Di antaranya Tari Srimpi Sangupati yang dibawakan Komunitas Langen Mataya. Juga, Tari Gambyong Pareanom yang dibawakan Komunitas Langen Mataya serta Tari Driasmara yang dibawakan pasangan Dona Dhian Ginanjar dan Andreatiningsih.

“Ini pangggung terbesar yang pernah kami jajal. Bayangkan saja, kami sekelompok pemain gamelan amatir pentas di panggung sebesar ini,” tutur Peter dalam bahasa Inggris yang sesekali ditimpali bahasa Jawa.

Sehari-hari, di antara para pemain Suara Sukra, ada yang berprofesi guru SD, ahli hukum, dan ahli marketing hingga ibu rumah tangga dan kuli di gudang bir.

Sebagian di antara mereka berasal dari Kanada dan Amerika Serikat. Tapi, mayoritas anggota kelompok yang bermarkas di Southbank Center London tersebut berasal dari Inggris.

Adalah Peter yang mempersatukan mereka. Melatih mereka dan membawa mereka tur ke kampung halaman gamelan.

Semua berawal sekitar 30 tahun lalu. Kala itu, dia masih berstatus mahasiswa Universitas York. Seorang profesor di tempatnya kuliah mendapat kiriman satu set gamelan.

Peter lalu menawarkan bantuan untuk membuka paket paket tersebut. Saat melihat isinya, dia seolah menemukan harta karun. Satu per satu paket dibukanya. Semakin banyak paket yang sudah terbuka, Peter semakin terpesona.

Kilauan warna emas pada gamelan membuat Peter tersihir. Ukiran kayu mewah nan cantik makin membuat dia tertarik. Ukiran naga yang gagah membuat Peter melayang dalam angannya.

”Ini seperti masuk ke gua naga dimana ema-semas tersimpan. Cantik sekali. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama,” ungkap pria asal Oxford, Inggris itu.

Kekaguman Peter tidak berhenti sampai di situ. Begitu mendengar suaranya, Peter makin tersihir. Menurut dia, suara yang dihasilkan gamelan itu aneh. Tidak familiar di telinganya. Tapi, hal tersebut justru terdengar indah. “Saya seperti dirangkul suara itu. Saya merasakannya masuk ke tubuh saya,” cerita Peter.

“Saat mendengar suaranya, saya seperti berenang di danau pekat yang berisi suara-suara gamelan. Suling, siter, sinden dan yang lain,” tambahnya.

Hal lain yang membuat Peter begitu tertarik pada gamelan adalah cara memainkannya. Peter seorang pianis. Tanpa adanya instrumen musik lain, piano bisa berjalan sendiri. Sementara itu, instrumen gamelan tidak bisa. Gamelan harus dimainkan secara berkelompok.

”Gamelan itu tentang bagaimana kamu berada di dalam sebuah grup. Ini sangat penting,” tegasnya.

Semenjak itu, Peter bertekad mendalami gamelan. Pada 1992, dia mendapat beasiswa Darmasiswa untuk belajar gamelan di ISI Surakarta.

Awalnya dia hanya ingin setahun di Solo. Tapi malah molor hingga tiga tahun lamanya. Selama tinggal di Surakarta, Peter tak hanya belajar gamelan. Dia juga belajar bahasa Jawa. Dari sana pula dia mendapat panggilan Mas Parto.

”Saya hanya berbicara deugan bahasa lnggris dan bahasa Jawa. Tapi tidak bisa bahasa lndonesia, hanya sedikit-sedikit,” ungkap Peter yang sesekali mengeluarkan celetukan dalam bahasa Jawa.

Setelah kembali ke Inggris, Peter memperkenalkan gamelan ke masyarakat di sana. Dia juga mengajar kelas gamelan advance di Soothbank Center. Kelas yang dibuka setiap Kamis malam itulah yang kemudian menjadi Siswa Sukra.

Dari sana pula nama Siswa Sukra berasal. Sukra diambil dari bahasa Jawa yang berarti Jumat. Nakna bebasnya ”malam Jumuah” yang merupakan waktu berlatih mereka.

”Awalnya tidak ada nama. Tapi, kepikiran golek judul rombongan opo, nama yang kami pakai untuk pentas,” ungkap Peter.

Menjalani tur Jawa merupakan tantangan terbesar mereka. Kendati mereka sudah berlatih secara rutin di London, tetap saja ada faktor yang membuat mereka sulit bermain sempurna disini.

Salah satunya adalah faktor cuaca yang membuat mereka cepat kelelahan dan kehilangan konsentrasi. Maklum, temperatur di sini jauh lebih tinggi daripada di Inggris.

Disana, mereka bisa melakukan banyak kegiatan dalam sehari tanpa merasa kelelahan. Tapi, disini sebaliknya. Baru sebentar saja berkegiatan, tubuh rasanya sudah capek.

Sebelum pentas di Pendopo Agung, Siswa Sukra melakukan beberapa kali pertunjukan. Misalnya, di Museum Wayang Jakarta (6/8) dan Festival Kesenian Jogjakarta (9/8).

Para personel Siswa Sukra juga mengikuti beberapa kelas dari dosen di ISI Surakarta. Mereka sempat pula mampir ke Desa Wirun dan Desa Jatitekan di Sukoharjo.

Dua desa tersebut dikenal sebagai pusat pembuatan gamelan. Gamelan dari desa itu juga banyak diekspor ke luar negeri. Salah satunya ke Inggris, negara asal para anggota Siswa Sukra.

”Saya ingin mengajak mereka (para pemain gamelan) menyaksikan sendiri bagaimana gamelan yang mereka mainkan di Inggris dibuat,” ujar Peter.

Disana, Siswa Sukra juga sempat melakukan pertunjukan singkat. Peter menuturkan, dirinya ingin menunjukkan kepada para perajin gamelan bahwa gamelan karya mereka diapresiasi baik di luar negeri.

Siswa Sukra ikut pula meramaikan car free day pada Minggu (20/8) lalu. Penampilan bule pala pemain Siswa Sukra cukup membuat warga yang datang ke CFD penasaran. Tidak sedikit juga yang meminta foto bersama Siswa Sukra. ”Penontone okeh banget,” ujar Peter.

Selain penampilan fisiknya yang tidak seperti orang Jawa, cara bermain Siswa Sukra agak berbeda dari kelompok gamelan pada umumnya. Setiap selesai memainkan repertoar, mereka sibuk berpindah posisi.

Dari satu instrumen ke instrumen lain. Menurut Peter, hal tersebut memang jadi kekhasan kelompok yang dipimpinnya.

Sebenarnya, kekhasan itu bukan sesuatu yang disengaja_ Di Siswa Sukra, dan kebanyakan kelompok gamelan di Inggris, setiap orang punya keinginan untuk bisa memainkan beragam instrumen. Mereka tidak puas hanya dengan bisa memainkan satu instrumen.

“Aku durung ngerti iki, aku pindah nang iki. Itulah orang Inggris. Kami ingin mempelajari setiap instrumen,” ungkap Peter.

Namun, hal tersebut jadi agak susah dilakukan saat mereka melakoni pentas di Jawa. Terutama saat mereka tampil dengan menggunakan busana Jawa lengkap seperti pada pentas malam itu.

”Angel nganggo kejawen (baju adat Jawa, Red) pindah-pindah,” tutur Peter lalu tertawa.

Dia menyatakan, yang dilakukan kelompoknya tesebut memang tidak lazim di Indonesia. Di sini, satu pemain biasanya akan terus memainkan instrumen yang sama. Karena itu juga, hampir di setiap pentas yang mereka lakukan, selalu ada yang mengomentari hal tersebut.

”Ini apa pindah-pindah? Yang seperti ini yang memang tidak ada di Jawa,” tutur Peter.

Meski demikian, tur Jawa tetap sangat berkesan bagi Siswa Sukra. Selain ilmu baru tentang gamelan dan pengalaman pentas, mereka jadi punya kesempatan mencicipi beragam kuliner Nusantara meski sebenarnya kurang cocok di lidah.

“Bagi orang Inggris, (masakan) pedas itu sulit, begitu juga dengan masakan manis. Padahal, di Solo ini eneke pedes karo legi thok, hehehe,” cerita Peter. (jpg)

Add Comment