Festival Kawitan Padukan Modernitas dan Etnik

foto
Kolaborasi jazz dengan musik patrol di Festival Kawitan. Foto: Banyuwangikab.go.id.

Berbagai festival yang digelar Banyuwangi telah memunculkan gairah masyarakat untuk mengangkat potensi yang dimilikinya. Salah satunya warga Kampung Temenggungan Banyuwangi, yang menggelar Festival Kampung Wisata Temenggungan (Kawitan) di depan Pendopo Sabha Swagata.

Pada even yang digelar sepanjang 30 jam lebih itu, warga setempat menampilkan beragam atraksi. Mulai kesenian tradisional hingga konser jazz yang dikolaborasi dengan alat musik patrol yang dimainkan apik oleh musisi nasional maupun international.

Irama musik jazz yang rancak mengalun di atas panggung Festival Kawitan Temenggungan. Perpaduan suara musik tradisional dari permainan alat musik terbuat dari bambu ini berpadu apik dengan alat musik modern.

Ditambah tiupan seruling dan tabuhan perkusi yang dimainkan Aron Djembe Fola, musisi asal Amerika Serikat membuat sajian musik jazz yang disajikan begitu unik dan memikat. Lagu khas daerah seperti Kelangan, Langit Lan Bumi, Lir Pedhote Banyu yang dibawakan oleh penyanyi lokal tampil dengan nuansa yang berbeda.

“Kami sangat bangga warga Temenggungan bisa menggelar festival yang mengangkat potensi lokalnya. Semoga Temenggungan akan menjadi destinasi wisata yang semakin dikenal apalagi lokasinya di kota sangat cocok untuk jadi bagian wisata city tour di Kota Banyuwangi,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, secara terpisah.

Tidak hanya Jazz Patrol, warga Temenggungan juga menampilkan drama teatrikal Sritanjung dan Sidopekso yang merupakan cerita legenda Asal mula Banyuwangi. Anak anak muda membawakan kisah asal mula Banyuwangi itu secara apik. Festival juga menampilkan Tari Gandrung dan permainan musik solo dari Ali Gardy yang membawakan alat musik etnik dawai khas Dayak.

Temenggungan merupakan salah satu kampung di Kota Banyuwangi yang dulunya kampung pertama yang dibangun saat pusat pemerintahan Kadipaten Blambangan dipindahkan dari Ulupampang, Muncar pada era Bupati Mas Alit tahun 1774.

Pendopo Kabupaten Banyuwangi dulunya Keraton Kadipaten Blambangan. Dan kampung Temenggungan merupakan area pendukung sebagai tempat bermukim bagi para pejabat (Tumenggung) pemerintahan maupun pengurus rumah tangga pendopo kabupaten.

Potensi wisata spiritual di Temenggungan berupa sumur Sri Tanjung, dipercaya menjadi cikal bakal munculnya nama Banyuwangi. Konon sumur ini memiliki air yang wangi pada saat-saat tertentu. Dan air dari sumur ini dipercaya bisa membuat awet muda.

Potensi seni budaya yang ada seperti pusat kerajinan batik bermotif Gajah Oling juga menjadi ciri khas, di samping kesenian tradisional seperti gamelan, barong Osing, kuntulan, musik patrol dan lain-lain.

Sementara Jazz Patrol masih terus berlanjut meski malam semakin larut. Masyarakat Banyuwangi dan para wisatawan tidak beranjak dari lokasi acara.

Salah satu penonton yang juga wisatawan asal Amerika, Stephen Tranghese mengatakan dirinya sangat senang berkesempatan menonton Festival Kawitan ini.

“Kolaborasi musik etnis yang rancak dipadu dengan musik modernnya menghasilkan nuansa berbeda yang asyik untuk dinikmati. Saya sangat enjoy,” kata Tranghese. (dtc)

Add Comment