Pembuat Keris yang Bukan Keturunan Empu

foto
Hadi Sunaryo saat membakar besi yang akan dibuat keris di rumahnya. Foto: Jawapos.com/Zaki Jazai.

Terdengar suara nyaring pukulan besi di Kelurahan Tamanan, Kecamatan Trenggalek. Setelah mendengar dengan saksama, bunyi nyaring pukulan besi itu berasal dari salah satu rumah di kelurahan tersebut.

Ternyata suara berasal dari tempaan besi yang dilakukan Hadi Sunaryo, seorang empu. Saat itu dia menyelesaikan sebilah keris untuk dijual.

Sebab, pada bulan Muharam penanggalan Islam atau bulan Sura pada penanggalan Jawa, banyak orang membeli keris untuk berbagai keperluan. Karena itu, sang empu harus segera menyelesaikan pembuatan keris tersebut.

“Sebenarnya sebelum Sura ini saya telah menyelesaikan banyak sekali pesanan keris. Sedangkan ini adalah keris untuk diperdagangkan, bukan dari pesanan,” ungkap Hadi seperti dikutip Jawapos.com.

Setelah menyelesaikan sebilah keris itu, pria yang dikenal dengan nama Aryo Pulanggeni oleh para pencinta pusaka di Trenggalek itu mulai bercerita hingga dirinya menjadi seorang empu.

Sebenarnya menjadi empu itu di luar dugaan karena dia tidak memiliki garis keturunan seorang empu, dari sang ayah maupun sang kakek. Almarhum sang ayah seorang pedagang keris saja.

“Karena almarhum ayah pedagang keris, sejak kecil saya mengenal barang dagangan itu hingga secara berangsur suka mengoleksi,” kata Hadi.

Sejak itulah secara berangsurangsur dia senang dengan keris dan mempelajari makna yang terkandung di dalamnya. Sebab, lanjut Hadi, selain senjata, keris merupakan pusaka peninggalan yang harus dilestarikan agar tidak punah seiring dengan perkembangan zaman.

Jadi, proses pembelajaran tersebut dilakukan berdasar sisi seni yang terkandung di dalamnya hingga sisi batin. Pada 2004, dari teman paguyuban pencinta pusaka, dia mengenal seorang empu dari Madura. Sejak saat itulah, dia terus menekuni cara pembuatan keris hingga layak disuguhkan ke masyarakat.

Bukan hanya itu. Karena keinginan yang kuat, dia mencari ilmu dari empu daerah lain, misalnya Magetan, Solo, dan Jogjakarta. Setelah mendapat ilmu pada 2008, dia mulai memberanikan diri membuat keris sendiri di rumahnya.

“Pada beberapa tahun pertama pembuatan, saya melakukannya dengan sembunyi-sembunyi agar tidak banyak tetangga yang tahu. Sebab, saat itu keris masih dianggap sebagai benda yang tabu,” imbuh pria 40 tahun itu.

Namun, hal itu tidak melunturkan semangatnya. Sebab, bersama paguyuban keris yang diikutinya, dia mulai memperkenalkan bahwa keris merupakan pusaka warisan nenek moyang, tidak ada hal aneh menyelimutinya, dan yang paling penting tidak ada pelanggaran agama ketika membuat maupun memilikinya.

Oleh karena itu, pembuatan keris selalu diiringi doa-doa dari sang empu untuk calon pemilik. Tentu doa tersebut merupakan doa yang baik bagi calon pemilik dengan harapan pemilik bisa memegang amanah yang ditunjukkan dalamnya dan selalu menjalankan perintah Tuhan Yang Maha Esa.

Pembuatan keris tidak bisa dilakukan begitu saja. Sebab, bahannya adalah besi pilihan agar kualitas keris terjaga. Pemilihan juga dilakukan pada arang yang digunakan untuk membakar besi sebelum ditempa.

Pada pembakaran dan penempaan tersebut, bagian besi yang jelek akan langsung terkelupas. Dengan demikian, bahan baku seberat dua kilogram hanya menghasilkan keris seberat sekitar setengah kilogram.

Sedangkan tata cara pembuatan keris dimulai dari bahan baku yang didapat dimasukkan dalam tungku api dengan suhu di atas 1.000 derajat Celsius. Setelah itu, jika besi selanjutnya ditempa berkali-kali untuk membentuk pola keris, misalnya bentuk dan lekukannya. Pembakaran sebelum penempaan wajib dilakukan agar serat besi berjalan mengikuti pola keris yang dibentuk.

Biasanya sebilah keris dibuat tiga hari hingga tiga minggu. Sebab, dia tidak asal-alasan dalam membuat keris, melainkan juga menjaga mutu.

“Sebenarnya sehari bisa membuat dua keris. Tetapi, dipastikan bentuknya asal-asalan dan teksturnya tidak halus. Saya tidak mau itu,” ucap bapak dua anak itu.

Sebilah keris buatan Hadi dihargai Rp 650 ribu hingga Rp 4 juta. Perbedaan harga tersebut ditentukan dari kualitas keris yang dihasilkan. Di antaranya, hiasan dan kesulitan dalam membuat.

Kualitas keris buatan Hadi sudah diakui pencinta dari luar daerah. Buktinya, banyak pencinta dari Solo dan Jogjakarta secara rutin memesan keris buatannya. “Karena keterbatasan tenaga dan peralatan, pembuatan keris tidak bisa dilakukan dengan jumlah yang banyak,” jelas suami Tutik ini. (jpg)

Add Comment