Mereka Saling Sabet Demi Turunnya Hujan

foto
Penari ujung berupaya saling menyabet punggung lawannya. Foto: Koran Jawa Pos.

Muali sudah menunggu kami di halaman Balai Desa Tarik. Kakek berusia 99 tahun itu duduk di dipan. Bersebelahan dengan sepeda kayuhnya. Begitu melihat kami memasuki gerbang balai desa, dia langsung menyapa dan bersalaman.

“Mulai jam empat (16.00 Red) saya di sini,” ujarnya kepada Koran Jawa Pos. Kami pun menceritakan hambatan yang membuat kami tiba di Balai Desa Tarik pukul 17.00. Padahal, jaraknya hanya sekitar 15 kilometer dari Bendungan Lengkong Baru, titik kami berangkat.

Mobil yang kami tumpangi harus berputar dua kali untuk mencari jalan alternatif menuju balai desa. Sebab, ada pesta pernikahan warga yang menutup jalan.

Dari balai desa, kami langsung menuju ke rumah Sudjari, 64, di RT 7, RW 2, Dusun Balongmacekan, Desa Tarik, Kecamatan Tarik. Kabupaten Sidoarjo. Muali sudah mengatur tempat untuk bertemu dengan seniman tari ujung.

Sudjari adalah koordinator Padepokan Tari Ujung Tarik. Menurut penuturan petugas kecamatan dan warga sebelumnya, hanya ada satu Padepokan Tari Ujung di Kecamatan Tarik. Nah, padepokan itulah yang kami datangi. Pembesarnya saat ini adalah Sudjari dan Muali.

Sudjari tidak sendiri saat kami jumpai di rumahnya. Ada Abas, 60, penari ujung lainnya. Kami sangat beruntung. Mereka berkenan menampilkan tari ujung. Seni tari itu mereka geluti sejak anak-anak. Sore itu Sudjari dan Abas yang tampil. Muali memilih istirahat di sekitar kediaman Sudjari.

Ikut menyimak
Langit mulai berwarna keemasan saat Sudjari dan Abas memperagakannya. Mengenakan celana panjang hitam dan udeng di kepala, masing-masing memegang kayu menjalin (rotan). Tarian tersebut dibuka dengan serangkaian gerakan. Lebih mirip gerakan melemaskan otototot. Terutama pada pergelangan tangan, bahu, dan pundak.

Sejurus kemudian, Sudjari mulai mencambukkan kayu menjalin itu pada Abas. Mereka berjibaku. Namun, Abas menangkisnya dengan memblokade pukulan tersebut. Dua kayu menjalin yang mereka pegang beradu. “Plas”. Terdengar suara yang nyaring.

Sesaat kemudian, giliran Abas yang memukul. Dia, tampaknya, mengincar bagian pundak Sudjari. Dengan gesitnya, Abas meloncat sembari mencambukkan kayu menjalin itu. Meski sudah berupaya menangkis cambukan itu dengan kayu menjalin-nya, Sudjari masih terkena.

Belasan kali mereka saling bergantian memukul. Pundak dan punggung keduanya sudah banyak balur yang memerah. Ketika terdengar lamat-lamat suara azan magrib, mereka menyudahi pertempuran itu.

Menurut Sudjari, untuk menampilkan tari ujung secara komplet, diperlukan beberapa persyaratan. Salah satunya, ada penengah atau wasit. Fungsinya membagi pukulan setiap penari. Jika satu penari selesai memukul, kesempatan memukul selanjutnya diberikan pada penari lain. Wasit pula yang membatasi jam menari.

Syarat berikutnya adalah hadirnya lebih dari dua penari. Idealnya, tari ujung dipertontonkan sekitar 15 menit. Para penari yang terlibat di dalamnya akan saling memukul. Tentu butuh waktu untuk istirahat sebelum kembali berjibaku.

Perlengkapan lainnya adalah iringan musik gamelan, beras kuning, kemenyan, dan pisang hijau. Gamelan akan memeriahkan suasana tari. Beras kuning mewakili harapan pada Yang Mahakuasa agar para penari dan masyarakat di sekitarnya makmur.

Kemenyan berfungsi untuk menghormati roh leluhur yang hadir menyaksikan pementasan tari tersebut. Sementara itu, pisang hijau berfungsi sebagai penghilang luka atau lecet pada kulit.

Muali merupakan mantan Kasun di era 80-an. Menurut dia, dulu banyak remaja yang mempraktikkan tradisi ujung. Kini hanya segelintir orang yang masih mau melakoninya. Dia mengetahui tari itu dari gurunya, sesepuh desa setempat. Bagi Muali, tradisi tersebut harus dilestarikan sekalipun ayah dan ibunya bukan penari ujung.

Menurut Sudjari, tarian itu dipentaskan sebagai bentuk pengharapan agar hujan turun. Meski Tarik dilewati Kali Porong, wilayah itu tidak sepanjang waktu cukup air. Adakalanya terjadi kemarau panjang. Pada saat itulah leluhur mereka akan menari ujung. Dengan begitu, sumur serta ladang akan teraliri banyak air.

Seiring berjalannya waktu, tari ujung juga menjadi sebuah kesenian. Para penarinya sering tampil dalam beberapa acara. Misalnya, peringatan HUT kemerdekaan atau menyambut tamu yang datang ke Tarik. Bahkan, kini mereka lebih sering menari dalam sebuah pementasan seni daripada menari sebagai upaya mendatangkan hujan.

Tidak setiap tahun mereka menari untuk mendatangkan hujan. Namun, permasalahan seriusnya adalah penerus. Tidak banyak anak muda di sekitar Tarik yang mau melanjutkan kesenian tersebut.

Dari empat anak Sudjari, hanya satu yang mau. Bahkan, keturunan Muali dan Abas memilih total di dunia usaha. Sudjari menuturkan, dirinya terakhir menari untuk mendatangkan hujan sekitar dua tahun lalu.

Saat itu terjadi kemarau panjang. Begitu panas. Orang-orang sekitar memintanya untuk menari dan mendatangkan hujan. “Langsung hujan hari ke-2 setelah menari,” kata petani itu. (jpg)

Add Comment