Demi Mendapat Emas, Prasasti Kuno Dirusak

foto
Prasasti Kusambyan terletak di jalan setapak. Foto: Komunitas Tapak Jejak Kerajaan.

Bagian atas sebuah prasasti batu tampak tidak utuh lagi. Pecah berkeping-keping. Namun pecahan-pecahan besarnya masih bisa dikumpulkan. Hanya bagian-bagian kecil, mungkin sudah hilang. Saat ini pecahan-pecahan tersebut diletakkan di atas bagian yang masih utuh.

Begitulah kondisi sebuah prasasti batu yang terletak di Dusun Grogol, Desa Katemas, Kecamatan Kudu, Jombang. Prasasti Kusambyan, demikian namanya, sempat dikunjungi oleh Komunitas Tapak Jejak Kerajaan dari Sidoarjo. Komunitas ini memang rajin blusukan, termasuk menyelenggarakan Sinau Aksara Jawa Kuno.

Bagian atas prasasti pecah menjadi sembilan bagian karena ulah seseorang. Konon ia mendapat wangsit bahwa di dalam batu prasasti terdapat emas. Untuk mendapatkan emas, maka ia memecahkan prasasti tersebut sedikit demi sedikit. Rupanya yang bersangkutan tidak memakai nalar. Akibatnya peninggalan kuno tersebut rusak parah hingga sekarang. Demi mendapatkan emas, prasasti kuno dirusak.

Mengapa prasasti itu bisa dirusak? Mungkin karena terletak di alam terbuka. Sejak penemuan pertamanya, prasasti ini berada di kebun Bapak Wadiso. Dalam istilah arkeologi, prasasti ini insitu, atau di tempat aslinya. Saat dikunjungi tim komunitas, tampak kondisi prasasti mengkhawatirkan. Karena terletak di alam terbuka, prasasti ini selalu berganti-ganti menerima terpaan panas dan hujan, bahkan angin. Beberapa bagian prasasti tampak sudah berlumut.

Prasasti Kusambyan terpahatkan pada batu andesit. Pada bagian bawah terdapat sebuah lapik berpadma ganda. Prasasti ini beraksara dan berbahasa Kawi atau Jawa Kuno. Aksara-aksara kuno itu terdapat pada keempat sisinya.

Prasasti Kusambyan disebut juga Prasasti Grogol. Menurut Ninie Susanti dalam bukunya Airlangga, Biografi Raja Pembaru Jawa Abad XI (2010), prasasti ini dikeluarkan pada 959 Saka atau 1037 Masehi, berasal dari masa Raja Airlangga.

Soal mengapa diberi nama Kusambyan, ada beberapa patokan dalam arkeologi. Di antaranya berdasarkan nama tempat yang disebutkan dalam prasasti atau nama tempat penemuan prasasti tersebut. Pada prasasti ini disebutkan wilayah bernama Kusambyan (karaman i Kusambyan) yang dijadikan sima (tanah yang dicagarkan) oleh Sri Maharaja. Jadilah nama Kusambyan.

Yang menarik dari isi prasasti ini adalah disebutkannya nama tokoh Rahyang Iwak. Nama tokoh ini disebutkan berulang-ulang pada bagian depan prasasti. Tampaknya Rahyang Iwak merupakan tokoh yang sangat berpengaruh di Kusambyan.

Menurut penelitian Ninie Susanti, Raja Airlangga banyak mengeluarkan prasasti batu. Mungkin hal itu dimaksudkan untuk menegaskan daerah kekuasaan. Prasasti Raja Airlangga tersebar di beberapa tempat. Diperkirakan Desa Kesamben, berasal dari toponimi Kusambyan, merupakan rute perjalanan Raja Airlangga.

Saat ini kemungkinan besar masih banyak prasasti kuno belum ditemukan. Bisa jadi terpendam di dalam tanah atau tertutup hutan belukar. Sebagian, karena ketidaktahuan masyarakat, malah ada yang sudah dihancurkan. Dalam arkeologi prasasti merupakan sumber sejarah kuno bertanggal mutlak. Dengan demikian bisa untuk menanggali temuan-temuan arkeologis lain.

Semoga untuk masa sekarang dan masa kemudian, masyarakat tidak merasa aneh lagi dengan temuan batu-batu besar yang unik. Mungkin itu prasasti atau bahasa awamnya batu tertulis. Nah, laporkanlah pada instansi terdekat, seperti kantor kepolisian, kantor kepala desa, kantor dinas kebudayaan, atau kantor purbakala/arkeologi terdekat. Ini untuk memperkaya penulisan sejarah kejayaan Nusantara. (ist/Djulianto Susantio)

Add Comment