Kelir 120 Meter di Ngawi Pecahkan Rekor Muri

foto
115 dalang cilik memecahkan rekor saat tampil bersama pada pergelaran wayang di Ngawi. Foto: Satriyo JW/Jawapos.com.

Bumi Orek-Orek –julukan Kabupaten Ngawi– kembali mencatatkan namanya di Museum Rekor-Dunia Indonesia (Muri). Sebanyak 115 dalang wayang kulit bocah berduet dengan 30 sinden yang masih anak-anak tampil bersama di Alun-Alun Merdeka Ngawi.

Nampak ratusan dalang cilik duduk berjejer menghadap layar putih sepanjang seratusan meter. Mereka terdiri dari dalang laki-laki dan perempuan yang rata-rata masih duduk di bangku SD.

Sambil melihat layar, tangan para dalang ini memegang satu buah wayang kulit. Selain penampilan 115 dalang cilik ini, Pemerintah Kabupaten Ngawi menyajikan tontonan seni tari yang disaksikan ribuan penonton. Salah satu seni tari yang dimainkan adalah tari bulus.

Pemkab Ngawi berhasil mematenkan daerah tersebut sebagai pemrakarsa pergelaran wayang kulit (dalang bocah) dengan kelir terpanjang. “Panjangnya mencapai 120 meter,” ungkap Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Ngawi Yulianto Kusprasetyo.

Yulianto Kusprasetyo mengatakan, kegiatan itu untuk mensukseskan Ngawi Visit 2017. Selain itu kegiatan ini diharapkan dapat memberikan ruang kepada seniman remaja dan anak untuk mengembangkan kreativitasnya di bidang kesenian.

“Kami ingin tunjukkan Ngawi kreatif dan produktif serta mampu menampilkan pagelaran kolosal,” tutur Yulianto. Tak hanya dalang cilik, acara ini diramaikan Festival Dalang Remaja Nasional yang diikuti 12 kabupaten/kota.

Wakil Bupati Ngawi, Ony Anwar mengatakan, pagelaran ini memecahkan rekor Muri sebelumnya yang dipegang Pemkot Solo. Pemecahan rekor Muri ini juga kado ulang tahun Ngawi ke-659.

“Lewat acara ini kami mengukuhkan Ngawi kota pusaka dan budaya sebagai barometer di Jawa Timur. Dengan demikian bisa jadi contoh kabupaten lain,” jelas Ony.

Bagi Ony, menumbuhkembangkan pewayangan mengajarkan pendidikan karakter pada anak sejak dini. Pasalnya, anak akan belajar berbagai karakter tokoh-tokoh pewayangan.

Sementara itu Kepala SDN Kedungharjo II Mantingan Ngawi, Erwanto mengatakan, pagelaran dalang cilik akan membantu mengembangkan seni pewayangan agar tidak punah.

Tak hanya itu, pagelaran dan festival akan menumbuhkan minat anak terhadap pewayangan sejak dini. “Dua anak didik saya, Farel dan Roby ikut pagelaran ini meski baru empat bulan berlatih. Mereka sangat semangat berlatih karena menyenangi seni pewayangan,” tutupnya. (ist)

Add Comment