Promosikan Tarian Dhangga Pamekasan di Layar Lebar

foto
Dhangga dari kata ‘atangdheng ma ghagha’ atau menari dengan gagah. Foto: Matamaduranews.com.

Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) Pamekasan, Jawa Timur mempromosikan kesenian tradisional khas di wilayah itu yakni tari “dhangga”, melalui film layar lebar berjudul ‘Perempuan Berselimut Angin’.

“Kami sengaja mengangkat seni tradisional asli Pamekasan sebagai instrumen musik dan latar di film layar lebar yang kami garap, karena tari dhangga karena merupakan seni budaya khas Pamekasan,” kata Ketua Parfi Pamekasan Yoyok R Efendi kepada Antaranews.com di Pamekasan.

Nama dhangga berasal dari kata ‘atangdheng ma ghagha’ atau menari dengan gagah dan jenis tarian ini hanya ada di Desa Pademawu, Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Musik tari dhangga bukan gamelan, ataupun sejenis musik tabuhan lainnya, melainkan dari mulut.

Tarian ini belum diketahui pencetusnya dan kapan dicetuskan, namun yang jelas berasal dari Malangan, Pademawu Timur, Pamekasan. Tarian tersebut tidak terlepas dari kehidupan masyarakat Pademawu yang secara geografis terletak di pesisir pantai yang mayoritas mata pencahariannya sebagai pelaut.

Begitu juga dengan tari dhangga yang menggambarkan kehidupan pelaut mulai dari proses persiapan melaut, meliputi mendorong pelahu ke laut, mendayung sekaligus mengendalikan ke tempat tujuan dan akhirnya kembali ke tepi pantai.

Sedangkan jumlah personel yang dibutuhkan adalah sembilan atau sepuluh penari. Ditambah properti perahu mainan dan delapan buah dayung yang dipegang oleh masing masing penarinya, dengan posisi satu orang di depan sebagai pemimpin, empat orang di kanan perahu dan empat orang di kiri perahu.

Menurut Yoyok R Efendi, selain musik tradisional dhangga jenis kesenian tradisional lainnya yang juga akan diperkenal di film layar lebar berjuluk ‘Perempuan Berselimut Angin’ itu adalah sejumlah objek wisata di Kabupaten Pamekasan yang menjadi ciri khas atau potensi lokal Pamekasan.

“Ada pantai Jumiang, objek wisata Api Tak Kunjung Padam, serta sejumlah objek wisata lainnya yang ada di Pamekasan dan menjadi pusat ekonomi rakyat Pamekasan,” ujar Yoyok.

Khusus untuk pasir batik, menurut Yoyok, yang akan menjadi bidikan Parfi pada film ‘Perempuan Berselimut Angin’ itu adalah “Pasar Batik 17 Agustus di Kalurahan Bugih” Pamekasan.

Film ‘Perempuan Berslimut Angin’ yang dianggarkan menelan dana Rp 3 miliar ini, mengangkat kisah kemandirian perempuan Madura yang ditinggal suaminya merantau ke Malaysia. Film dengan sutradara tim Kreatif Parfi Pamekasan mulai melakukan pengambilan di Pamekasan pada pertengahan September 2017.

Menurut Yoyok, film ini murni dari dana swasta dan tidak ada sumbangan dari Pemkab Pamekasan, kendatipun misi film untuk membantu mempromosikan potensi wisata dan budaya Pamekasan untuk kemajuan ekonomi masyarakat. “Teman-teman berkomitmen, pengabdian kami untuk Pamekasan melalui pembuatan film layar lebar ini,” jelasnya. (ant)

Add Comment