Jalan Kaki Keliling Kampung, Jaga Bulir Padi Keramat

foto
Ritual adat di Banyuwangi, ada peran kerbau dan petani. Foto: Detik.com.

Suasana Dusun Krajan, Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, pagi itu tidak seperti biasa. Seluruh sudut kampung itu dibanjiri ribuan manusia yang akan menyaksikan upacara adat yang rutin digelar setiap tahun saat Suro (dalam kalender Jawa).

Ribuan warga berlalu-lalang memenuhi hampir di setiap jalanan dan sudut dusun. Suasana pecah dan berubah menjadi riuh tatkala rombongan upacara ritual adat kebo-keboan mulai berjalan.

Kondisi jalan mulai basah dan dibanjiri air dari arah selokan. Puluhan pasang kerbau jadi-jadian (kebo-keboan) yang diperankan warga setempat tampak mengamuk dan terkendali. Mereka seolah mengamuk dan menyeruduk setiap penonton yang menyaksikan ritual adat tersebut.

Setelah gerombolan kebo-keboan berjalan, di belakangnya disusul kereta kencana yang diiringi puluhan petani laki-laki dan perempuan. Para petani laki-laki membawa cangkul dengan berpakaian serbahitam. Sedangkan petani perempuan menggendong wadah berisi tangkai padi yang sudah diikat.

Ikatan tangkai bulir padi itu dianggap sakral dan selalu ditunggu masyarakat untuk diperebutkan dalam setiap ritual kebo-keboan. ”Bulir padi ini harus dijaga, tidak boleh diambil sebelum benarbenar ditebar Dewi Sri,” ungkap Untung, 55, salah seorang pemeran petani kepada Koran Jawa Pos.

Masyarakat yang menyaksikan ritual adat tersebut tidak hanya datang dan menonton. Mereka mengharap berkah dalam ritual adat yang digelar setiap Suro itu.

Biasanya, bagi yang meyakini, mereka dipastikan akan menunggu waktu hingga ritual ngurit dan menyebar benih padi. Penonton harus rela belepotan lumpur hingga berkejar-kejaran dengan kebo-keboan demi mendapatkan bulir padi keramat.

Betapa tidak, bagi mereka yang meyakini, bulir padi tersebut akan mendatangkan keberkahan. Salah satunya jika bulir padi itu dicampur dengan bulir padi saat musim tanam. Hasil panen tanaman padi akan melimpah dan terhindar dari serangan hama penyakit.

”Kalau zaman dulu, di era 1980 sampai 1990, yang berebut bulir padi kebanyakan asli petani dari desa sekitar Alasmalang,” ujar Untung.

Perbedaannya, pada era 1980 hingga 1990, bulir padi yang diperebutkan adalah jenis padi unggul. Yakni, padi jenis Jawa Genjah Arum. Namun, karena saat ini varietas padi tersebut jarang ditemukan, jenisnya diganti dengan bulir padi berkualitas bagus dan unggul.

Bukan hanya bulir padi yang disemai pemeran Dewi Sri yang sakral dan kerap menjadi rebutan penonton dalam ritual adat kebo-keboan tersebut. Beras Kuning pitung tawar yang dibawa rombongan petani itu juga menjadi buruan penonton.

Beras kuning pitung tawar tersebut diyakini bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Tidak sedikit penonton yang menyaksikan langsung membawa wadah dan mengambil beras kuning pitung tawar tersebut. (jpg)

Add Comment